
Yilan yang masih diam sambil menatap lurus ke depan, yakni memandangi air terjun, sama sekali tidak menoleh ke Sevan.
"Aku mau membeli minuman dulu, kamu disini saja dan jangan pergi kemana-mana." Ucap Sevan sambil berdiri.
Yilan mengangguk tanpa menoleh. Sevan yang tidak ingin suasana menjadi tidak nyaman, ia memilih segera membeli minuman, setidaknya bisa mencairkan suasana.
Sambil berjalan menuju tempat penjual, ponselnya berdering. Cepat-cepat ia merogoh sakunya, lalu menerima panggilan.
"Tuan Zavan." Ucapnya lirih saat membaca nama kontak di ponselnya.
Saat itu juga, Sevan langsung menerima panggilan. Dengan serius, Sevan mendengar perintah dari Bosnya.
"Baik, Tuan, saya akan segera kirimkan alamat rumah. Untuk keadaan Nona Yilan, Nona dalam keadaan baik-baik saja, sekarang sedang bersama saya." Jawab Sevan lewat panggilan telepon.
Kemudian, panggilan telepon terputus. Karena takut Yilan pergi, Sevan segera membeli minuman. Setelah itu, ia kembali ke tempat dimana Yilan tengah menunggu.
"Ini, minumlah, biar pikiran kamu sedikit tenang. Jangan turuti egomu, itu yang bisa menjadikan penyesalan kamu." Ucap Sevan sambil menyodorkan satu botol air mineral.
Yilan masih belum menoleh, menjawab pun tidak.
"Terus, mau kamu itu apa?" tanya Sevan sambil membuka tutup botol minuman.
Kali ini Yilan langsung menoleh ketika mendapat pertanyaan dari Sevan.
"Maunya aku, kamu menikahi aku. Terserah kamu mau bawa aku kemana, intinya aku bisa lepas dari perjodohan. Nanti kalau aku lelaki yang mau dijodohkan denganku sudah menikah dengan wanita lain, aku akan membayar mu mahal." Jawab Yilan yang tetap bersikukuh dengan jawabannya.
Sevan tersenyum tipis ketika mendengar jawaban dari Yilan, perempuan yang jarang ditemukan. Biasanya perempuan akan pasrah dengan pilihan orang tuanya, tapi Yilan justru memilih kabur dan memintanya untuk menikahinya.
Sevan membuang napasnya dengan kasar, yakni ke arah yang lain.
__ADS_1
"Bukannya aku tidak mau membantu kamu, tapi aku tidak mau mempunyai masalah dengan keluarga kamu. Juga, aku yang akan merugi. Aku belum sempat menemukan siapa aku yang sebenarnya, tapi sudah menjadi tahanan. Maaf. Aku benar-benar tidak bisa membantu kamu. Mungkin pilihan orang tuamu itu yang terbaik untuk kamu." Ucap Sevan yang tetap menolak.
Yilan yang mendengar jawaban dari Sevan, pun merasa kecewa. Yilan tertunduk sedih saat keinginannya tidak dipenuhi oleh Sevan.
"Dari pada duduk disini sambil berdebat, mendingan kamu ikut aku untuk jalan-jalan di sekitar sini. Nanti aku akan tunjukan tempat yang pemandangannya sangat bagus, ayo ikut aku." Ucap Sevan mengajaknya untuk pindah tempat.
Yilan mengangguk dan ikut Sevan ke tempat yang akan ditunjukkan. Saat sampai di tempat yang akan ditunjukkan, Sevan berdiri tegak di belakang Yilan.
"Lihatlah pemandangan yang ada di depan mata kamu, bagaimana menurutmu?"
Yilan langsung merentangkan kedua tangannya, dan menarik napasnya, lalu dihembuskannya dengan pelan.
"Aku mau menikah dengan mu, Sevan ...! titik."
Yilan berteriak dengan menyebut nama Sevan. Seketika, Sevan langsung bengong saat mendengarnya.
Tidak ambil diam, Sevan langsung membekap mulutnya Yilan agar berhenti bicara keras.
Kemudian, Yilan dengan sekuat tenaganya terus melepaskan tangannya Sevan. Dengan mudahnya, Yilan pun berhasil melepaskannya. Setelah itu, Yilan memutarbalikkan badan dan menatap wajahnya Sevan begitu intens.
"Menikahlah denganku, aku mohon." Ucap Yilan sambil menatap serius pada Sevan, tidak peduli jika dirinya dikatai perempuan tidak punya malu, sekalipun dikatakan perempuan mu_rahan.
"Maaf, Yilan, aku tidak bisa. Kamu benar-benar nekad rupanya, tapi aku tidak bisa mengabulkan keinginan kamu." Jawab Sevan yang tetap menolak.
Yilan yang mendengar kalimat yang sama seperti sebelumnya, pun kecewa. Kemudian ia memalingkan wajahnya, dan meneteskan air matanya.
Sevan yang melihat Yilan tengah menangis, pun langsung meraih tubuhnya dan memeluknya.
'Maafkan saya, Tuan, jika saya telah bersikap lancang kepada adikmu. Setelah ini aku akan kembalikan adikmu pada Tuan.' Batin Sevan sambil memeluk Yilan.
__ADS_1
"Maafkan aku yang tidak bisa mengabulkan permintaan kamu. Ini sebuah pernikahan, sesuatu yang sakral dan tidak untuk mainan. Menikah bukan sekedar menikah, semua butuh keseriusan. Jika kamu ingin menolak perjodohan, bicarakan baik-baik di hadapan kedua orang tuamu, saudara kamu, maupun keluarga kamu." Ucap Sevan memberi nasehat kecil kepada Yilan.
"Tapi tetap saja, mereka akan tetap menikahkan aku dengan lelaki pilihannya. Aku mohon, menikahlah denganku. Jika kamu menginginkan keseriusan dalam menikah, aku akan serius." Jawab Yilan yang masih berada di pelukannya.
Kemudian, Sevan merenggangkan pelukannya.
"Bicara itu mudah dan sangat gampang, Yilan. Tetapi untuk menjalaninya itu susah. Hubungan pernikahan yang diawali saling cinta saja bisa berubah, lantas bagaimana yang belum ada rasa dan ketertarikan? pikirkan baik-baik atas permintaan kamu itu. Apakah kamu mau, menikah denganku, sedangkan aku masih ada cinta dengan perempuan lain? tidak, 'kan?"
Yilan menatapnya dengan diam, tidak tahu harus bicara apa lagi, pikirnya.
"Ayo kita pulang, sepertinya mau turun hujan, takutnya nanti kita kejebak di jalan." Ajak Sevan yang memilih untuk pulang, takut suasana hati semakin tidak karuan.
Lebih lagi dengan cuaca yang seperti mau turun hujan, pastinya rawan ketika melewati jalanan yang cukup terjal. Juga, ia sudah mempunyai janji untuk sampai rumah di sore hari.
Yilan yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya mengiyakan dan ikut pulang bareng Sevan. Benar saja, rupanya masih setengah jalan sudah mulai gerimis.
Yilan yang tidak mengenakan jaket, ia mulai merasa kedinginan karena cuaca yang tidak bersahabat. Angin kencang dan hujan pun turun dengan derasnya, Sevan menambahkan kecepatannya dan mencari tempat untuk berteduh.
Saat melihat rumah kecil yang terlihat tidak berpenghuni, Sevan menepikan motornya di depan rumah yang dekat dengan jalan. Kemudian, Sevan dan Yilan segera turun dari motor.
Sambil mengusap telapak tangannya karena kedinginan, berharap tubuhnya sedikit hangat.
Sevan yang melihatnya, pun langsung melepaskan jaketnya, dan mendekati Yilan.
"Ini, pakailah jaketnya, biar badan kamu tidak kedinginan." Ucap Sevan sambil menyodorkan jaket miliknya.
Kemudian, Sevan membantu Yilan mengenakan jaketnya. Setelah itu, mengajaknya duduk di teras rumah yang tidak berpenghuni.
"Ini belum seberapa tentang hidupku, apakah kamu akan sanggup hidup bersamaku yang jauh dari kata mewah?" Ucap Sevan merendah sambil memberi pertanyaan pada Yilan.
__ADS_1
Yilan pun terdiam, ia mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Sevan terhadap dirinya.
"Meski kita menikahnya sandiwara, tetap saja kamu akan hidup bersamaku. Jadi, jangan anggap menikah sandiwara itu mudah dan tidak sulit, pikirkan baik-baik lagi apa yang akan kamu minta kepadaku." Sambung Sevan sambil menatap Yilan dengan serius.