
Ketika Renan selesai menyiapkan makan malam, Yilan bersama Sevan duduk bersebelahan. Keduanya benar-benar terlihat serasi, juga seperti sepasang suami istri.
"Jangan sungkan sungkan, mari kita makan." Ucap Renan selaku pemilik rumah.
"Makasih banyak ya, Ren, atas hidangannya. Maafkan aku yang selalu merepotkan kamu. Kapan-kapan sempatkan untuk datang ke rumahku, nanti gantian aku yang akan melayani kamu." Jawab Sevan merasa tidak enak, lantaran selalu mendapat pertolongan dari temannya.
Yilan yang memang sudah terasa lapar, pun menikmati makan malamnya bersama Seban dan Renan.
"Masakannya sangat enak, gak kalah sama yang di restoran." Puji Yilan sambil mengunyah sambel udang kesukaannya.
"Renan memang pernah bekerja di restoran, makanya dia pulang langsung membuka rumah makan. Bahkan, rumah makannya saja sangat ramai dan dipadati oleh pelanggannya." Timpal Sevan yang langsung memberitahu yang sebenarnya.
"Oh. Pantes aja enak, tapi memang pada dasarnya pintar memasak, jadi enak masakannya. Berbeda denganku, yang hanya bisa makan dan menikmati." Ucap Yilan tanpa rasa canggung.
"Jangan salah, Sevan juga jago masak loh. Hanya saja kamu belum mengetahuinya. Orang Sevan juga dulu awalnya kerja di Restoran, tapi tiba-tiba pindah haluan, yaitu kerja di kantoran, plus jadi orang kepercayaan bosnya. Gimana coba, hebat 'kan si Sevan. Aku pastikan, kamu tidak akan menyesal jika menjadi istrinya." Kata Renan yang kini memuji Sevan.
"Apa-apaan sih kamu ini sih, Ren. Jangan membuka kartu pekerjaan aku, malu jadinya." Sahut Sevan yang tidak ingin pekerjaannya diketahui oleh Yilan.
"Wah. Ternyata jauh dari dugaan aku, ternyata kalian berdua memang pekerja keras." Ucap Yilan memuji.
Yilan langsung diam dan melamun.
'Jadi, dia ini kerja di kantoran? jadi orang kepercayaannya bosnya, keren juga. Jadi penasaran dia di kota tinggal di mananya. Tapi, kalau aku kembali ke kota, mana bisa bertemu dengannya lagi. Aih! kenapa lagi aku ini, apa iya aku mulai jatuh cinta dengannya? tidak tidak, ini hanya otakku yang sedang tidak waras.' Batin Yilan yang tengah melamun.
Sevan yang tengah memperhatikan Yilan sedang melamun, ia melambaikan tangannya tepat di depan wajahnya. Yilan langsung tersadar dari lamunannya dan nyengir kuda.
__ADS_1
"Makanan kamu dihabiskan dulu, baru lanjut ngelamun. Apa perlu aku suapi?"
"Eh! enggak. Aku bisa menyuapi diri aku sendiri, terimakasih atas tawarannya." Jawab Yilan yang langsung melanjutkan makannya.
Sevan sendiri segera menghabiskan makanannya. Kemudian, setelah semuanya selesai makan, Yilan membereskan meja makan dan ikut membantu pemilik rumah untuk mencuci piring dan yang lainnya. Tentu saja, Sevan ikut menemaninya.
"Sini, aku bantu yang bilas." Ucap Sevan yang langsung meraih piring yang baru saja di cuci, kemudian Sevan membilasnya.
"Ini pekerjaan perempuan, laki-laki mah duduk aja." Kata Yilan menolak ketika Sevan membantunya.
"Tidak apa-apa. Hitung-hitung aku sedang belajar membantu istriku nanti kalau kerepotan." Ucap Sevan dengan santainya sambil membilas piring, juga memperhatikan Yilan.
Tanpa disengaja, justru Sevan memegang tangan Yilan yang tengah mencuci gelas. Seketika, keduanya saling menatap satu sama lain, keduanya seolah seperti mendapat sengatan listrik hingga terasa sampai di hatinya.
'Ada apa denganku ini lah, kenapa aku jadi gugup begini. Sevan ingat, Sevan. Kamu harus ingat, perempuan yang sedang bersama kamu ini itu, tidak lain adik dari bos kamu. Jadi, jaga sikap dan jaga jarak.' Batin Sevan mengingatkan pada diri sendiri.
"Nah! 'kan, malah kamunya yang ngelamun. Ini gelasnya mau dicuci apa enggak? kalau enggak, biar aku aja yang menyelesaikan semuanya. Lagi pula tinggal sedikit, lebih baik kamu temani si Renan duduk di ruang tamu, keknya dia juga lagi sibuk, sudah sana bantuin teman kamu itu." Ucap Yilan yang langsung mengagetkan Sevan.
"Sudah sini, biar aku bantu kamu. Nanti ujungnya kamu juga melamun terus." Jawab Sevan yang tetap bersikukuh untuk membantu Yilan mencuci piring.
Yilan yang tidak bisa melakukan penolakan, akhirnya mengiyakan saja. Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya selesai juga. Kemudian, keduanya menemui Renan pemilik rumah yang sedang sibuk mengupas bumbu dapur untuk diolah besoknya lagi.
"Kalian tidak perlu ikut-ikutan mengupas bumbu dapur, mendingan kalian berdua istirahat. Cuaca di luar masih gerimis, sebaiknya kalian istirahat. Kalian bilang mau pulang pagi pagi, jadi butuh istirahat yang cukup." Ucap Renan yang tidak ingin tamunya kecapean.
"Aku terbiasa tidur jam sebelas malam, jadi udah biasa ketika tidur malam." Jawab Yilan sambil ikutan mengupas bawang putih.
__ADS_1
"Kamu itu perempuan, jaga pola makan, pola tidur, dan juga jam istirahat. Jadi, sudah sana istirahat." Ucap Sevan ikut menimpali.
"Aku gak mau, nanti aja." Jawab Yilan dengan entengnya.
Karena tetap saja menolak untuk istirahat, Renan maupun Sevan tidak lagi memaksa Yilan untuk istirahat di kamar.
Sambil menunggu rasa kantuk, Yilan maupun Sevan dan Renan, ketiganya tengah sibuk mengupas bumbu dapur hingga hampir larut malam.
"Sudah hampir mau jam sebelas, kita sudahi kerjaan ini. Sekarang kalian berdua segera istirahat lah, aku pun juga mau istirahat." Ucap Renan saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam sebelas malam.
"Iya juga ya, baiklah kita istirahat. Sudah malam juga, gak baik untuk bergadang." Jawab Sevan yang juga ikut melihat jam yang sudah hampir larut malam.
Setelah itu, ketiganya bergegas untuk istirahat. Yilan yang tidur di kamar tamu, sedangkan Sevan tidur di ruang tengah, yakni beralaskan tikar yang atasnya ada kasur lantainya.
"Kamu tidur aja di kamar anakku, Bro. Cuaca dingin, takutnya nanti kamu masuk angin." Ucap Renan yang tidak enak hati ketika temannya tidur di lantai.
"Tidak apa-apa, jugaan cuma semalam aja. Lagi pula ada selimut dan bantal, gak jadi masalah buatku. Sudah sana kalau kamu mau tidur di kamar, aku disini saja gak apa-apa." Jawab Sevan.
"Gak boleh begitu. Aku akan tidur bareng kamu di kasur lantai ini." Ucap Renan yang langsung masuk ke kamar dan mengambil bantal dan selimut.
Karena sudah larut malam dan rasa kantuk tidak lagi bisa ditahan, Sevan sama Renan segera tidur.
Begitu juga dengan Yilan, rasa kantuk nya yang tidak lagi bisa ditahan, akhirnya terlelap juga dari tidurnya hingga pagi hari disambut oleh hangatnya mentari pagi lewat jendela kaca dan ventilasi kamar.
Udara yang begitu segar, tengah masuk ke kamar dan dihirup oleh indra penci_uman. Tersadar karena bangun kesiangan, Yilan langsung bangkit dari posisi tidurnya. Malu, itu sudah pasti dengan pemilik rumah dan juga Sevan.
__ADS_1