Kalandra Elvano

Kalandra Elvano
Kalan, Gema dan Galih


__ADS_3

"Gimana abang mom?" tanya Tikha kepada sang mommy.


"Abang gapapa kok Kha"


"Sekarang abangnya mana mom?"


"Ada lagi istirahat, yaudah yuk kita jangan ganggu abang dulu. Abang lagi mau sendiri katanya" ucap lembut mommy kepada anak kembarnya, Tikha dan juga Tisha.


"Mom abang sebigutu sayangnya ya ke ka Vio?" tanya Tisha kepada sang mommy.


"Kenapa Tisha bisa berfikiran seperti itu nak?"


"Abang beda banget mom, semenjak kehilangan kak Vio sampai sekarang abang beda, abang berubah, abang gak kaya abang yang kita kenal mom"


"Iya mom, kita juga pengen main sama abang, pengen becanda lagi sama abang kaya dulu. kita males mom main sama Nathan mulu" timpal Tikha.


"Nathan juga udah males main sama kak twince, mom" jawab Nathan yang tiba-tiba sajaa sudah ikut nimbrung bersama mommy dan kedua kakaknya.


Mommy tersenyum melihat ketiga anaknya yang sedang mengeluarkan semua keluhannya, baru saja tadi mommy berbicara seperti itu kepada Kalan tapi kini ketiga anaknya berkata sedemikian sama kepada dirinya.


"Maafin abang ya de, abang janji abang gak akan kaya gini lagi. Maaf, abang terlalu egois hanya memikirkan diri abang aja" jawab Kalan dari anak tangga yang akan menhampiri mereka berempat.


Baik mommy, twince dan Nathan pun menoleh ke asal suara, "abang" panggil ketigamya dan berlari untuk memeluk sang abang.


"Abang kita bertiga kangen abang" ujar Tikha.


"Iya abang, kita bertiga kangen banget sama abang" timpal Tisha.


"Abang jangan kaya gini lagi ya, abang harus kaya dulu" timpal Nathan.


Kalan mengangguk, "sorry"


Tak terasa air mata mommy menetes begitu saja melihat keempat anaknya sedang berpelukan.


"Kalian adalah anak-anak mommy, mommy engga akan bisa melihat anak-anak mommy sedih atau apapaun itu. Sehat sehat ya kalian anak-anak ku, sampai waktunya tiba kalian harus hidup dengan pasangan kalian masing-masing" ucap mommy dalam hati.


***


Berbeda halnya dengan di kediaman Wijaya. Di kediaman Dermawan kini masih terlihat sepi.


Terdengar suara petikan dari senar gitar yang di petik.


Before you go - Lewis Capaldi


I fell by the wayside, like everyone else


I hate you, I hate you, I hate you


But I was just kidding myself


Our every moment, I start to replace


'Cause now that they're gone


All I hear are the words that I needed to say


When you hurt under the surface


Like troubled water running cold

__ADS_1


Well, time can heal, but this won't


So, before you go


Was there something I could've said


If only I'd have known you had a storm to weather


So, before you go


Was there something I could've said


To make it all stop hurting?


It kills me how your mind can make you feel so worthless


So, before you go


Was never the right time, whenever you called


Went little, by little, by little until there was nothing at all


Our every moment, I start to replay


But all I can think about is seeing that look on your face


When you hurt under the surface


Like troubled water running cold


Well, time can heal, but this won't


So, before you go


Was there something I could've said


If only I'd have known you had a storm to weather


So, before you go


Was there something I could've said


To make it all stop hurting?


It kills me how your mind can make you feel so worthless


So, before you go


Would we be better off by now


If I'd let my walls come down?


Maybe, I guess we'll never know


You know, you know


Before you go


Was there something I could've said

__ADS_1


If only I'd have known you had a storm to weather


So, before you go


Was there something I could've said


To make it all stop hurting?


It kills me how your mind can make you feel so worthless


So, before you go


Terbesit kenangan kenangan indah bersama dengan Viona yang dapat membuat rasa sakit akan kehilangan itu semakin membesar.


"Kak" panggil lembut sang adik.


"Hem"


"Ikhlas kak"


"Susah"


"Ya Galih tau susah tapi mau gimana lagi kak, hanya itu yang bisa kakak lakuin sekarang. Ikhlas"


"Galih yakin, ketika kakak Ikhlas kakak pasti akan merasa lega"


Gema menggeleng, "lo tau Gal, gue ga bisa nemenin dia di sisa akhir hayatnya, gue ga anterin dia ke rumah baru nya"


"Tapi lo yang ada di sisa sisa akhirnya kak, lo yang liat semuanya, lo juga yang nolongin dia"


"Tapi gue engga ada pas dia mau tutup mata Gal"


"Tapi lo ada pas dia tutup mata sebelum sadar dan tutup mata untuk yang terakhir kalinya"


"Kejadian itu masih berputar jelas di otak gue Gal"


"Gue tau kak, gue tau lo masih trauma akan hal itu"


"Gue juga yakin lo maksa untuk pindah karena lo denger jelas penjelasan dokter kalau trauma lo bisa ilang kalau lo sendiri yang mau lawan dengan cara lo beradaptasi lagi di negara dimana lo kenal dia"


Gema melihat ke arah sang adik, "lo pasti tanya kenapa gue bisa tau bukan?" tanya Galih kepada Gema yang mengerti arti tatapan Gema.


"Gue tau lo ada di sana pada saat itu, pada saat dokter menjelaskan semuanya"


"Mangkanya lo maksa bunda sama ayah buat pindah lagi ke Indo"


"Tapi kak menurut gue, kalau emang lu ga kuat ga udah di paksa. Inget lo ga perlu maksa untuk lupa, lo hanya butuh ikhlas dari dalam diri elo"


"Gue juga tau, hidup lo bukan tentang Kak Viona aja, tapi tentang hancurnya persahabatan elo sama kak Kalan karena kesalahan pahaman yang terjadi antara lo dan juga Kak Kalan"


Deg...


Galih menepuk pundak sang kakak, "elo ga perlu tau gue tau dari mana, yang perlu elo tau gue selalu ada disini buat lo. Gue berharap lo cepet sembuh kak, gue pengen banget liat gombal dan genit lagi ke cewe cewe sebelum lo kenal sama kak Viona"


"Thanks Gal. Lo emang adik gue"


"Ya kalau bukan adik lo gue adik siapa kak?"


"Kita kan lahir di satu rahim yang sama"

__ADS_1


__ADS_2