
"Kenapa engga coba tanya ke bunda aja bang" ucap Miko kepada Kalan.
Kalan menggeleng, "bunda dokter kandungan sama ayah"
Miko menepuk jidatnya, "iya juga"
"Lo punya nomor dokter sesil engga, Mik?" tanya Kalan kepada Miko.
Ya satu-satunya yang bisa di andalkan adalah dokter sesil, dokter pribadi milik keluarga Wijaya.
Miko mengangguk, "punya, nanti gue kirim" jawabnya dan amiko pun mulai mengutak-atik ponselnya untuk mencari kontak dokter sesil.
"Urusan kita belum selesai!" ucap Varo kepada Kalan.
Kalan yang sedang mengutak-atik ponselnya pun menoleh ke arah Varo.
"Yaudah ayo mau di selesaikan kapan?" tanya Kalan to the poin.
"Ayo kita ke rooftop sekarang juga!" ajak Varo dan diangguki oleh Kalan.
Kalan bangkit dari duduknya, "lo disini aja, Mik" perintah Kalan yang melihat Miko ikut bangun dari duduknya.
"Baik" jawab Miko dengan patuh.
Varo dan Kalan pun berjalan menuju rooftop.
"Itu mau pada kemana? Jangan-jangan mereka mau berkelahi lagi" celetuk Gema ketika melihat Kalan dan juga Varo melewati dirinya dan juga Viona.
"Siapa?" tanya Viona yang memang tidak melihat Varo dan juga Kalan.
"Kak Varo sama si Kalan"
"Emang mereka pernah berantem, Gem?"
Gema mengangguk, "waktu lo masuk ke rumah sakit itu" jawab Gema membuat Viona terbatuk-batuk.
"Waktu gue masuk rumah sakit?" tanya Viona lagi dan Gema kembali menganggukkan kepalanya.
Viona terdiam, mengingat kembali kata-kata Varo yang pernah terlontarkan dari mulut kakaknya itu sampai mereka harus kembali beradu mulut.
__ADS_1
"Pacar lo anak keluarga dari Wijaya?!" hentak kakak tiri Viona.
"Apa si?" tanya Viona kepada Varo.
"Engga usah sok belaga engga tau lo! Dasar anak engga tau diri!"
Plak...
Satu tampara lolos di pipi mulus Viona.
"Vi" panggil Gema.
Viona terhenyak ketika Gema memanggilnya.
"Eh iya Gem?"
"Lo kenapa jadi ngelamun?"
"Kita ikutin mereka!"
"Hah?" Gema ngebug.
"Kaga ah"
"Gem ayo!" ajak Viona dan Gema mau tidak mau menuruti kemauan Viona.
...****************...
"Mau lo apa sekarang?" tanya Kalan yang sudah tidak sabaran.
"Gue mau lo punya sopan santun terhadap gue!"
Kalan tersenyum sinis, "kalau lo mau di hormati sama orang lain, lo harus bisa hormati orang lain dulu! Kalau lo aja engga bisa hormati orang lain, gimana lo mau di hormati sama orang lain?"
"Gue engga minta penjelasan lo!"
"Jangan mentang-mentang lo anak dari keluarga Wijaya, seenaknya aja lo bantah omongan gue!"
"Lo juga jangan mentang-mentang lo anak dari tuan Alexander seenak jidat lo bisa berkuasa di sekolah ini!"
__ADS_1
"Hak gue dong!"
"Gue juga punya hak dong atas tingkah laku gue! Gue yang punya sekolah ini!"
Kalan bukan tipikal pria yang selalu membawa marganya jika dalam masalah, namun jika musuhnya saja sudah membawa marga dirinya, apa boleh buat Kalan pun akan membawa marganya sendiri.
"Emang bener-bener, adik kelas engga punya sopan santun lo!"
"Kak Varo apa-apaan sih?!" cegah Viona ketika melihat Varo yang akan memukul wajah Kalan.
Kalan dan Varo melnoleh ke adalah suara wanita itu, "apa sih lo, engga usah ikut campur sama urusan gue deh"
"Ya tapi engga gini juga kak"
"Gue bilang engga usah ikut campur urusan gue!" teriak Varo sambil menghempaskan tubuh Viona.
Viona terhuyung ke belakang, namun ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.
"Jangan kasar sama cewe kak!" teriak Gema yang melihat itu.
"Lo engga apa-apa?" tanya Kalan sambil membenarkan posisi berdiri Viona.
"Engga apa-apa, thanks" ucap Viona dan diangguki Oleh Kalan.
"Lo jadi kakak kelas engga ada sopan santunnya sama sekali ya! Gue udah bilang bukan sebelumnya? Lo itu kakak kelas, kelakuan lo itu bakal di liat dan di jadikan contoh sama adik kelas lo yang lainnya!" tegas Kalan.
"Lo liat sekarang banyak yang lagi merhatiin lo!" lanjutnya lagi.
"Gue engga perduli dengan semua itu! Paham lo?"
"Dan lo engga usah selalu ikut campur sama urusan gue, urus aja tuh hidup lo!" sargas Varo kepada Viona.
"Jangan berani sama cewe dong kak!" timpal Gema.
"Engga usah ikut campur lo bocah!"
"Lu juga bocah anjir! Baru juga SMP kelas 9 bukan SMA kelas 12!"
"Bacot!"
__ADS_1