
“Kamu benar-benar wanita murahan ya, Vio!” sarkas papi ketika melihat Viona yang baru saja tiba di rumahnya tepat pukul 10 malam dengan pakaian yang sudah kotor tak beraturan.
Tak tahu kah papi bahwa Viona baru saja mempertaruhkan nyawanya dengan berlari melewati tangga darurat untuk lari dari genggaman Daffa.
Viona menarik nafasnya dalam-dalam, “kalau papi engga tau ceritanya meningan diem” jawab Viona.
Papi menggelengkan kepalanya samar, “papi engga ngerti kenapa Varo bisa baik sama kamu. Padahal sudah jelas bahwa kamu itu wanita murahan kenapa bisa diam saja melihat adiknya seperti ini”
“Jangan salahkan Varo!” sarkas Viona dengan tatapan tajamnya.
“Kalau papi engga tau apa-apa lebih baik papi diam! Viona capi pi, Viona mau sitirahat” ucapnya dan berjalan begitu saja melewati sang papi.
“Aku tidak sudi memiliki anak seperti mu!” ucap papi tiba-tiba.
“Lebih baik kamu keluar dari rumah ini!” lanjutnya.
Deg..
Seperti di tusuk belati yang sangat tajam, Viona seakan tak percaya dengan apa yang sudah di ucapkan oleh papi nya sendiri.
“Apa katanya? Engga sudi? Gue di usir dari rumah ini?” gumam Viona dengan menggenggam erat tali tas slempang miliknya.
Dengan sorot mata yang penuh luka turun dari anak tangga dan menghampiri sang papi dengan langkah gontai, Viona mendekat.
Tersenyum ke arah sang papi, senyum penuh luka yang Viona tunjukan, “baik, Viona akan pergi dari dan keluar dari rumah ini. Semoga papi tidak akan pernah menyesali perkataan papi kali ini” ucap viona dan pergi keluar begitu saja.
“Aku tidak akan pernah menyesali perkataan ku!” tegas papi.
***
Malam yang sudah sunyi dan dingin itu tak gentar untuk terus melangkah dalam diam. Isak tangis yang seakan ia pendam begitu saja pecah ketika hujan sudah mulai turun dan membasahi tubuh.
Siapa sangka seorang Viona yang dulunya adalah wanita yang penuh dengan kasih sayang kini terbuang begitu saja. Entah dengan cara apa Viona bisa sekuat ini untuk hidup sampai sekarang tanpa adanya kasih sayang dari siapapun lagi.
Potongan-potongan bayangan yang melintas dalam memori otaknya seakan menjadi musuh terbesar dalam dirinya. Musuh yang selalu muncul ketika dirinya sedang seperti ini, sendiri!
Anak perempuan pertama yang seharusnya memiliki cinta pertama, memiliki bahu untuk bersandar, memiliki seseorang untuk sekedar bertukar cerita kini harapan itu sirna ketika sang mami meninggalkannya untuk selamanya.
__ADS_1
Viona tak seberuntung itu, Viona harus menjelma sebagai anak perempuan pertama yang benar-benar harus memiliki bahu yang kuat, yang sudah di kecewakan oleh cinta pertama dan tidak memiliki siapapun di dunia ini.
Perih
Sakit
Pedih
Itulah yang dirasakan Viona kali ini.
Tujuannya kali ini adalah apartemen yang ia miliki tanpa sepengetahuan siapapun. Viona membeli apartemen ini dengan uang hasil dirinya sendiri, siapa sangka Viona yang masih belia ini sudah memiliki bisnis minuman kecil kecilan yang sudah di jalankan oleh Fedrika.
Tanpa Viona harus bekerja dan meminta kepada sang papi, Viona sudah bisa menghidupkan dirinya sendiri tanpa campur tangan siapapun. Walaupun begitu Viona masih memiliki sedikit tabungan yang ia simpan dari sang maminya. Sepertinya akan berguna untuk sekarang.
Dering ponsel terus terdengar mengiringi langkahnya menuju apartemen. Viona enggan mengangkat telepon itu karena ia sudah tahu siapa yang menghubunginya. Tidak lain dan tidak bukan yaitu Varo.
Varo yang sudah memberikannya kepada laki-laki brengsek itu. Namun Viona tidak mau menyalahkan Varo atas kejadian ini, karena menurutnya Varo juga tidak tahu tentang sifat asli dari Dafa.
Kata-kata Daffa selalu terngiang-ngiang dalam benaknya, “kakak lo itu emang bego! Dia percaya aja sama gue”. Kata-kata itulah yang membuat Viona tidak akan menyalahkan Varo atas kejadian ini.
Viona menarik nafasnya dalam-dalam, “aku harus sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, karena setelah kepergian mami gue emang engga punya siapa-siapa lagi di dunia ini” setelah berkata seperti itu, dengan yakin Viona melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gedung tersebut.
Langkah kakinya terhenti untuk menunggu lift, melihat ke arah sekitar, “asing” kata itulah yang ada di benaknya kini.
Viona yang terbiasa dengan penjagaan, kini penjagaan itu sudah tidak ada lagi. Viona benar-benar hidup sendiri kali ini.
Ting.. pintu lift terbuka.
Viona pun mauk ke dalam lift tersebut dan menekan angka 10 dimana letak kamarnya berada.
Lift kembali terbuka di lantai 8 menandakan bahwa akan ada yang ikut masuk ke dalam lift tersebut. Viona lebih memilih mundur dan masuklah satu orang laki-laki dewasa dan seorang perempuan yang umurnya di bawah Viona serta dua orang pasangan suami istri, sepertinya mereka keluarga.
Ting.. pintu lift kembali terbuka, kini saatnya Viona yang akan keluar karena lift sudah berada di lantai 10.
“Permisi” ucapnya kepada satu keluarga yang ada di hadapanya kini.
Keempatnya pun membuka jalan untuk viona keluar, “iya nak, silahkan” ucap wanita muda itu.
__ADS_1
“Loh, kak Viona” cicit Latikha ketika melihat Viona yang melintas melewati dirinya.
Viona yang merasa terpanggil pun menoleh, “Tikha?”
Latikha mengangguk, “kakak tinggal disini?” tanya Tikha.
Viona mengangguk, “aku duluan ya”
“Om, tante, kakak saya duluan” pamit Viona menyapa kedua pasutri dan Reyka.
“Kak Vio tinggal disini? Sendiri?” gumam Tikha ketika pintu lift sudah tertutup.
“Siapa dia Kha?” tanya Reyka mewakili pertanyaan ayah dan ibunya.
“Itu loh bang, cewe yang lagi di deketin sama bang Kalan, yang pernah bang Kalan ceritain itu”
“Oh” jawab Reyka ber oh ria.
“Yang punya penyakit leukemia itu ya Kha?” tanya bunda Kyesha.
Tikha mengangguk, “iya bun”
“Manis juga anaknya” timpal ayah Rey dan diangguki oleh ketiganya.
Tikha memang sedang bermain dengan Reyka di apartemen milik Reyka, Keysha dan Rey memang sengaja menjemput Tikha untuk pulang ke rumahnya, karena mommy dan daddy sudah menghubungi Keysha dan juga Rey untuk membawa pulang Tikha ke rumah. Tikha yang tidak mau pulang jika tidak di antar oleh Reyka pun mau tak mau Reyka harus ikut mengantar Tikha ke rumah Ardi Wijaya.
Namun tak di sangka Tikha bertemu dengan seseorang yang sangat ia kenalinya, Viona.
***
Berbeda halnya dengan Tikha yang masih bingung, kini Viona sedang merendamkan dirinya pada bath up kamar mandi untuk sekedar menengkan diri dari hiruk pikuk yang terjadi pada dirinya hari ini.
Viona membuka matanya, “kalau tadi Tikha, pasti tikha akan bilang ke Kalan kalau aku tinggal disini”
“Pasti besok aku akan di introgasi sama Kalan”
“Ah sudahlah yang penting aku bisa istirahat dulu hari ini, masalah Kalan bisa di pikirkan besok”
__ADS_1