
Beberapa jam sebelum di pemakaman
Tok… tok… tok…
Ketukan pintu yang kini sudah berubah menjadi gedoran yang sangat keras dilakukan oleh Ardan dan juga Miko.
Pagi ini keluarga besar Wijaya dikejutkan dengan kabar duka dari keluarga Alexander. Kabar duka yang mampu membuat Kalan terpuruk, pasti!
Bagaimana pun juga Kalan harus tau tentang keadaannya saat ini, baik buruknya keadaan sekarang Kalan benar-benar harus tau.
“Bang!” teriak Ardan dari balik pintu untuk kesekian kalinya.
“Dobrak aja” timpal Miko dan Ardan menganggukkan kepalanya.
“Lo awas!” pinta Miko.
Ardan mengangguk dan agak menjauh dari pintu, begitu pun dengan Miko yang mundur beberapa langkah untuk mendobrak pintu kamar Kalan.
Miko mengambil ancang-ancang untuk segera mendobrak pintu kamar Kalan.
“Gue yang itung ya Mik” ucap Ardan dan diangguki oleh Miko.
1…
2…
3…
Brak…
Satu kali gebrakan pintu sudah terbuka dengan menganga lebar.
“Bang!” panggil Miko dan Ardan ketika pintu sudah terbuka lebar.
Kalan yang sudah bersiap dengan pakaian hitamnya pun menoleh ke arah kedua sepupunya.
“Bang lo…” ucapan Ardan tergantung karena melihat Kalan yang sudah siap.
“Hem” hanya deheman yang lolos dari mulut Kalan.
Sorot mata Kalan yang memang tajam namun sendu itu membuat kedua para sepupunya melihatnya sedih.
“Gue duluan” ucapan Kalan yang lolos begitu saja.
Ardan dan Miko yang masih terdiam pun akhirnya tersadar dari lamunannya, “bang tunggu!” ucap Miko.
“Ayo Dan, kejar bang Kalan” lanjut Miko dengan mengajak Ardan.
“I…iya” jawab Ardan dengan terbata.
***
“Bang..” panggil Nathan kepada Bang Kalan yang masih dengan tatapan tajam namun penuh dengan kesedihan itu.
__ADS_1
Kalan terdiam dan melihat kepada sang adik bungsunya, “bilang ke mommy abang duluan” ucapnya dan kembali melangkahkan kakinya.
“Sama sia…..” belum juga Nathan menyelesaikan ucapannya, Miko sudah terlebih dahulu bersuara.
“Kita duluan, bilang ke mommy nyusul aja, engga usah khawatirin bang Kalan” ucapnya dengan tergesa.
Nathan tak menjawab melainkan hanya menganggukkan kepalanya saja, dan kembali duduk di meja makan, karena sebelum ke rumah duka mereka akan sarapan terlebih dahulu.
***
“Kenapa? Kenapa harus lo pergi gitu aja dari gue, Vi” gumam Kalan di hadapan tubuh kaku Viona.
Yang berada di rumah duka Alexander pun memebrikan ruang untuk kedua sahabat yang kini sudah berbeda alam itu.
“Gu…. Gue harus gimana lewatin ini semua sendirian sekarang Vi?
“Lo tahu bukan? Kalau gue engga bisa tanpa lo, gue udah terbiasa dengan kehadiran lo disini” ucap Kalan dengan lirih.
Tak terasa air mata Kalan menetes begitu saja tanpa diminta, hati siapa yang tidak sesak melihat wanita yang sangat kita sayangi terbujur kaku dihadapan kita saat ini. Dengan cara yang sangat mendadak menurutnya, padahal hari-hari kemarin, Viona terlihat sehat-sehat saja.
Tepukan pelan pada pundak Kalan membuat si empunya dengan segera menghapus air matanya, menoleh ke arah yang sudah dengan enaknya menepuk pundaknya, padahal dirinya masih ingin berbicara dengan wanitanya.
“Kak Viona harus segera di makam kan kak” ucap Tisha dengan suara yang sangat sangat lembut dan pelan.
Adik tomboynya ini seperti sangat mengetahui tentang keadaan hati sang kakak yang amat sangat dekat dengan dirinya itu.
Kalan mengangguk dengan lemah, dan bangun dari duduknya.
***
Binti
Alexander
Lahir : Jakarta, 30 Desember 2008
Wafat : Amerika, 13 Mei 2023
Tertulis dengan indah pada batu nisan yang sudah berdiri pada tumpukan tanah dengan taburan bunga menghiasi pemakaman Viona Alexander, gadis cantik, imut, periang dan tomboy itu kini telah pergi untuk selamanya. Pergi dengan damai, dan meninggalkan banyak kisah untuk semua orang yang mengenalnya.
Penuh luka untuk mereka yang di tinggalkan oleh seorang Viona. Luka yang sangat mendalam dirasakan oleh Varo, Kalan dan juga Gema ketika bangun nanti.
Rasa sayang menyelimuti rasa penuh luka atas kepergian Viona itu kini sangat di rasakan oleh Kalan. Berbalut kemeja dan celana bahan hitam dengan kaca mata hitam yang sudah bertengger pada matanya menutupi mata sembap yang tidak ingin di ketahui oleh siapa pun.
Teman wanita satu-satunya yang sangat ia sayangi dan sangat ia jaga itu kini telah berpulang kepada pangkuan-Nya. Rasa sesak masih memenuhi reluh hatinya, rasa penuh keterkejutan pun masih dirasakan oleh seorang Kalan.
Begitupun amarah yang masih berbuncah dalam dirinya yang masih menggebu-gebu. Pertanyaan yang bertubi-tubi dalam benaknya masih belum bisa ia keluarkan ketika melihat Varo memasang wajah datar ketika melihatnya, dan..
Kalan sama sekali tidak melihat Gema di pemakaman Viona.
Semakin meyakinkan diri bahwa ini adalah ulah Gema.
Tentu dengan Varo.
__ADS_1
“Selamat jalan, Vi dan selamat tinggal” ucap Kalan dengan mengusap lembut batu nisan yang mulai di basahi oleh rintikan hujan.
“Gue harap lo bahagia disana ya Vi, dan gue harap lo bisa sering-sering untuk datang ke dalam mimpi gue”
Setelah mengucapkan itu, Kalan bangun dengan tangan yang sudah di genggam oleh kedua adik kembarnya, dan sang mommy yang sudah menunggunya di dalam mobil.
“Are you okay boy?” tanya sang daddy.
Kalan menatap sang daddy tersenyum, “okay eddy”
“Bang..” panggil mommy.
“Satu mobil dengan
mommy” lanjutnya dan diangguki oleh Kalan.
Kalan masuk kedalam
mobil mommy dan daddynya, sedangkan si kembar berada di mobil lain begitupun
dengan Miko dan juga Ardan yang membawa mobil Kalan, karena mereka berdua tadi berangkat bersama menggunakan mobil Kalan.
Mommy, mengambil kedua tangan sang anak yang kemudian di genggamnya dengan erat, “bang” panggil mommy dengan lembut.
“Are you okay sayang?” tanya sang mommy dengan mengusap lembut pipi sang anak dan membawanya untuk
menatap netra pekat indah matanya.
Kalan menurutinya dan menatap netra indahnya itu, “I’am not okay mom” jawabnya dengan nada yang begitu lirih berusaha untuk mengeluarkan sesak dalam dadanya.
Membawanya kedalam pelukan sang mommy yang kemudian mengusap lembut punggung sang anak dan menciumi pucuk kepala sang anak yang berada di dekapannya.
Karena sudah tak kuasa untuk emnahan air matanya, Kalan pun menangis dengan sangat lirih, menangis karena sudah di tinggalkan oleh wanita yang sangat disayangi dan sangat di jaganya itu.
“Sabar sayang” tenang mommy kepada Kalan.
Siapaun yang mendengarkan tuan mudanya menangis merasa tersentuh dan ikut larut dalam kesedihan. Bagaiana tidak? Sepanjang hidupnya, Kalan tidak pernah menangisi wanita selain keluarganya, tetapi ini? Kalan menangisi kepergian wanita dari keluarga Alexander. Sepertinya Viona sudah benar-benar masuk ekdalam hati Kalan.
“Kenapa mom? Kenapa harus Viona? Kenapa engga abang aja?” tanyanya dengan nada yang amat sangat lirih.
Mommy tak menjawab hanya mampu mengusap lembut punggung sang anak denganberusaha keras menahan isakan yang keluar dari mulut indahnya, tak kuat untuk melihat anak sulungnya benar-benar rapuh.
“Abang engga bisa mom kalau engga ada Viona”
“Abang engga mau kehilangan Viona mom”
“Abang engga mau mom”
“Sabar bang, abang tenang” ucap mommy dan dapat dirasakan gelengan pelan pada dekapannya itu.
“Mom”
“Hem?”
__ADS_1
“Abang mau ikut Viona”
Deg..