
"Kita tunggu dokter Zacky ke sini" ucapan Dokter Sesil ketika sudah menghubungi suaminya.
"Baik"
"Mari kita kembali ke ruangan saya saja, tuan muda"
"Baik"
...****************...
"Lo dari mana aja?" tanya Viona kepada Kalan.
Kalan tersenyum dan mendekat ke arahnya, "setelah ini lo tanggung jawab gue, ambil ponsel lo dan save nomor gue" ucap Kalan.
Viona mengedio-ngedipkan matanya beberapa kali, "*gue engga salah denger 'kan? Terus tadi gue engga salah liat 'kan? Dia senyum ke gue, terus dia bilang apa? gue tanggung jawab dia? Daebak, dia ke pelet apa sama gue?"
"Eh apa jangan-jangan dia tau sama penyakit gue?" monolog Viona*.
"Tumben banget lo? Kenapa? Lo kasian sama gue? Lo tau kalau gue punya leukemia? Terus lo kasian gitu sama gue? Gue engga butuh kasihanin dari lo!" tegas Viona menggebu-gebu.
Para suster, Dokter Sesil dan Kalan membulatkan matanya ketika mendengar penuturan dari Viona.
"E.... Elo sakit Leukimia, Vi?" tanya Kalan terbata-bata.
"Kamu punya Leukimia?" timpal dokter Sesil.
Viona mengerutkan keningnya, dan sedetik kemudian dirinya mengerutuki kebodohannya.
"Ka.... Kalian belum tau?"
__ADS_1
"Belum, kami harus menunggu suami saya dulu untuk memastikannya, bukan karena rumah sakit ini tidak memiliki dokter yang hebat, tapi karena anda adalah pasien yang di bawa oleh salah satu keluarga Wijaya maka dari itu kami harus hati-hati dalam bertindak" jelas dokter Sesil.
"Bodohnya Viona" ucapnya.
"Mana ponsel lo?" timpal Kalan.
Kalan sudah tidak bisa diam lagi, wanita ini memang betul-betul akan menjadi tanggung jawabnya dan di bawah pengawasannya.
"Nih" jawab Viona sambil memegang ponselnya.
"Gue sebutin nomor gue, dan lo save"
"Oke" jawab Viona singkat.
Jari jemari Viona pun mulai bernari dengan lihai di layar ponsel miliknya.
"Kalan"
"Nama lengkap lo, gue tau nama lo Kalan"
"Kenapa harus pake nama lengkap segala? Engga penting"
"Suka-suka gue, lo juga seenak jidat lo bawa gue kesini, pake langsung di infus segala lagi gue!"
Kalan menarik nafasnya dalam-dalam, sepertinya dirinya salah memasukan Viona ke dalam list tanggung jawabnya.
Mengingat sudah ada mommy dan kedua adiknya belum lagi para sepulu wanitanya yang sangat cerewet dan tidak bisa berhenti berbicara itu.
"Kalandra Elvano Prasetya Wijaya" jawabnya dengan nada kesal.
__ADS_1
Viona mengangguk, "Oke"
"Gue save nomor lo dengan nama El"
Kalan kembali membulatkan matanya, "lo minta nama lengkap gue, dan lo cuma kasih nama gue di kontak ponsel lo dua huruf doang?" tanya Kalan dengan nada yang sudah sangat kesal, terlihat dari tangan yang sudah mengepal.
Viona mengangguk, "biar beda" jawabnya sambil terkekeh.
Begitu pun dengan dokter Sesil dan para suster ikut menahan tawanya melihat tingkah mereka.
Dokter Sesil menatap keduanya dengan dalam, "*baru kali ini tuan muda terlihat sangat sabar kepada wanita yang bukan keluarganya dan rela menajdikan wanita lain sebagai yanggung jawabnya, padahal tuan muda bisa dibilang masih sangat belia di umur yang masih muda ini. Tapi, jiwa tanggung jawabnya memang sangat kuat, benar-benar pewaris Wijaya, darahnya mengalir deras keluarga Wijaya yang sangat di hormati dan di takuti oleh siapapun "
"Jika memang mereka berjodoh aku harap Vio dapat segera sembuh*!"
"Tuh udah gue kirim pesan ke nomor lo ya" kata Viona.
"Jangan lupa di save nomor gue" lanjutnya lagi.
"Ya"
Tok... tok.. tok...
"Dokter Sesil"
"Ya?"
"Loh? Vio?"
"Om Zack?"
__ADS_1