
Sevan maupun Yilan yang tersadar jika dirinya tengah diperhatikan oleh Gazan, langsung merubah posisi duduknya masing-masing. Yilan menggeser agar jaraknya tidak begitu dekat, begitu juga dengan Sevan, dirinya merasa tidak enak hati saat duduk berdekatan dengan Yilan, lebih lagi dengan tangan saling memegangi, tentu saja membuat api cemburu kepada Gazan, suami Yilan.
Gazan yang sudah cemburu, ia langsung duduk di tengah-tengah keduanya.
"Bagaimana dengan tante Elinda, Sev? bagaimana keadaannya?" tanya Gazan ingin tahu.
"Sedang ditangani dokter, dan belum ada dokter yang keluar, jadi belum tahu bagaimana keadaannya." Jawabnya begitu datar.
"Semoga ada keajaiban, dan ingatannya kembali lagi, juga bisa mengenalimu." Ucap Gazan.
"Semoga, hanya itu yang aku harapkan. Sebelumnya aku minta maaf, jika barusan aku telah lancang dengan Yilan, istri kamu." Jawab Sevan sekaligus meminta maaf.
"Tidak apa-apa, asal jangan diulangi lagi. Maaf juga, aku harus pulang, masih ada yang harus dibereskan, yakni masalah kedua orang tuaku. Jadi, aku dan Yilan pamit pulang. Aku do'akan, semoga tante Elin segera sembuh, dan mengakui bahwa kamu adalah puteranya. Ya udah ya, aku pulang." Ucap Gazan yang memilih untuk pulang, lantaran tidak ingin istrinya dekat-dekat dengan Sevan.
__ADS_1
Karena tidak mau menambah masalah, Sevan mengiyakan.
Setelah itu, Gazan dan Yilan pulang ke rumah bersama istrinya Tuan Bonar. Sedangkan Sevan ditemani kedua orang tua asuhnya dan Tuan Bonar untuk melihat kondisinya.
Yilan yang tengah dalam perjalanan, ia melamun sambil melihat jalanan.
Karena penasaran dengan istrinya yang terlihat memikirkan sesuatu, akhirnya menepikan mobilnya.
Mobil pun berhenti, dan Gazan menoleh ke arah istrinya yang belum sadarkan diri jika mobilnya berhenti.
Seketika, Yilan langsung menoleh ke sumber suara, yakni tersadar jika mobil berhenti.
"Em- tidak ada apa-apa, aku cuma kepikiran ibunya Sevan, tadi aku melihatnya sangat memprihatinkan." Jawabnya beralasan, padahal bukan yang tengah dipikirkannya.
__ADS_1
"Oh. Aku kira kamu sedang memikirkan sesuatu, yaitu soal pernikahan kita, atau perasaan kamu dengan Sevan. Kalau kamu menyukainya, lupakan. Tapi- jika kamu mencintainya dan ingin hidup bersamanya, aku tidak akan membiarkan kamu menjadi miliknya. Jika memang kita harus sakit, maka di antara kita bertiga akan sakit bersama. Aku menunggumu begitu lama dengan kesabaranku, dan sekarang kamu ingin berpaling dariku."
Gazan pun akhirnya membicarakan hubungannya dengan sang istri, sedangkan Yilan masih diam, bingung harus menjawabnya apa.
Karena tidak ada jawaban dari istrinya, Gazan kembali melajukan kembali mobilnya dan segera pulang ke rumah, lantaran masih ada yang belum diselesaikan soal kasus kedua orang tuanya.
Lain lagi di rumah sakit, Sevan yang tengah fokus dengan keadaan ibunya, sama sekali tidak ada waktu untuk memikirkan Yilan, perempuan yang sudah mengaduk ngaduk perasaannya.
Saat itu juga, dokter keluar, dan Sevan segera menghampirinya.
"Bagaimana dengan keadaan ibu saya, Dok?" tanya Sevan penasaran.
"Kondisinya jauh lebih baik, dan sekarang sedang istirahat. Ditunggu sampai kesadarannya pulih, dan ajaklah bicara dengan lembut, dan jangan memancing emosi, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Jawab sang dokter, Sevan pun mengangguk dan mengiyakan.
__ADS_1
Sedangkan kedua orang tua asuhnya merasa lega ketika mendengar keadaan pasien baik-baik saja. Setelah itu, dokter pun pergi dan menangani pasien lainnya.
Sevan yang tidak lagi khawatir dengan keadaan ibunya, dapat bernapas dengan lega.