
Dua tahun sudah berlalu, kini Ardan, Kalan, Miko, Gema dan juga Viona sudah berada di kelas 9, yang artinya dimana mereka bertiga akan melaksanakan ujian nasional untuk menentukan mereka akan lulus dari SMP tersebut atau tidak.
Dua tahun berlalu tanpa adanya halangan yang mengganggu mereka, Varo lulus dengan damai dan tenang tanpa adanya gangguan dari siapa pun. Setelah kejadian dua tahun lalu yang membuat Viona trauma kecil, Varo memutuskan tali persahabatannya dengan Dafa.
Setelah kejadian itu pun Dafa tidak menampakkan seujung kuku pun kehadapan Varo, entah karena Dafa takut atau memang Dafa sedang menyusun rencana lain.
Viona pun mulai rutin melakukan kemoterapi satu bulan yang lalu, membuat rambut indahnya mulai merontok termakan waktu.
“Gimana masih ada mual?” tanya Varo kepada Viona yang baru saja selesai menjalankan kemoterapinya.
Dengan wajah pucat Viona tersenyum yang kemudian mengangguk kecil, “aku kuat kok” jawabnya.
Dipakaikan topi kupluk rajut berwarna cream oleh Varo yang kemudian ikut tersenyum dan mengangguk, “iya kakak tau kamu memang wanita kuat, Vi” jawab Varo.
“Ayo, sudah ada Gema yang menunggu kamu di depan”
“Gema aja kak?”
Varo mengangguk, “Kalan lagi ada urusan keluarga yang engga bisa dia tinggalin, jadinya hari ini dia engga ikut jemput kamu”
“Oyaudah kalau gitu”
“Kenapa hem? Ko murung gitu mukanya?” tanya Varo ketika melihat wajah murung sang adik.
Viona menggeleng, “engga apa-apa kok kak”
“Kamu suka ya sama Kalan?” tanya Varo dan hanya di jawab senyum kecil yang di berikan oleh Viona.
Varo mencubit pipi sang adik gemas, “adik kakak sudah besar ternyata” ledeknya dan Viona terkekeh.
Dan sampai saat ini pun, papi dan mami tiri Viona tidak tau tentang keadaan Viona yang sebenarnya, keadaan yang dimana sudah tidak memungkinkan untuk sehat kembali seperti semula, Viona masih tinggal di apartemen yang ia miliki.
Pengobatan pun Viona memakai uangnya sendiri, karena sekarang bisnis minuman Viona sudah merambat menjadi café tempat nongkrong anak-anak muda. Sungguh lihai dan pintaralah Viona dan juga Fedrika.
“Hai” sapa Viona kepada Gema yang sedang duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit dengan memakai jeans hitam dan baju kaos lengan panjang yang ia lipat sampai sikut berwarna navy dan tak lupa sneakers putih menyelimuti kakinya.
Gema mendongakan wajahnya, “hai Ona, gimana? Ada mual?”
Viona tersenyum, “sedikit”
“Wanita kuat” jawabnya dan mengelus kepala Viona.
“Yaudah ayo kita pulang” ajak Varo.
“Mau es krim” rajuk Viona.
Varo melihat jam di pergelangan tangannya, “kakak ada urusan?” tanya Viona melihat.
__ADS_1
“Sebenarnya iya de, kakak ada urusan masalah sekolah”
“Yaudah kakak selesain aja dulu urusan kakak, aku kan bisa sama Gema”
Varo melihat ke arah Gema, entah kenapa ada perasaan aneh ketika melihat Gema dan juga Viona kini.
“Iya, lo tenang aja, Viona aman sama gue”
Dengan berat hati Varo menganggukkan kepalanya, “oke. Inget lo harus jaga adik gue baik-baik”
“Siap”
“Yaudah kalau gitu kakak tinggal dulu ya”
“Oke kak”
“Mau makan es krim dimana?” tanya Gema ketika Varo sudah meninggalkan mereka berdua.
“Di kedai es krim depan café gue aja” jawab Viona.
“Siap laksanakan tuan putri” jawab Gema.
Tanpa mereka sadari sudah ada yang mengawasi gerak-gerik mereka berdua sedari tadi.
Pesan Chat
Bos
Tetap terus ikuti mereka jangan sampai lolos
Jika sudah menemukan tempat yang pas, segera tangkap mereka berdua
Langsung bawa ke Bandara
Gua udah siapin penerbangan pribadi ke pulau pribadi milik keluarga
Gua tunggu di Bandara
Siap bos
***
“Ona” panggil Gema ketika sudah berada di perjalanan menuju café milik Viona.
“Kenapa Gem?”
“Lo tau kan Vi, kalau gue itu sayang banget sama lo” ucap Gema tiba-tiba. Entah kenapa Viona merasakan gelagat yang aneh pada Gema.
__ADS_1
“Tau, emang kenapa si? Ko lu jadi aneh begini Gem”
Gema menggeleng, “gue engga tau Vi, tiba-tiba aja gue pengen ngomong begitu sama lo, kayanya gue berat banget gitu buat engga ketemu lo walau cuma sehari”
“Alay banget lo”
“tapi lo percaya kan Vi, kalau gue tuh sayang banget sama lo melebihi diri gue sendiri”
Viona kembali mengangguk, “iya Gem, gue percaya kalau lo itu bener-bener sayang sama gue melebihi diri lo sendiri”
“Bagus”
Dan
Brak…
Mobil milik Gema di tabrak dari belakang oleh seseorang yang tidak ia kenali.
Gema pun berhenti mendadak, untung saja dengan sigap tangan Gema menyentuh kening Viona, jadilah Viona tidak terpentok.
“Lo engga apa-apa Na?” tanya Gema dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
“Gue engga apa-apa, tapi itu siapa?”
“Gue juga engga tau” tanya Gema.
“Loh, mereka itu siapa?” tanya Viona lagi ketika melihat banyak mobil yang menghalangi mobil mereka berdua. Kini keadaan mereka berdua sudah ada di tengah-tengah beberapa mobil yang melingkari mobil mereka berdua.
“Lo tetep disini, jangan kemana-mana. Lo ngerti ‘kan?”
Viona melihat ke arah Gema, “ lo mau turun? Jangan turun Gem, lo bisa mati”
“Kalau engga gitu, kita engga akan selamat Vi dua-duanya, di saat gue di luar sebisa mungkin lo hubungi siapapun yang bisa lo hubungi. Jangan sampe keluar dari mobil ini ya Vi”
“Gem jangan”
Gema memegang tangan Viona, “lo harus yakin Vi, setidaknya lo yang harus selamat. Kalau emang keadaanya bener-bener engga memungkinkan, lo harus cepet-cepet kabur dari tempat ini”
“Sebentar” ucap Gema melihat kesekelilingnya.
“Lo bisa lari kan?”
Viona mengangguk, “gue bisa, gue usahain gue kuat”
“Kalau engga ada yang bisa lo hubungi, dan gue engga bisa handle mereka, cara pertama lo bawa mobil gue keluar jauh-jauh dari sini, sebisa mungkin gue akan buka jalan buat lo bawa mobil ini keluar. Kalau itu gagal cara kedua lo keluar dari mobil ini lewat jalan sebelah kiri lo ya. Sebisa mungkin lo harus sembunyi sampai bantuan datang. Lo ngerti ‘kan maksud gue Vi?” jelas Gema dan diangguki oleh Viona.
“Good girl” ucap Gema dengan mengecup sebentar kening Viona yang kemudian langsung keluar dari mobil miliknya.
__ADS_1
“Jangan lupa lo kunci mobil ini” ucapnya sebelum Gema keluar dari mobilnya.