Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Ada yang kepikiran


__ADS_3

Waktu yang dinantikan oleh keluarga Radmaja dan juga keluarga dan keluarga Aditama, kini telah tiba waktunya untuk mempererat hubungan keluarga lewat perjodohan sebagai pengganti.


Yilan yang sudah duduk di depan cermin dengan riasan pengantin, membuatnya tidak mampu untuk memberontak, yakni terbebas dari perjodohan. Meski awalnya si Yilan menyukai pihak laki-laki yang akan menikahi dirinya, namun perasaannya pun pupus.


"Sempurna!"


Salah seorang yang tengah memuji kecantikan Yilan, pun terkagum-kagum dengan penampilannya yang terlihat cantik dengan sempurna.


"Hari ini Nona sangat cantik, Tuan pasti akan menyukai penampilan Nona yang benar-benar terlihat sempurna." Ucapnya memuji kecantikannya Yilan.


Tidak bersemangat, Yilan hanya tersenyum tipis kepada salah seorang yang meriasnya.


Berbeda lagi di tempat lain, ada seseorang yang tengah hilang semangatnya sejak kabar pernikahan Yilan ditentukan. Duduk sambil melamun, Sevan seolah kehilangan semangat hidupnya.


Ucapan-ucapan yang terlontar oleh Yilan, kini tengah mengganggu pikirannya. Sungguh kecewa saat rasa mulai tumbuh, harus kehilangan semangatnya.


"Kamu kenapa terlihat murung begitu, Nak?" tanya sang ibu yang sudah ada di kota, tepatnya di rumah Sevando yang tidak begitu besar, setidaknya rumah milik sendiri.


Sevan masih diam, pandangannya entah kemana tujuannya.


"Sevan. Kamu kenapa, Nak? kenapa masih melamun begitu?" Tanya sang ayah ikut menimpali saat melihat putranya tengah melamun.


"Tidak apa-apa, Pak, Bu. Sevan hanya gak enak badan aja keknya." Jawab Sevan dengan lesu dan tidak bersemangat.

__ADS_1


"Jangan bohong. Kamu pasti sedang memikirkan nak Yilan, 'kan? Jujur saja sama Bapak."


Sevan pun menggelengkan kepalanya, karena tidak mungkin juga untuk mengatakannya dengan jujur jika dirinya memang tengah memikirkannya.


"Ibu tahu kok, kalau kamu sedang memikirkan nak Yilan. Kamu sudah mulai jatuh cinta, 'kan? ngaku aja sama Ibu. Percayalah, jodoh itu tidak akan kemana. Jika nak Yilan memang jodohnya kamu, nanti juga bakal menjadi milikmu." Ucap ibunya.


"Ibu sama Bapak bisa aja ngomongnya. Sevan sedang tidak memikirkan Yilan, Sevan hanya tidak bersemangat saja. Oh ya, Ibu sama Bapak udah siap-siap, 'kan? kalau sudah, kita langsung berangkat saja." Jawab Sevan mengalihkan pembicaraan.


"Kamu sendiri apakah sudah siap untuk bertemu dengan nak Yilan?" tanya ibunya yang takut putranya tidak sanggup untuk menghadiri pernikahannya Yilan dengan Gazan.


"Sevan mah sudah siap dari tadi, Bu. Ya udah kalau gitu, kita berangkat sekarang ya, Bu, Pak."


Kedua orang tuanya pun mengangguk. Setelah itu, mereka bertiga berangkat ke acara pernikahannya Yilan.


Tapi kini kenyataannya jauh dari prasangkanya.


Di tempat gedung yang megah, Yilan memandangi cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Ingatannya pun kembali saat dirinya merampas cincin miliknya Sevan saat hendak dibuang ke danau.


'Aku berharap, cincin ini tidak akan bisa dilepaskan hingga Sevan mengutarakan hatinya jika dirinya mencintaiku. Setelah itu, dia akan menggantinya dengan cincin pernikahan.' Batin Yilan yang seolah hidup di negri dongeng, pikirnya.


"Nona, permisi."


"Silakan, Mbak."

__ADS_1


"Acara akan segera dimulai. Nona diminta untuk ikut berada dalam acara pengucapan kalimat sakral." Ucapnya menyampaikan pesan.


Yilan yang merasa keberatan, tidak mempunyai pilihan lain selain mengiyakan.


"Baik, Mbak." Jawab Yilan mengiyakan dan bergegas untuk ikut berada di dalam acara pengucapan kalimat sakral.


Saat semuanya sudah berada di dalam ruangan untuk pengucapan kalimat sakral, tidak ditemukan keberadaan Sevan dimata Yilan. Sambil memegangi cincin, Yilan berkali-kali berdoa didalam hatinya yang berharap dipertemukannya dengan Sevan.


Sedangkan Gazan yang sudah berada di dekat calon istrinya, merasa heran dengan sikap Yilan yang terlihat gusar dan tidak tenang.


"Kamu kenapa, Yil?" tanya Gazan ingin tahu.


Yilan yang dikagetkan oleh calon suaminya, sontak saja langsung menoleh dengan detak jantung yang tidak karuan.


"Em- aku tidak apa-apa, cuma gugup saja." Jawab Yilan beralasan, meski sebenarnya tengah memikirkan Sevan yang juga belum terlihat.


"Oh. Kirain sedang ada masalah apa. Tapi benar 'kan, kamu tidak kenapa-kenapa?"


Yilan mengangguk dan terpaksa untuk tersenyum, meski senyumnya begitu tipis.


'Aku yakin kalau kamu sedang mencari keberadaannya Sevan, dan kamu mulai menyukainya.' Batin Gazan menerka nerka.


Sedangkan yang berada di dalam perjalanan, rupanya kena macet dan harus mengantri untuk memasuki jalan pintas.

__ADS_1


__ADS_2