Kalandra Elvano

Kalandra Elvano
Kecelakaan Yang Tak Terelakan


__ADS_3

Mommy menggeleng kuat ketika sang anak laki-lakinya menginginkan kepergiannya bersama dengan Viona.


“Bang” panggil mommy dengan lembut namun taka da jawaban apapun.


“Bang..” panggilnya lagi.


Namun nihil..


Kalan tetap tak ada respon.


Dengan jantung yang sudah bergemuruh, mommy Adin menguatkan diri untuk melonggarkan pelukannya kepada sang anak untuk melihatnya karena tak ada respon sejak tadi.


“Abang!!!!”seru mommy ketika melihat Kalan yang sudah memejamkan matanya dengan suhu badan yang panas tinggi.


Sepertinya Kalan demam.


“Daddy!!!” teriak mommy dengan sekencang mungkin.


Panik


Itulah kata yang tepat melihat mommy kini.


“Iy.. Abang” ucap daddy yang baru saja sampai diambang pintu.


“Abang bangun, nak” seru daddy dengan menepuk-nepuk pipi sang anak.


“Nicholas!” seru daddy.


“Iya tuan”


“Panggil dokter Sisil sekarang juga!”


“Baik”


Dengan sigap papi Nicholas menghubugi dokter Sisil.


***


“Aaaaarghhh…” teriak Kalan untuk kesekian kalinya, setelah kesadarannya kembali pulih.


Prangg…


Prang…


Suara barang pecah yang berasal dari kamar Kalan.


Kalan frustasi


Kalan sudah terlalu kehilangan


Kehilangan wanita yang sangat ia sayangi..

__ADS_1


“Mom” isak tangis Tikha ketika melihat sang kakak sulung sebegitu hancurnya. Mengingat apa yang tadi dikatakan oleh Sisil.


Setelah memeriksa keadaan Kalan yang secara mendadak pingsan membuat seluruh keluarga Wijaya panik.


Menarik nafasnya dalam, walaupun gugup namun Sisil harus tetap memberitahukan keadaan Kalan dengan jujur.


“Tuan muda Kalan mengalami shock berat maka dari itu, suhu badannya langsung naik drastis. Saya sudah memberikan beberapa obat untuk tuan muda, dan saya sudah menyuntik agar tuan muda tetap terlelap beberapa jam kedapan, karena sepertinya tuan muda sudah menjalani hari berat”


“Tapi…” ucap dokter Sisil menggantung membuat seluruh keluarga Wijaya yang sudah berada di hadapnnya kini menunggu dengan cemas.


“Tapi apa? katakan dengan baik” bukan suara daddy Ardi… melainkan suara Tisha si tomboy dari keluarga Wijaya.


Kembali menarik nafasnya dalam-dalam.


“Maaf sebelumnya, dengan berat hati saya akan memberitahukan bahwa tuan muda sudah mencapai tingkat depresi”


“Saya hanya bisa berharap, semoga tuan muda bisa menjalani hari-harinya seperti biasa, dan bisa melewati masa masa sulit ini. Mengingat tuan muda adalah pria yang memiliki ingatan yang sangat baik dan itu yang membuat saya sedikit khawatir dengan kondisi mental tuan muda” jelas panjang lebar dokter Sisil dengan terselip rasa kekhawatiran.


Deg


Jantung seluruh keluarga Wijaya seperti terhantam belenggu yang sangat keras.


Mommy Adin sudah mulai kehilangan kesadarannya, andai tidak ada daddy Ardi yang sigap dengan sang istri mungkin mommy sudah terjatuh.


Daddy dengan sigap menggendong mommy ala bridal style.


“Nicholas! Siapkan kamar untuk dokter Sisil, dan kerahkan semua dokter dari negara manapun untuk kesembuhan anakku!” sarkas daddy Ardi sebelum meninggalkan kumpulan keluarganya itu.


“Kalau begitu saya permisi, saya akan mempersiapkan semuanya” ucap Dokter Sisil ikut beranjak pergi.


Tinggalah, Miko, Arda, Twince, Nathan dan para keluarga yang lainnya.


“Sha” lirih Tikha kepada sang adik Tisha.


Tikha memang tidak sekuat Tisha yangkini hanya bergeming, Tikha sudah menangis sejak tadi sama seperti sang mommy. Berbeda halnya dengan Tisha yang bisa menyembunyikan air mata kesedihannya, Tisha memang kuat, sama seperti Kalan, Nathan dan juga sang daddy.


“Lo harus yakin, kalau bang Kalan itu orangnya kuat!” ucap Tisha dengan mengelus pundak Tikha dengan lembut.


***


Kini Kalan sudah duduk di pinggir ranjangnya dengan memeluk kedua kakinya.


Begitu juga dengan sang mommy yang ikut sakit melihat anak laki-laki yang sangat ia sayangi kini terlihat sangat depresi.


Dengan segala kekuatan hati daddy melangkah maju mendekat ke arah sang anak sulung.


“Boy” panggil daddy ketika sudah berada di hadapan anaknya.


Kalan mengangkat kepalanya dan melihat sorot mata daddynya.


Daddy Ardi sangat sakit melihat Kalan yang seperti ini, sorot mata tajam namun penuh luka.

__ADS_1


Tanpa sepatah kata pun Kalan langsung memeluk tubuh tegap sang daddy. Kalan memang sangat dekat dengan kedua orang tuanya.


Daddy hanya menepuk pelan punggung sang anak yang kini sudah kembali menangis dalam pelukannya.


“Daddy tahu kamu anak yang kuat boy” ucapnya dengan lirih.


“Daddy juga tahu bahwa kamu tidak akan mengkhianati kepercayaan kami pada kamu sepenuhnya”


“Dan daddy juga yakin kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan bisa keluar dari masalah apapun”


“Jadi daddy mohon nak, daddy mohon dengan sangat kepada mu, boy”


“Kamu harus kuat, kamu harus bisa keluar dari masa-masa sulit ini”


“Kamu harus ingat, masih ada daddy, Nathan, twince dan mommy kamu yang menunggu kesembuhan mu nak”


“Kamu tidak boleh kalah dari masa-masa sulit ini”


“Tapi… abang mau Viona dadd. Abang Cuma mau sama Viona aja”


“Bang” panggil Tisha..


Dengan perlahan, Tisha ikut duduk berhadapan dengan kakak dan daddynya.


Mengusap lembut punggung sang kakak, “I’ts oke kalau lo mau sedih-sedih kaya gini, tapi gue Cuma bisa izinin lo kaya gini sampai hari ini aja ya bang. Gue harap besok lo udah bisa bangkit lagi bang. Lo harus inget, masih ada orang-orang yang sangat sayang sama lo bang”


“Arggggh…” bukannya menjawab Kalan kembali mengerang hebat dengan memegang kepalanya kuat-kuat, tindakan itu adalah tindakan dimana Kalan yang tidak menerima semua kejadian yang menimpanya. Kejadian yang sangat membuatnya terluka.


Dan tanpa sadar, Kalan bangun dari duduknya dengan kembali dengan sorot mata tajamnya.


Melangkah dengan langkah lebar, menulikan pendengarannya tetap dengan langkah lebarnya, menuju parkiran dan menyalakan mesin mobilnya, entah ia akan pergi kemana.


“Abang” seru mommy.


“Biar daddy dan yang lain aja yang kejar” perintahnya.


Daddy dan Nicholas berada di satu mobil, dan yang lain berada di belakang mobil daddy untuk mengejar Kalan, sedangkan Ardan dan Miko menaiki motor agar cepat untuk menemukan mobil Kalan.


***


“Mik, itu mobil Bang Kalan Mik” ucap Ardan ketika melihat mobil Kalan yang masih berajalan dengan kecepatan tinggi.


“Kita kej…” belum Miko menyelesaikan perkataannya, kejadiaan yang ada di hadapannya membuatnya semakin shock sampai motor yang ia kendarai pun berhenti mendadak.


“Abaaaang!!!” teriak Miko dan Ardan..


Kecelakaan tidak terelakan lagi, Kalan mengahantam sebuah truk tepat di hadapanya, dan mobil Kalan pun berguling.


Dan


BOM

__ADS_1


Mobil Kalan pun meledak dan terbakar.


__ADS_2