
“Sialan!” teriak Daffa ketika melihat Viona yang lari melalui tangga darurat.
“Viona!” teriaknya lagi yang kemudian bangun dan mengejar Viona.
Viona semakin lari terbirit-birit menuruni anak tangga satu persatu dengan nafas yang sudah kelelahan itu. Selalu melihat ke arah pintu lantai 7 terbuka atau tidak karena takut-takut Daffa mengejarnya.
Brak.. pintu lantai 7 terbuka secara paksa.
Viona yang melihat itu membulatkan matanya, Viona semakin di buat ketakutan ketika melihat Dafa yang mengejarnya.
“Mami Vioa takut mam” lirih Viona sambil terisak.
“Viona!” panggil Dafa.
Nafas Viona semakin kelelahan dengan berat Viona membuka pintu darurat yang berada di lantai 5, Viona akan memilih untuk menaiki lift pikirnya.
Ceklek... pintu darurat terbuka.
“Aaaa” teriak Viona ketika merasakan ada yang menarik dirinya.
“Ssst… Ini aku Fedrika” bisik Fedrika kepada Viona.
Viona melihat ke sebelahnya dan ternyata benar bahwa itu adalah Fedrika, “ayo ikut aku, kita harus bersembunyi” ajaknya dan diangguki oleh Viona.
Fedrika dan Viona pun berlari mencari celah untuk bersembunyi, dan Viona belum tersadar dengan pria yang ikut bersembunyi dengan dirinya dan juga Fedrika.
“Kita bersembunyi disini aja dulu” ucap Fedrika dan diangguki oleh Viona.
“Minum dulu Vi” kata Fedrika dengan memberikan es yang berada di tanganya.
Viona mengangguk, “makasih ya Ka” ucap Viona dand iangguki oleh Fedrika.
Perlahan tapi pasti Viona melihat kea rah pria yang berlalri bersamanya, matanya semakin membola ketika melihat siapa yang sedang bersembunyi bersamanya saat ini, “Fedrika kita ha… harus lari jangan disini” ucap Viona dengan penuh ketakutan.
“Kenapa?”
“Di… Dia Da.. Dafa” tunjuknya kepada Devan.
Fedrika dan Devan yang mengerti pun menggeleng secara bersamaan, “ Vi dia Devan bukan Dafa” timpal Fedrika.
“Gue Devan kembarannya Dafa” timpal Devan kepada Viona.
Viona merasa lega mendengarnya.
__ADS_1
Brak… pintu lantai 5 kembali terbuka secara paksa.
Ketiga manusia yang sedang bersembunyi dan mengintip dari celah kecil membulatkan matanya ketika Dafa yang membuka pintu tersebut. Viona membekap mulutnya karena merasa sangat terkejut, bagaimana Dafa bisa tahu bahwa dirinya masuk ke lantai 5?
“Dimana kamu Viona?” teriak Dafa dengan nada yang sangat marah.
“Gue tau lo pasti ada di sekitaran sini ‘kan?” lanjutnya lagi.
Dafa semakin gencar mencari Viona secara perlahan, Dafa yakin bahwa Viona berada di lantai ini dan tidak kemana-mana.
Dan tanpa di duga, alarm jam tangan Viona berbunyi menandakan bahwa dirinya harus segera meminum obatnya.
Ketiga manusia yang sedang bersembunyi itu pun membulatkan matanya, merasa terkejut dengan kejadian yang tanpa di duga ini, kejadian yang semakin membuatnya menegang.
Seringai senyum jahat terlukis di wajah tampan Dafa yang mendengar suara alarm jam tangan milik Viona yang tidak jauh dari dirinya berdiri saat ini.
“Viona I’m coming”ucap Daffa dengan berjalan perlahan mendekat ke asal suara alarm itu.
Viona menekan-nekan tombol yang berada di jam tangannya agar segera mati, namun ternyata sangat sulit.
Tersisa 3 langkah lagi Dafa mendekat ke asal suara tersebut.
Namun..
“Hey anak kecil, kamu sedang apa disini?” tanya seorang wanita yang tersenyum lembut kepada Daffa.
Wanita itu mengerutkan keningnya, “teman? Anak seumuran kamu boleh masuk ke sini bersama teman?”
Dafa yang malas untuk menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi itu pun memilih untuk meninggalkan wanita tersebut. Wanita tersebut menggelengkan kepalanya ketika melihat Daffa yang pergi begitu saja tanpa permisi.
“Dasar anak zaman sekarang, bisa-bisanya dia pergi ke hotel bersama temannya” gumam wanita tersebut.
“Tapi kok bisa ya anak kecil masuk ke hotel ini?” tanyanya pada diri sendiri.
Tidak mau ambil pusing wanita tersebut memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.
Rasa lega dalam hati terdapat pada ketiga anak manusia yangs edang bersembunyi, semula memiliki rasa tegang dari suara alarm yang mengejutkan, kini rasa tegang iutu berubah menjadi rasa lega yang mereka alami. Rasa lega dari suara alarm yang sudah mati, dan rasa lega dari suara wanita yang samar-samar masih bisa mereka dengar.
“Allhamdulillah, untung aja ada mba-mba itu” kata Fedrika dengan nafas yang sangat amat lega.
Viona mengangguk, “untung aja” timpal Viona yang sama-sama mengeluarkan nafas leganya.
“Yaudah ayo keluar, sebelum Dafa kembali ke sini” ajak Devan kepada kedua wanita kecil yang berada di hadapannya ini.
__ADS_1
Fedrika dan Viona mengangguk secara bersamaan membenarkan apa yang di katakan oleh Devan.
Ketiganya bangun dan berjalan menuju lift untuk menuju lantai 1.
***
“Kamu harus ceritain ke kita Vi, kenapa kamu bisa sama Dafa di hotel itu?” tanya Fedrika kepada Viona ketika kini ketiganya sudah berada di taman yang jauh dari lingkungan hotel.
Viona mengangguk-anggukan kepalanya, “iya nanti aku ceritain ke kalian tapi nanti ya aku masih takut” jawabnya.
Devan dan fedrika mengangguk secara bersamaan.
Viona menarik nafasnya dalam-dalam yang kemudian membuangnya, “jadi gini ceritanya, Dafa jemput aku ke rumah, Dafa bilang ke kak Varo kalau dia itu mau ajak aku nonton ke bioskop, di jalan Dafa selalu bilang ke aku kalau dia itu mau milikin aku, aku marah dan Dafa tetap bilang kalau dia mau milikin aku, engga tau kenapa Dafa malah ajak aku ke hotel itu, aku sempet tanya ke dia kenapa aku di ajak kesini, dia Cuma bilang dia mau miliki aku”
“Kenapa kalian bisa masuk ke hotel itu? Bukannya anak kecil engga bisa masuk ke hotel ya?” tanya Devan ketika Viona selesai menceritakannya.
Viona mengangguk, “Dafa bilang ke recepsionis kalau ada keluarganya yang akan datang setelah ini, karena ayahnya udah booking kamar tersebut, resepsionis itu percaya dan kasih Dafa kunci kamar hotel, maka dari itu kita bisa ada di dalam” jelas Viona dan mendapati anggukan dari keduanya.
“Terus kenapa kalian bisa ada di dalam hotel itu?” tanya balik Viona.
“Aku tadi liat kamu sama Dafa di jalan, aku liat wajah kamu kaya yang marah sama kesel gitu loh Vi” jelas Fedrika.
“Aku mau telepon kamu, tapi engga kamu angkat-angkat” lanjutnya lagi.
Dengan segera Viona mengambil ponselnya, “maaf ponselnya ke silent” ujarnya.
“Engga apa-apa”
“Terus kamu Van?”
“Aku punya perasaan engga enak pas Dafa keluar dari rumah. Kamu juga pasti tau kalau anak kembar itu bisa ngerasain hal yang sama ‘kan?” tanyanya dan diangguki oleh Viona.
“Karena rasa engga enak itu, aku ikutin Dafa sampai dimana aku ketemu sama Fedrika di jalan dan ceritain semuanya”
“Sampai dimana kita lihat kamu sama Dafa lagi kejar-kejaran di tangga darurat dan kita memilih untuk turun ke lantai 5 lewat lift. Karena kita berdua yakin kamu engga akan kuat kalau turun sampai ke lantai 1 lewat tangga darurat. Dan untung aja feeling kita berdua bener, dan kita temuin kamu di lantai 5 tepatnya di pintu darurat itu” jelas Devan lagi.
Viona manggut-manggut tanda mengerti, “kalian datang di saat yang tepat, dan makasih banyak ya udah nolongin aku” ucapnya dan memeluk tubuh Fedrika.
“Iya sama-sama Vi, mulai sekarang kamu harus hati-hati sama Dafa” ujar Fedrika dengan mengelus lembut punggung Viona. Dalam pelukan itu Viona mengangguk.
“Yaudah kita anter kamu pulang” ucap Devan.
Viona melepaskan pelukannya, “engga apa-apa aku bisa pulang sendiri kok” jawabnya.
__ADS_1
Fedrika menggeleng, “kamu harus pulang sama kita”
“Kalian berdua naik taksi biar aku ikutin kalian pakai motor dari belakang” timpal Devan dan diangguki oleh keduanya.