
Ketika kedua orang tuanya melarang untuk melepaskan cincinnya, Sevan mengangguk dan mengiyakan, meski terasa berat hatinya. Namun, mau bagaimana lagi, Sevan sendiri tidak bisa membela diri di hadapan kedua orang tuanya.
"Baiklah, terserah Ibu sama Bapak saja. Sevan tidak akan melepaskan cincinnya." Ucap Sevan, lalu mengembalikan minyak makan ke dapur.
"Serius nih?" tanya Yilan dengan senyum mengembang saat Sevan mengiyakan.
"Ya, buat kamu." Jawab Sevan dengan datar.
Yilan yang mendengarnya, pun tersenyum senang.
'Lumayan lah, bisa buat jaga-jaga nanti kalau aku di usir dari rumah ini sama dia. Aku 'kan bisa jual ini cincin. Meski uangku masih banyak, setidaknya aku bisa jadiin simpanan.' Batin Yilan sambil memperhatikan cincin yang terlihat mewah.
Setelah itu, Sevan masuk ke kamarnya. Sedangkan sang ayah memilih ke belakang rumah seperti biasa dengan aktivitasnya.
Ibunya yang khawatir soal Sevan yang telah patah hati, bergegas menemui putranya.
"Nak Yilan, kamu tidak perlu sungkan di rumah ini. Kalau kamu ingin sesuatu atau yang lainnya, kami tidak melarang." Ucap ibunya Sevan.
Yilan tersenyum dan mengangguk.
"Iya, Bu, terima kasih." Jawab Yilan dengan sopan.
"Ya udah ya, ibu mau temui Sevan dulu. Kalau kamu ingin istirahat, silakan." Ucapnya, Yilan mengangguk.
"Ya, Bu." Jawab Yilan.
Kemudian, ibunya Sevan segera menemui putranya yang berada di kamarnya. Karena pintu tidak di kunci, itu tandanya diperbolehkan untuk masuk ke kamar.
Sevan yang tengah disibukkan dengan laptopnya, ia memilih untuk fokus dengan tugas yang diembannya daripada memikirkan perempuan yang sudah memberinya luka dan kecewa.
Untuk menghilangkan rasa sakit dan kecewa karena sebuah pengkhianatan dari perempuan yang dicintainya itu, Sevan memilih untuk menyibukkan diri dengan tugasnya.
Tugas apa lagi kalau bukan perintah dari bosnya untuk mencari keberadaan seseorang yang tidak lain bosnya sendiri. Yang dilakukan Sevan kali ini yakni, dirinya tengah mengamati foto yang dikirim oleh bosnya.
Percaya atau tidaknya, Sevan begitu penasaran dengan sosok Yilan.
"Kamu sedang ngapain, Nak?" tanya sang ibu yang tengah mendekatinya.
__ADS_1
"Ibu. Ini, Sevan sedang- em- ngerjain tugas dari bos, Bu." Jawab Sevan gelagapan karena ada foto yang mirip dengan Yilan.
Meski namanya sama, tetap saja belum bisa percaya seratus persen. Dengan buru-buru, Sevan mematikan laptopnya.
Kemudian, ibunya menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
"Maafkan Ibu ya, Nak. Jika sebelumnya Ibu tidak berkata jujur sama kamu. Mungkin kamu dan Alia tidak berjodoh. Percayalah sama Ibu, akan ada perempuan yang jauh lebih baik dari Alia untuk kamu." Ucap ibunya yang berusaha untuk meyakinkan.
Sevan menoleh dan tersenyum kepada ibunya. Kemudian, Sevan mengangguk.
"Sevan percaya kok sama Ibu. Maafkan Sevan yang dari dulu tidak mau mempercayai Ibu sama Bapak. Sekarang Sevan sadar, jika Alia mungkin memang bukan jodohnya Sevan. Em- Sevan mau melanjutkan kerja dulu ya, Bu. Soalnya ada tugas dadakan dari bos. Jadi, Sevan harus bisa menyelesaikan secepat mungkin." Jawab Sevan beralasan, karena tidak mungkin juga jika dirinya menunjukkan apa yang sedang dikerjakan, pikirnya.
"Ya udah kalau gitu, Ibu juga mau ke rumah kakak kamu. Kasihan istrinya, ada keponakan kamu yang masih kecil. Kalau kamu ada waktu, kamu bisa datang ke rumah kakak kamu sama Yilan. Soalnya tidak mungkin juga kamu sama Yilan di rumah ini hanya berdua. Juga, kamu belum melapor sama pak RT. Jadi, kamu melapor dulu. Setelah itu, kamu boleh menyusul Ibu sama Bapak di rumahnya kakak kamu." Ucap ibunya, Sevan pun mengiyakan.
"Tapi nanti ya, Bu, agak sore berangkatnya." Jawab Sevan.
"Ya udah gak apa-apa, nanti makan siangnya kamu ajak Yilan ke warung makan. Ibu tidak sempat memasak." Ucap ibunya. Sevan pun mengangguk dan mengiyakan.
"Ya, Bu. Nanti kalau kerjaan Sevan sudah selesai, Sevan ajak Yilan pergi ke warung makan, sekalian berangkat ke rumah kakak." Jawab Sevan, ibunya pun mengiyakan.
"Jangan lupa kalau mau pergi, rumah harus di cek dulu, dan pintunya di kunci." Pesan ibunya sebelum berangkat.
Setelah berpamitan, ibunya Sevan segera bersiap-siap untuk berangkat. Selesai bersiap-siap, kedua orang tuanya Sevan siap untuk berangkat.
Sebelum berangkat, ibunya Sevan memanggil Yilan untuk berpamitan.
Saat pintu diketuk, Yilan pun membuka pintu kamarnya.
"Ibu. Ada apa, Bu?" tanya Yilan.
Tidak lupa si Yilan memperhatikan penampilan ibunya Sevan yang terlihat rapih.
"Ibu mau pergi ke rumahnya kakaknya Sevan, rumahnya di pegunungan. Nanti kamu bareng Sevan menyusul Ibu dan Bapak. Soalnya sekarang si Sevan sedang ada tugas dari bosnya. Jadi, nanti kami berangkatnya bareng Sevan ya, Nak Yilan." Jawab ibunya Sevan.
"Iya, Bu."
"Jangan lupa ya, nanti kamu bawa baju gantinya sekalian. Soalnya perjalanan jauh dan gak mungkin juga langsung pulang. Jadi, bawa sekalian baju gantinya." Kata ibunya Sevan mengingatkan.
__ADS_1
"Ya, Bu. Nanti Yilan bawa baju gantinya sekalian."
"Ya udah kalau gitu, Ibu sama Bapak mau langsung pulang. Jaga diri kamu baik-baik." Ucap ibunya Sevan yang langsung pamit pergi.
Yilan mengiyakan.
Di lain tempat dan situasi, di rumah keluarga Tuan Bonar kini tengah kedatangan tamu dari keluarga Radmaja.
"Silakan duduk, Tuan Ravian, Nyonya, Gazan." Ucap Tuan Bonar dengan sikap ramah dan juga sopan saat mempersilakan keluarga Radmaja untuk duduk.
"Terima kasih." Jawabnya bersamaan.
Tuan Ravian selaku ayah dari lelaki yang akan dijodohkan dengan putri dari Tuan Bonar, duduk di ruang tamu bersama putranya yang bernama Gazan, juga bersama istrinya.
Sedangkan Zavan selaku kakak dari Yilan, kini segera keluar dari ruang kerjanya untuk menemui tamu penting keluarganya.
"Apa kabarnya, Tuan Ravian, Nyonya, dan juga Gazan? maaf, saya tadi sedang ada kesibukan." Sapa Zavan dengan ramah kepada keluarga Radmaja.
"Tidak apa-apa, kami memaklumi. Kabar kami sekeluarga, baik." Jawab Tuan Ravian.
Namun, tiba-tiba Tuan Bonar merasa gusar dan pikirannya tidak lagi tenang, lantaran bingung untuk menjawabnya apa ketika putrinya telah kabur dari rumah. Tentu saja, berbagai cara dilakukan agar tidak menimbulkan perdebatan, pikirnya.
Demi menutupi putrinya yang telah kabur dari rumah, Tuan Bonar mengajaknya mengobrol dengan hal lain agar waktunya bertambah lama dan dapat menghilangkan kepanikan.
Tetapi tidak untuk Tuan Ravian, tiba-tiba teringat dengan tujuannya, yakni ingin bertemu dengan calon menantunya.
"Dimana putrimu, Tuan Bonar? sepertinya dari tadi kami tidak melihatnya. Apakah malu untuk bertemu dengan putra kami?"
"Sebelumnya kami sekeluarga meminta maaf, jika putri kami tidaklah berada di rumah."
"Apa! tidak ada di rumah? bagaimana bisa?"
Tuan Ravian langsung bangkit dari posisinya, sama halnya dengan Gazan.
"Pa, duduklah. Tidak sopan bersikap seperti itu. Kita dengarkan dulu penjelasan dari Tuan Bonar." Ucap Gazan kepada ayahnya.
Tuan Ravian yang hampir saja hilang kendali, pun nurut dengan perintah putranya.
__ADS_1
Tuan Bonar maupun Zavan sama-sama mengatur pernapasannya, dan berharap semua akan baik-baik saja.