
"Mommy?" panggil Kalan ketika melihat sang mommy masuk ke dalam ruangan Viona.
Sang mommy tersenyum, "kamu baik-baik saja nak?" tanyanya.
"Abang baik mommy"
"Adik engga di bawa mom?"
"Ada aunty Fris di rumah, jadi adik kamu sama aunty Fris" jawanya dan Kalan menganggukan kepalanya.
"Siapa namanya?" tanya mommy kepada Kalan ketika melihat ada gadis kecil yang sedang berbaring di brankar rumah sakit medica.
Semenjak mommy memiliki abang Kalan, mommy memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan, karena sudah ada daddy yah bekerja, bahkan daddy pun sudah berhenti menjadi dokter memilih untuk bekerja di perusahaan.
Walaupun sedikit sedikit ilmu ke dokterannya masih ada dan masih sering di pakai jika dalam keadaan mendesak.
"Viona mommy" jawab Kalan.
"Gadis yang cantik" puji nya.
Viona mengerjapkan matanya pelan-pelan sayup-sayup mendengar ada suara yang sedang mengobrol.
Viona melihat ke selalu kananya sudah ada seorang wanita cantik berwibawa yang sedang duduk asik mengobrol dengan El nya.
Tak terasa matanya meneteskan air mata dan hatinya teriris melihat ke akraban ibu dan anak itu.
Viona meyakinkan bahwa itu adalah ibunya Kalan, El nya.
"Eh kamu kenapa nak?" tanya mommy ketika melihat Viona terisak.
Mommy dan Kalan saling pandang, Kala menggelengkan kepalanya.
Mommy mendekat, mengusap pelan rambutnya, "kenapa? apa kami mengganggu kamu?"
Viona menggeleng, mommy membiarkan Viona terus menangis untuk mengeluarkan isi hatinya.
Begitulah mommy, membiarkan terlebih dahulu anak dan lawan bicaranya untuk menangis mengeluarkan seluruh isi hatinya. Jika sudah tenang baru mommy kembali bertanya.
"Maaf" cicit Viona ketika sudah selesai dengan isi hatinya.
"Engga masalah sayang"
"Kenapa?"
"Engga apa-apa kok tante" jawabnya sambil tersenyum.
"Maaf gara-gara Viona, obrolan tante dan Kalan terpotong"
Mommy tersenyum dan menggeleng, "engga apa-apa sayang, panggil mommy saja ya jangan panggil tante"
"Baik tan eh mom"
"Maaf sudah merepotkan mommy harus kesini"
"Engga masalah"
"Mommy kesini bawain makanan untuk kalian"
"Engga apa-apa mom, Vio masih kenyang"
"Kamu engga akan makan?"
"Engga mom, biar El aja yang makan"
"El?" mommy mengernyitkan matanya karena bingung.
"Elvano mom" jawab Kalan.
Mommy tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "oh" jawabnya.
Wajah Viona bersemu merah melihat itu, sepertinya Viona salah tingkah.
__ADS_1
"Mommy, abang makan ya" ucap Kalan sambil membuka kotak makan yang di bawakan oleh sang mommy.
"Iya bang"
"Abang?" kini Viona yang mengerutkan keningnya.
"Kalan punya 3 adik, dan beberapa adik sepupu. Kalan paling tua di keluarga kami, jadi walaupun abang masih SMP tapi dia sudah tua" jelasnya sambil terkekeh.
"Mom" tegur Kalan untuk tidak memberitahukan siapa identitas aslinya.
Viona ikut terkekeh, "kalau mami masih ada, pasti aku di temenin sama mami sekarang. Pasti aku juga kaya El deh"
"Miko engga kesini, bang?"
"Kesini mom tadi, sama Gema. Tapi udah pulang, Miko di panggil daddy ke perusahaan"
"Oh gitu"
"Bang kayanya mommy engga bisa lama-lama"
"Iya mom engga apa-apa kok"
"Sayang maaf, mommy engga bisa lama-lama disini, engga apa-apa ya?" tanyanya kepada Viona.
"Iya mommy engga apa-apa kok" jawabnya sambil tersenyum.
"El, kalau lo mau balik juga engga apa-apa kok, Vio disini ada dokter Sesil ada yang jagain" lanjutnya kepada Kalan.
"Gue disini"
"Mom, abang disini aja ya, besok sekolah abang berangkat dari sini"
"Iya sayang, nanti papa Nicho bawain bekal dan seragam kamu besok ya"
Kenapa mommy tidak memaksa Kalan pulang?
Karena fasilitas di Satya medica sangatlah lengkap, bahkan ruangan VVIP di fasilitasi dengan ruang lain untuk kamar yang menunggu atau kerabat si pasien, sudah seperti hotel bintang 5.
"Iya mom"
"Yaudah abang, jagain Vionya baik-baik"
"Iya mom"
"Vio, mommy pulang dulu ya, kalau abang engga jagain kamu langsung lapor aja ke dokter Sesil, biar nanti dokter Sesil langsung bilang ke mommy"
"Oke mommy"
"Mom, papi Rey dan mami Key engga piket?"
"Piket pagi sayang"
"Oh yaudah"
"Yaudah mommy pulang ya"
"Iya mom"
...****************...
"Lo istirahat aja, gue disini jagain lo" ucap Kalan dengan mematikan TV yang sedang Vio tonton dan mematikan lampu kamar inap Viona.
"Ish" katanya kesal.
Kalan tidak menghiraukan kekesalan Viona.
Viona pun mau tak mau memejamkan matanya, sebenarnya dirinya pun sudah mengantuk, mungkin efek obat yang ia minum 5 menit yang lalu dari dokter Sesil.
Kalan membuka matanya kembali merasa sudah tidak ada pergerakan dari Viona.
Kalan bangun dari tidurnya di sofa mendekat ke arah Viona.
__ADS_1
"Gadis yang malang" ucapnya pelan ketika melihat Viona yang sepertinyas nagat damai dalam tidurnya.
Memalingkan wajahnya ketika getaran ponsel milik Vio tak berhenti bergetar.
Membuka ponsel milik Vio, melihat beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari kontak "Varo brengsek🐅"
📞 3 panggilan tak terjawab
📩 Varo brengsek🐅
Bukan karena tak sopan, tetapi ini memang sangat mengganggu istirahat nya Viona jika terus selalu bergetar.
"Bodohnya ponsel engga pake password" kata Kalan ketika dirinya bisa membuka ponsel milik Viona.
📩 Varo brengsek
Woy anak engga tau di untung dimana lo?
Lo engga inget pulang hah?
panggilan tak terjawab
panggilan tak terjawab
panggilan tak terjawab
Dasar anak sialan!
Dasar cewe murahan lo jam segini belum pulang juga!
Lo dimana hah?
Setan lo!
Gue aduin ke bokap lo!
Awas aja lo kalau pulang, abis lo sama gue!
Setelah membaca itu, Kalan dengan lihat mengirim foto tangan Viona yang tertempel selang infusan.
^^^Viona^^^
^^^Urus aja hidup lo sendiri! ^^^
^^^Hidup gue ya hidup gue, lo engga usah sok ngatur gue lagi! ^^^
^^^*Kalandra Wijaya^^^
Varo brengsek 🐅
Oh jadi lo yang bawa adik gue!
Lo apain adik gue anying!
Dimana lo? Gue samperin lo sekarang juga!
^^^Viona^^^
^^^BUKAN URUSAN LO!^^^
^^^Lo sakitin Viona, lo berurusan sama gue mulai sekarang! ^^^
^^^Jangan coba-coba lo sakitin dia lagi! ^^^
Setelah mengirimkan pesan itu Kalan langsung memblok nomor Varo dari kontak Viona dan menghapus seluruh chat dari Varo.
Sedikit banyak Kalan memang sudah tau siapa itu Varo, namun Kalan berpura-pura tidak tahu tentang itu.
"Lo memang cewe kuat, Vi"
"Gue salut sama lo" ucapnya kepada Viona.
__ADS_1
Setelah meyakinkan bahwa Viona aman, Kalan memasuki kamar yang memang sudah tersedia disana, merebahkan tubuhnya dan mulai ikut terpejam.