Kalandra Elvano

Kalandra Elvano
Ungkapan Hati Varo


__ADS_3

Setelah selesai dengan ritual mandinya, kini dirinya sedang merapihkan rambutnya dengan melihat pantulan dirinya pada cermin yang ada di kamar miliknya.


Lihatlah rambut Viona semakin rontok, “lama-lama kalau kaya gini terus aku bisa botak” gumam Viona ketika melihat kumpulan rambut rontok pada genggaman tangannya.


“Haaah…” Viona menarik nafasnya panjang dan membuangnya.


Tak lama terdengar suara alarm dari jam tanganya, perlahan tapi pasti viona mengambil obatnya yang selalu ia bawa kemana-mana, yang kemudian ia minum.


“Vi” panggil Varo yang sudah berada diambang pintu kamar Viona yang memang tidak Viona tutup.


Viona melihat Varo dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.


Viona tak menjawabnya, dirinya melanjutkan merias dirinya.


“Viona” panggil Varo lagi.


Viona mengerutkan keningnya, “kenapa sama Varo? Tumben dia manggil lembut banget” gumam Viona dalam hati.


“Lo mau jalan-jalan engga sama gue ke taman? Sekarang?” tanyanya.


Viona menarik nafasnya dan membuangnya kembali, “boleh”


Varo menganggukkan kepalanya, “kalau gitu gue tunggu lo di bawah ya, Vi” ucapnya dan diangguki oleh Viona.


“Aneh” katanya, namun dengan cepat Viona menggelengkan kepalanya.


Dengan celana pendek dan baju pendek yang ia pakai tanpa menggantinya lagi Viona beranjak dari duduknya untuk menepati ajakan Varo dengan dirinya.


“Gue udah siap” katanya.


Varo yang memang sejak tadi menunggunya pun mengangguk, “jalan apa mau naik motor?” tanyanya.


“Jalan aja, taman depan komplek ‘kan?”


Varo mengangguk, “iya”


***


“Sorry” ucap Varo tiba-tiba ketika sudah sampai di taman.


Viona melihat ke arah Varo.


“Sorry Vi” ucap Varo lagi.


“Kenapa?”


“Lo kenapa sih?”


“Lo lagi engga sakit ‘kan?” tanya Viona lagi dengan punggung tangannya yang di tempelkan ke kening milik Varo.

__ADS_1


“Vi” panggil Varo lagi dengan menggenggam tangan Viona.


“Engga usah so baik dan so asik ke gue, Varo!” ketus Viona dan melepaskan genggaman tangan Varo.


“Nih buat elo” kata Varo dengan memberikan es krim kepada Viona.


“Enggak usah so baik”


“Engga ada racunnya ko Vi” kata Varo dan Viona pun mengambil es krim tersebut yang kemudian memakannya.


“Gue dari dulu sebenernya mau kaya gini sama lo Vi, karena gue pengen banget punya adik cewe. Tapi yang gue liat lo itu engga pernah mau deket sama gue, maka dari itu gue ambil kesimpulan kalau gue galak sama elo, elo bisa deket dan nurut sama gue” jelas Varo.


“Dan lo juga harus tau, gue emang engga deket sama bokap, dan engga pernah deket sama bokap”


“yang ada gue kecewa sama bokap, kenapa harus bikin kita kaya gini. Kita kenal tapi kaya enggak kenal”


“Gue engga minta ko Vi, engga minta buat di lahirin dalam kondisi kaya gini”


“Dan gue juga engga minta buat jadi kakak tiri lo, emang takdir engga sebegitu baik buat kita. Tapi lo harus percaya, akan ada waktu dimana lo dan gue bakal temuin bahagia walaupun entah kapan bahagia itu datang” cerocos Varo.


“Sorry, kalau selama ini gue udah jahat sama lo Vi”


“Lo emang cewe yang kuat yang gue temuin Vi”


“Lo kenapa sih? Gue jadi ngerih sendiri tau enggak liat lo kaya gini” potong Viona.


Jdar….


Dunia seperti hancur bertubi-tubi begitu saja mendengar pernyataan dari Varo.


“Kenapa?”


“Kenapa Varo harus tau?”


“Kenapa?” unek-unek Viona yang bercongkol dalam hatinya.


Viona meremas tempat es krim yang sedang ia makan, melihat ke arah Varo yang sedang menatapnya juga.


“Dari mana lo tau?”


“Sorry vi, gue engga sengaja liat obat lo dan gue cari tau tentang itu”


Viona berdiri dengan sigap, “gue engga minta untuk di kasihani sama lo Varo!”


“Selain lo siapa yang udah tau?”


Varo menggeleng, “Cuma gue”


Viona tertawa paksa, “ternyata ini alasan lo, alasan lo ajak gue ke taman, alasan lo beliin es krim buat gue, dan… dan ini alasan lo baik sama gue, care sama gue walaupun baru sebentar, hah?”

__ADS_1


“Ini alasan lo Varo?” tanya Viona dengan amarah yang tidak bisa ia tahan.


“Vi sorry Vi” ucap Varo dengan mencoba merengkuh tubuh mungil dan rapuh itu.


Viona berontak namun tenaga Varo jauh lebih besar di bandingkan dengan Viona.


“Gue engga minta sama Tuhan buat bahagia, varo”


“Gue juga engga minta sama Tuhan buat semua orang tau kondisi gue”


“Gue Cuma minta sama Tuhan buat cabut naywa gue detik ini juga”


“Tapi Tuhan engga pernah dengerin doa gue, Tuhan malah bikin semua orang tau tentang kondisi gue, tentang gue yang sakit-sakitan”


“Tuhan baik sama lo, Vi”


“Tuhan mau elo sembuh dan punya semangat untuk hidup”


“Gue udah engga punya semangat untuk hidup Varo setelah nyokap gue meninggal!”


“Dan lo tau sendiri alasannya!”


“Sorry Vi, sorry”


“Gue engga butuh maaf dari lo Varo”


“Ada dan tanpa maaf dari lo gue akan tetap hidup sampai Tuhan kabulin do ague!”


“Vi, mulai sekarang kalau ada apa-apa lo harus bilang sama gue”


“Gue bukan cewe lemah Varo”


“Pokoknya apapun itu lo harus bilang sama gue, gue akan selalu ada buat lo”


“Udah ada Kalan sama Gema yang selalu ada buat gue Varo, lo engga usah repot-repot khawatirin gue, karena dua laki-laki itu selalu ada di garda terdepan buat gue”


“Jadi lo engga perlu lagi bersikap seperti ini ke gue”


“Tetep, lo tetep harus bilang apapun ke gue, karena gue yang akan selalu ada buat lo 24 jam!”


“Terserah lo”


“Viona Alexander, sorry gue udah jahat sama lo, mulai sekarang gue, Devaro Alexander janji, janji bakal jagain Viona, janji engga akan nyakitin Viona lagi, dan jani akan selalu ada buat Viona dalam kondisi apapun itu!”


Viona terisak, Viona tau Varo sebenarnya anak baik, namun takdirlah yang membuatnya harus seperti itu, jahat dan kejam tidak punya perasaaan dan juga tidak punya hati.


“Dan hari ini, hati itu kembali lunak, dan perasaan itu kembali hadir untuk menyayangi adiknya, adik tirinya”


“Gue emang engga pernah salah dalam menilai orang, apalagi menilai lo. Maka dari itu kenpa gue selalu nurut sama perkataan lo walaupu terkadang gue ngebantah ucapan lo, Devaro!” gumam Viona dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2