
"Pacar lo anak keluarga dari Wijaya?!" hentak kakak tiri Viona.
Viona yang baru saja tiba di rumahnya sudah di kejutkan dari pertanyaan kakak tirinya, Varo.
DeVaro Alexander, kakak tiri Viona, wanita simpanan Gionino Alexander selama bertahun-tahun yang tidak di ketahui oleh siapapun.
Wanita simpanan itu pun menyeruak ke bumi saat Varo telah lahir ke dunia dan menimbulkan perpecahan diantara Gionino dan istri sahnya (mami dari Viona). Sejak kejadian itu mami Viona yang memiliki riwayat penyakit jantung pun pingsan dan tidak dapat tertolong lagi.
"Apa si?" tanya Viona kepada Varo.
"Engga usah sok belaga engga tau lo! Dasar anak engga tau diri!"
Plak...
Satu tampara lolos di pipi mukus Viona.
"Heh!"
"Anak yang engga tau diri itu lo! Lo yang udah ngerebut kebahagiaan keluarga gue!"
"Engga usah banyak bantah!"
"Masuk lo!"
"Brengsek!" teriak Viona sebelum meninggalkan Varo di ruang tamu.
"Gue engga boleh kalah dari cowo itu!" ucap Viona dengan mengusap air matanya.
"Sialan!" teriak Viona ketika hidungnya kembali mengeluarkan darah.
"Mami.... " teriaknya dengan kembali merengek seperti bayi.
"Vio engga cape ko mami, Vio engga cape" adunya lagi ketika mengingat pesan terakhir dari sang mami, bahwa Viona harus terlahir sebagai wanita yang kuat, walaupun sudah tidak ada sang mami di sampingnya.
"Vio kuat ko mami, mami tenang aja ya" ucapnya lagi seakan-akan sang mami berada di hadapannya.
"Tapi Vio cuma pengen di peluk mami sebentar aja mi..."
"Vio bukan mau ngeluh, tapi Vio cape kalau barus mimisan sama harus minum obat setiap waktu aja mi.."
"Om Zacky lagi berusaha kok mam, lagi berusaha cari donor sumsum tulang belakang buat Vio"
"Tapi maaf ya mam, Vio suka nakal, suka engga minum obatnya" adunya lagi dengan terkekeh kecil.
Kini kepala Vio sudah di letakan diantara kaki kanan dan kirinya, dengan tangan yang memeluk kedua kakinya.
Anak SMP yang sudah harus di dewasakan oleh keadaan. Baik keadaan dalam keluarganya dan kondisi tubuhnya saat ini yang sangat memprihatinkan.
Bunyi alarm dari jam yang ada di pergelangan tangannya mampu membuat Vio membuka matanya.
"Waktunya minum obat" ucapnya dengan penuh semangat.
Vio bangkit dari duduknya untuk ke toilet terlebih dahulu membersihkan wajahnya, setelah itu dirinya turun untuk mengambil air putih untuk meminum obatnya.
"Nona mau minum obat?" tanya mbo yang sudah bekerja dari semenjak Viona masih kecil.
"Iya mbo"
"Biar mbo yang siapin"
"Engga apa-apa mbo, Vio minumnya di kamar kok" tolak Viona secara halus.
Mbo mengangguk patuh.
"Oya mbo, abis minum obat nanti Vio mau keluar rumah dulu ya, Vio mau ketemu sama Fedrika"
"Iya nona, nona jangan lupa bawa obatnya ya"
"Siap mbo"
__ADS_1
...****************...
"Mau jualan dimana Rik?" tanya Viona.
Kini Viona sudah ada di rumah sederhana milik Fedrika, teman sekaligus sahabat wanita satu-satunya yang Viona miliki.
"Di depan sana, Vi"
Viona mengangguk, "ayo"
"Oke"
Viona bertemu dengan Fedrika di sebuah cafe yang dimana ada seorang anak kecil seumuran dirinya sedang berjualan kue di sebrang jalan.
Viona menghampiri anak kecil yang sebaya dengan dirinya itu, membeli kue dan mengajaknya untuk berkenalan.
"Aku Viona, nama kamu siapa?"
"Aku Fedrika"
"Hallo Rika"
Fedrika mengerutkan keningnya, "ko Rika?"
"Iya, nama kamu Fedrika 'kan?" tanya Viona dan diangguki oleh Fedrika.
"Jadi aku panggil kamu Rika, boleh?"
"Boleh"
Viona tersenyum, "boleh kita temenan?" tanya Viona.
Fedrika sempat terdiam, melihat penampilan Viona yang sangat wangi, bagus dan rapih meyakinkan dirinya bahwa Viona adalah anak orang kaya yang tidak pantas untuk berteman dengannya yang hanya anak orang tak mampu.
Fedrika hening.
Viona melihat tatapan Fedrika yang melihat penampilannya, "pokoknya kita temenan ya"
"Tapi kamu anak orang kaya"
"Loh, emangnya kenapa? Lagian yang kaya kan papi ku bukan aku, Rik"
"Ya, mau ya temenan sama aku" paksa Viona.
Fedrika mengangguk, "iya boleh"
"Hore" senang Viona.
Dan sejak saat itu Viona dan Fedrika menjadi sangat dekat.
"Hey" sentak Fedrika yang melihat Viona melamun.
"Eh iya Rik?"
"Kok kamu melamun"
"Heheh engga kok"
"Kamu engga bisa bohong Vi sama aku"
"Heheh, aku lagi ke inget awal kita ketemu, lucu juga ya"
Seakan teringat, Fedrika pun ikut terkekeh bersama dengan Viona, "iya ya bener"
"Lucu ya" lanjutnya.
Dan sampai saat ini tidak ada satu pun yang mengetahui bahwa Viona sedang sakit yang semasa hidupnya hanya di isi oleh obat-obatan.
...****************...
__ADS_1
"Gem kita duduk dimana?" tanya Viona kepada Gema.
"Kenapa engga di belakang aja, Vi?"
Viona mengangguk, "yuk kita duduk di belakang"
"Eh eh"
"Kenapa?" tanya Gema.
"Yang namanya Kalan yang mana ya, Gem?"
"Loh, bukannya lo udah tau?"
Viona menggeleng, "enggak"
"Dikira gue lo udah tau"
"Tuh yang duduknya di pojokan" lanjut Gema.
Viona tersenyum, "oke kita duduk di meja sebelahnya" kata Viona dan diangguki oleh Gema.
"Hah?" Gema ngebug.
"Hay" sapa Viona kepada Kalan yang sedang membaca buku.
Kalan melihat ke arah Vio, namun Kalan tidak menggubris nya, Kalan kembali membaca bukunya.
"Gue Viona" katanya sambil memberikan tangannya untuk berkenalan.
Namun tetap, Kalan tidak menggubris nya.
Gema yang melihat itu memanggil Viona, "Vi sini duduk, sebentar lagi ada guru yang masuk"
Viona melihat ke arah Gema dan tersenyum, "iya Gem"
"Bener 'kan apa yang gue bilang, kalau dia itu cuek banget, Vi" bisik Gema.
Viona mengangguk, "tapi gue yakin kalau dia itu baik, Gem"
"Terserah elo dah Vi, terserah"
...****************...
"Ternyata elo dari keluarga Wijaya!" teriak Varo kepada Kalan yang sedang makan siang bersama dengan Miko.
Ya.. Miko sudah pindah hari ini, tepatnya tadi pagi.
Sontak saja pernyataan dari Varo membuat semua pengunjung kantin terkejut dibuatnya, bagaimana tidak terkejut, siapa yang tidak kenal dengan keluarga Wijaya yang terkenal kejam ituM
Sudah cukup mereka di risaukan oleh keluarga Alexander kini sudah ada keluarga Dianya di dalamnya. Sepertinya akan ada kolaborasi yang sangat bagus.
Kalan menarik nafasnya panjang, ini yang snahat tidak diinginkan oleh Kalan, jati dirinya terungkap, belum ada satu minggu Kalan bersekolah disini, namun jati dirinya sudah terbongkar begitu saja.
Dengan nada yang santai dan tetap stay calm Kalan menjawab, "Kalau iya kenapa?" tanyanya dengan kedua tangannya di masukan ke dalam saku celananya.
"Jangan mentang-mentang lo yang punya sekolah ini jadi elo bisa seenak jidat lk aduin semua ke bokap lo!"
"Cih dasar anak manja!" lanjutnya.
Kalan tersenyum, "sorry, gue bukan anak manja seperti apa yang lo barusan bilang, tapi itu udah kesalahan lo yang memang harus lo Terima konsekuensinya!"
"Jadi cowo sejati itu, ucapan dan tanggung jawab bukan yang di pegang? Kalau hanya omongan saja yang di pegang tapi engga ada bukti, bukannya itu cewe?"
Varo kalah telak!
Seluruh siswa dan siswi yang berada di kantin itu pun menahan tawanya, baru kali ini ada yang bisa mengalahkan ucapan dari seorang Varo.
Varo mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Adik kelas engga tau tata krama lo!" teriaknya dan meninggalkan Kalan.
Wajah Varo berubah menjadi merah karena merasa malu sudah di kalahkan oleh adik kelasnya.