
“Kangen banget” ucap Gema kepada Viona.
“Lebay banget lo, setiap hari juga ketemu sama gue”
“Eh iya juga ya” kata Gema dan mendapatkan kekehan dari Gema dan juga Viona.
“Eh, Viona udah ketemu Kalan?”
“Udah, tapi sekarang dia keluar engga tau kemana”
“Kenapa?” tanya Viona.
“Kemarin kan Kalan sama Varo berantem” bisik Gema kepada Viona.
Viona membulatkan matanya, “serius lo?”
Gema menganggukkan kepalanya, “serius banget”
“Tapi Engga ada yang kalah engga ada yang menang juga, gara-gara Kalan tau Vio kabur jadi berantemnya di berhentiin gitu aja”
“Tapi gue kemarin liat Varo kok biasa aja ya, Kalan juga tadi engga kenapa-kenapa. Eh apa mereka berdua punya penyakit dalam ya mangkanya di luar engga keliatan” ucap Viona dengan penuh dengan dugaan-dugaan yang tidak jelas.
Gema mengusap wajah Viona dengan kasar, “mulai lebaynya mulai” ucapnya dan mendudukan dirinya di kursi sebelah Kalan.
“Loh, lo ngapain duduk disitu, itu ‘kan punya Miko”
“Miko nanti sama anak baru duduknya”
“Anak baru? Siapa?” tanya Viona dengan kening yang berkerut.
“Ardan, sepupunya Kalan”
__ADS_1
“Hah? Ko lo tau Gem?”
“Tau dong, Gema gitu loh”
“Dih narsis”
“Tapi masih gantengan Gema ko Vi, Viona tenang aja engga usah khawatir, Gem amah gantengnya engga ada yang ngalahin”
Viona memutar matanya malas, “iya sih iya percaya sama yang ganteng mah percaya” ucap Viona dengan kekehan diantara keduanya.
***
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, empat pelajaran sudah dilakukan oleh Viona, Kalan dan juga Gema sejak pagi, mereka bertiga tidak membuat masalah, hanya diam dan mendnegrakan dengan seksama guru yang silih berganti memberikan materinya kepada mereka.
Sepertinya mereka akan tobat karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan di laksanakan.
“Vio pulang sama siapa?” tanya Gema.
“Vi” panggil Varo kepada Viona.
Baik Viona, Kalan dan juga Gema melihat ke arah Varo yang memanggilnya.
Dengan cepat Kalan dan juga Gema berlari ke hadapan Viona, untuk melindungi Viona dari serangan tiba-tiba Varo.
“Santai guys” ucap Viona dengan memegang pundak Kalan dan juga Gema.
“Mau ngapain lo kesini?” tanya Gema.
“Masalah lo sama gue bukan sama Viona” timpal Kalan.
Varo tersenyum, “weh santai bro” ucap Varo.
__ADS_1
“Gue ke sini mau jemput Viona, mau ajak Viona pulang bareng”
“Viona pulang sama kita berdua” jawab Gema.
Varo tersenyum, “Vi lo pulang sama siapa?”
“Kalian bertiga” jawab Viona dengan penuh senyum sumringah.
“Hah?” ucap Kalan dan juga Gema yang tak mengerti.
Vioan yang mengerti itu pun mengangguk, dan maju ke hadapan Kalan dan juga Gema, “ayo kita pulang bareng, gue, Kalan, Gema dan Varo kita pulang bareng-bareng” jelasnya.
“Lo lagi engga sakit ‘kan Vi?” tanya Gema.
Viona menggelengkan kepalanya, “enggak Gem. Ayo pulang” ajaknya lagi.
Gema dan Kalan pun saling pandang, dan menganggukkan kepalanya secara bersamaan.
Varo dan Viona berada pada satu motor, sedangkan Gema dan Kalan berada pada motor yang berbeda, namun keduanya berada di belakang Viona dan juga Varo.
Jaga-jaga takutnya Viona tiba-tiba di buang sama Varo ada mereka berdua yang sigap untuk
mematahkan tulang kaki Varo. Begitu kira-kira isi pikiran Kalan dan juga Varo.
“Apa yang lagi di rencanain sama Varo?” gumam Kalan dalam hati.
“varo kenapa sih? Itu anak lagi kesambet angina apaan bisa bae tiba-tiba begitu?” gumam Gema dalam hatinya.
Mereka berdua tidak percaya dengan perubahan Gema yang tiba-tiba itu.
Padahal jika mereka berdua tau Varo emmang sudah berubah, berubah karena dirinya tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk bersama dengan Viona yang memiliki waktu yang singkat.
__ADS_1