Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Entah merasa senang atau sial


__ADS_3

Yilan pun masih diam.


"Tidak baik kalau kamu tidak memberi kabar kepada kedua orang tuamu atau keluargamu. Mereka semua pasti khawatir sama kamu, kasihan mereka kalau sampai kamu tidak memberinya kabar." Ucap Elen mengingatkan Yilan.


"Yilan belum siap aja, Kak. Yilan takutnya dipaksa menikah. Untuk sementara ini Yilan belum bisa memberinya kabar, mungkin nanti atau lusa dan entah kapan sampai Yilan benar-benar siap." Jawab Yilan yang tetap dengan keputusan yang diambilnya.


Elena yang tidak mau dianggap ikut campur dengan urusan orang lain, pun tidak berani memaksa.


"Ya udah kalau itu memang sudah menjadi keinginan kamu. Oh ya, ikut Kakak aja yuk. Kakak punya pohon buah yang lagi panen, temani ambil buahnya yuk." Ajak Elena untuk pergi ke samping rumah.


"Mau banget Kak, soalnya kalau di kota pingin pergi ke kebun cukup jauh, juga tempatnya biasa aja." Jawab Yilan bersemangat.


"Ya udah, ayo ikut Kakak." Ucap Elen dan bergegas bangkit dari posisi duduknya. Kemudian, ia mengajaknya ke samping rumah.


Sedangkan di dalam rumah, Sevan tengah menemani kakak iparnya yang sedang istirahat di dalam kamar.


"Kapan kamu akan menikah, Sev? kasihan ibu sama bapak ingin melihat anaknya menikah tapi kamu selalu mengulur waktu."


"Bukankah Kak Bizar tahu sendiri, kalau Alia telah mengkhianati aku. Jangankan pacar, perempuan yang di taksir aja belum nemu."


"Lah. Bukannya kamu datang ke sini ajak perempuan?"


"Aku 'kan sudah bilang sama Kak Bizar, dia bukan siapa-siapa aku, hanya kebetulan saja bertemu di Terminal dan maksa ikut. Lagi pula, dia itu rupanya anak dari bosku di kota."


"Kamu bilang apa tadi? anak dari bosku yang di kota? kenapa bisa begitu? memangnya kamu belum pernah bertemu dengannya?"


Sevan menggelengkan kepalanya.


"Belum pernah, soalnya kerjaku fokus di kantor dan mendapat perintah ke sana kemari di luar jam kerja. Aku hanya bagian pengawasan saja di luar jam kerja. Aku mengetahui jika Yilan adalah adiknya, itupun dari perintah darinya untuk mencarikan keberadaan adiknya." Jawab Sevan berterus terang.


"Terus, apakah kamu akan kembali ke kota dalam jangka waktu dekat ini?" tanya kakak iparnya.


Sevan mengangguk.


"Benar. Aku sudah menyuruh bosku untuk menjemput adiknya ke rumah. Juga, aku sudah mengirimkan pesan kenapa aku bisa bertemu dengan perempuan itu. Mungkin besok pagi pagi aku mau langsung pulang. Juga, bisa jadi aku langsung pergi ke kota." Jawab Sevan.


"Kakak kira bukan anaknya bos kamu. Tapi kalau memang jodoh, tidak akan pergi kemana. Bahkan, pertemuan saja terkadang tidak bisa diduga." Kata Bizar.


"Itu tidak akan mungkin, Kak. Keluarganya bos bukan sembarangan orang kaya saja, mereka mempunyai selera sendiri. Ya aku akui sih, Tuan Bonar orang yang baik, tapi gak mungkin juga mempunyai menantu sepertiku ini. Statusku yang tidak jelas, tentu saja menjadi tanda tanya besar. Ah sudah lah. Jodoh itu tidak perlu diburu atau dipaksa, nanti juga datang dengan sendirinya."

__ADS_1


"Ya perempuan yang datang sama kamu itulah, jodoh yang datang dengan sendirinya." Ledek Bizar kepada adik iparnya.


Sevan tertawa kecil mendengarnya.


"Sudahlah Kak, tidak perlu kamu membahas itu. Oh ya, Ibu sama Bapak kemana? perasaan dari tadi gak lihat."


"Lagi pergi ambil panenan, katanya sudah waktunya untuk dipanen. Oh ya, kakak kamu sama Yilan kemana? kok rumah jadi sepi, coba kamu lihat di ruang tamu."


"Iya ya, sepi. Aku lihat dulu ya Kak, takutnya itu anak bertingkah yang aneh-aneh." Kata Sevan yang teringat sosok Yilan suka semuanya, dan takut merepotkan kakak perempuannya.


Bizar mengiyakan. Kemudian, Sevan bergegas untuk mencarinya.


Sedangkan yang dicari Sevan, rupanya Yilan tengah memanjat pohon manggis yang pohonnya lumayan tinggi.


"Kak Elen! bagaimana ini turunnya?"


Yilan berteriak di atas pohon manggis sambil merengek karena ketakutan.


"Kamu sih Yil, dah dibilangin sama Kakak, jangan manjat pohonnya, kamunya ngeyel sama Kakak. Tunggu disini dulu ya, Kakak mau panggil Sevan dulu. Jangan loncat, tetap di pohon dulu." Sahut Elen dari bawah pohon manggis.


Yilan yang sudah ketakutan, hanya menganggukkan kepala.


Baru saja membalikkan badan, rupanya Sevan sudah datang.


Seketika, Sevan mendongak ke arah pohon manggis. Rupanya yang dikatakan kakaknya itu benar, Yilan berasa di atas pohon manggis.


Sevan maju beberapa langkah.


"Kamu ini ya, bandel kalau diomongin. Jangan suka berulah, masih saja berulah. Cepetan turun."


"Takut akunya. Nanti kalau aku jatuh dan cidera, kek mana? aku belum nikah."


"Salah kamunya sendiri, ngapain pakai manjat manjat pohon segala. Giliran mau turun saja tidak bisa. Benar-benar kamu ini sangat merepotkan. Dimana tempatnya kamu selalu berulah. Cepat! turun."


"Aku takut jatuh." Sahut Yilan dari atas pohon manggis.


"Jangan membentak gitu dong, Sev. Orang lagi ketakutan, kamu malah membentak, kasihan Yilan. Cari alat bantu kek, atau tangga untuk turun gitu."


Kakaknya pun memarahinya, dan langsung meminta Sevan untuk mencari alat bantu untuk Yilan.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan ambil dulu tangganya." Jawab Sevan yang merasa berkali-kali direpotkan oleh Yilan.


Karena sudah tidak sabar dan merasa geram dibuatnya, Sevan segera mengambil tangga untuk Yilan.


"Nih! cepetan turun."


"Entar kalau jatuh gimana? aku takut." Sahut Yilan yang tidak mempunyai keberanian untuk turun.


"Mau turun apa gak kamunya? ha!"


"Nanti kalau aku jatuh dan cidera, siapa yang mau menikah denganku? aku gak mau cidera, cepetan kamu naik ke atas pohon dan bantu aku turun." Sahut Yilan yang kedengaran sangat konyol.


Elena sebagai kakak perempuan dari Sevan, pun tertawa kecil mendengar ucapan dari Yilan.


Sevan yang tidak mempunyai pilihan lain, pun akhirnya mengangguk.


"Ya! nanti aku akan nikahi kamu kalau kamu mengalami cidera. Nih! kakakku yang menjadi saksinya, puas! kamu."


Yilan yang seperti memenangkan lotre, pun tersenyum mengembang.


"Janji! awas saja kalau sampai bohong, aku akan menuntut kamu, titik." Ucap Yilan seperti memberi ancaman.


"Ya! cepetan turun." Bentak Sevan kepada Yilan.


Bukannya takut, justru Yilan tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Elena yang melihat dan mendengarnya, pun menahan tawa.


Sevan yang udah merasa geram, ia naik beberapa anak tangga untuk membantu Yilan turun dari pohon manggis.


Yilan yang tengah hati-hati, berharap dirinya tidak terjatuh.


"Aaaaa!" teriak Yilan saat kakinya terpeleset saat hendak turun.


Dengan sigap, Sevan langsung turun dari urutan anak tangga yang ketiga, dan menangkap Yilan.


"Aw!" keduanya memekik kesakitan saat keduanya terjatuh dengan posisi tum_pang tin_dih, Yilan berada di atas tub_uhnya Sevan.


Bahkan, bibir milik keduanya saling menempel. Tentu saja, keduanya saling melotot satu sama lain.


"Tidak!"

__ADS_1


Yilan langsung berteriak histeris saat sesuatu yang tengah dirasakannya, ia juga memegangi bibirnya.


Elena yang tidak sengaja melihatnya, pun masih menutup kedua matanya.


__ADS_2