
"Kalian udah saling kenal?" tanya Dokter Sesil.
"Jangan bilang kalau Vio itu pasien kamu sayang" tebak Dokter Sesil kepada suaminya, dokter Zacky.
Dokter Zacky mengangguk, "iya sayang, Viona ini pasien aku, pasien yang sering aku ceritain ke kamu" jelasnya.
"Kamu kenapa Vi?" tanya Dokter Zacky kepada Viona.
"Tadi Vio mimisan, dok" jawab Kalan.
"Kenapa hem? Kamu kepanasan? Atau kecapean? Obatnya di minum 'kan Vi?"
Viona hanya diam.
"Vi" panggil dokter Zacky.
"Di minum ko dok"
"Terus kenapa?"
"Makan bakso sama es teh manis dok" jawab Kalan lagi.
Dokter Zacky melototkan matanya, "bakso sama es Vi?"
Viona menganggukkan kepalanya lemah, "maaf dok"
"Kenapa Vi?"
"Pengen"
Dokter Zacky menggelengkan kepalanya.
"Sayang, boleh aku bawa pasienku ke rumah sakitku?" tanya Dokter Zacky.
"Kenapa di bawa?" tanya Kalan bukan Dokter Sesil.
"Karena ini pasien saya tuan muda"
"Di rumah sakit ini memangnya tidak lengkap? Atau tidak canggih?"
"Saya akan bilang kepada daddy kalau rumah sakit ini harus di perbaharui" tegas Kalan dengan mengambil ponselnya.
Dokter Sesil di buat kelabakan oleh perkataan dari Kalan, "eh engga bukan gitu maksudnya tuan muda"
"Terus gimana? Jangan kalian pikir saya masih kecil dan saya tidak bisa bertindak tegas ya!"
"Maaf tuan muda" ucap Dokter Sesil dan dokter Zacky.
"El" panggil Viona.
Kalan menoleh ke arah Viona, "apa?" tanyanya.
"Bener apa yang di bilang dokter Zacky, gue itu pasirnnya dia, jadi gue harus di abwa ke rumah sakit Alexander bukan rumah sakit Satya"
"Ya kenapa?"
"Karena asal gue dari sana, jadi gue harus di sana juga"
"Maksudnya gimana?"
"El, gue engga punya biaya kalau harus di sini, gue harus bayar kalau disini, kalau di Alexander gue engga harus bayar itu kan punya papi gue"
"Kamu akan saya fasilitasi sampai kamu sembuh, Viona" ucap seorang pria yang baru saja masuk ke ruangan dokter Sesil.
Seluruh atensi yang ada di ruangan itu pun mengalihkan pandangannya ke asal suara yang baru saja datang.
"Daddy"
"Tuan besar" ucapnya secara bersamaan.
Ya yang datang ke rumah sakit Satya adalah Ardi Wijaya ayah dari seorang Kalandra.
"Nicholas" panggilnya.
"Iya tuan"
"Buat pertemuan dengan kepala rumah sakit Alexander untuk membicarakan perpindahan dokter Zacky dan pasiennya ke rumah sakit Satya"
"Dan buat pertemuan dengan tuan Alexander"
Dokter Zacky dan Viona melotot mendengar itu, "gi... gimana maksudnya?" tanya Viona.
"Kamu akan di pindahkan ke sini, kamu tenang saja saya akan meng-upgrade rumah sakit ini agar kamu bisa nyaman ketika di rawat disini. Dan untuk biaya kamu engga perlu khawatir, kamu engga perlu bayar karena kamu udah tanggung jawab kami, anggap saja kami ini keluarga kamu"
__ADS_1
"Ba.. baik" jawab Viona dengan wajah bingungnya, entah dia harus senang ataupun sedih, tetapi apapun itu ia harus tetap harus menikmatinya.
Karena hidup memang untuk di nikmati 'kan?
"Maaf sudah merepotkan" ucap Viona lagi.
"Kamu tidak perlu sungkan seperti itu, kita ini sudah keluarga"
"Kamu sudah menjadi tanggung jawab anak sulung saya, Kalan"
Viona tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Kamu bisa kembali ke rumah sakit Alexander" Ucap daddy Ardi kepada doter Zacky.
"Baik"
"Besok kamu sudah langsung pindah kesini, khusus dokter vvip sama seperti dokter Sesil" jelas daddy Ardi.
"Terimakasih tuan besar, sekali lagi saya ucapkan terimakasih"
Daddy Ardi mengangguk.
...****************...
📩 Gema Takbir📣📣📣
Ona
Mau Gema bawain apa?
Gema sama duplikat nya cuek mau ke sana nih
Sama bunda ayah juga, tapi bunda sama ayah udah ke sana duluan
^^^Viona^^^
^^^Bawain apa ya? 🤔^^^
^^^Ona mau coklat aja, Gem^^^
^^^Bunda sama ayah kesini?^^^
^^^Gema bilang ke bunda sama ayah?^^^
^^^Ih ko jahat banget sih😤^^^
Gema Takbir 📣📣📣
Engga apa-apa kok, udah ya Gema sama duplikat nya cuek mau jalan kesitu dulu
Dah ona
^^^Viona^^^
^^^Dah^^^
Setelah selesai membalas pesan dari Gema, Viona melihat ke arah Kalan.
"Apa?" tanya Kalan tiba-tiba.
Viona mengerutkan keningnya tanpa berkata apa-apa.
"Engga usah bingung gitu, kenapa? tanyain aja" ucap Kalan lagi.
"Lo tukang sulap?" tanya Viona tanpa dosa.
Kalan menurunkan bukunya yang sedang ia baca, "maksudnya gimana?" tanyanya.
"Ko lo bisa tau kalau gue lagi liatin lo? Dan lo juga tau kalau gue lagi bingung, lo cenayang?"
"Sembarangan"
Viona terkekeh, "lo jadi banyak ngomong sekarang, engga kaya pertama"
"Lebih asik" lanjutnya.
Kalan mengangguk-anggukan kepalanya, "terus?"
"Hem apa lagi ya?" tanya Viona sambil berpura-pura berfikir.
"Lo abis dari SMP ini mau di terusin kemana?"
"Hah?"
__ADS_1
Viona mengangguk, "iya, lo abis dari SMP ini mau kemana?"
"Kita masih kelas 1, engga usah lo tanyain dari sekarang juga"
"Engga usah di pikirin, itu engga penting"
"Hem"
"Kenapa lagi?"
"Gue mau minta sama lo deh El"
"Minta apa?"
Viona menatap ke atas.
Kalan pun mendekat dan duduk di kursi yang ada di sebelah Viona.
"Lo mau apa? Kalau gue bisa lakuin, gue lakuin. Jangan anggap gue remeh, walaupun gue masih SMP tapi gue bisa ngelakuin semua pekerjaan orang dewasa"
"Gue mau lo jangan kasih tau penyakit gue ke siapapun, termasuk Gema"
"Santai, itu engga penting juga buat gue. Engga ada urusannya juga buat gue, bukan gue banget kalau harus sebarin kelemahan orang lain"
"Termasuk kak Varo"
"Kakak Osis yang songong itu?"
"Heh engga boleh gitu, itu kakak gue tau"
"Mana ada Vi, kakak kaya gitu!"
"Kakak tiri"
"Oh"
"Engga peduli juga sih gue" lanjutnya.
"Oke gue pegang omongan lo"
"Ya"
...****************...
"Ona" panggil Gema ketika sudah menemukan ruangan Viona.
Viona memang sudah di pindahkan ke ruangan VVIP di Satya medica dengan selang infus yang sudah menancap di lengan kirinya.
"Gema" panggil Viona.
"Ini Gema bawain coklat buat Ona" ucapnya sambil memberikan coklat titipan Viona.
"Makasih banyak Gema"
"Sama-sama Ona"
"Oya, bunda sama ayah belum datang?" tanya Gema kepada Viona.
"Belum" jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Mungkin sebentar lagi" jawab Miko menengahi.
"Mungkin"
"BangKa" panggil Miko dan mendekat ke arah Kalan, biarkan Viona dan Gema bercerita sesuka hatinya.
Kalan menoleh ke arah Miko, "apa?"
"Gimana bang? Udah tau?" tanyanya.
Kalan mengangguk, "udah gue kasih tau lo juga kok, Mik"
"Buka aja pesan dari gue"
"Abang ngechat emang?"
"Lo bisa liat"
Miko merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya, dan melihat ada satu notifikasi di layar ponselnya.
Miko tertawa bodoh ketika melihat layar ponselnya bahwa memang Kalan mengirim pesan kepada dirinya.
"Bang kita ada tanding basket minggu ini"
__ADS_1
Kalan mengangguk, "siapin aja semuanya"
"Siap bang"