Kalandra Elvano

Kalandra Elvano
Kabar Duka


__ADS_3

Ayo kita harus segera membawa Viona” ucap Varo.


“Kamu harus bisa bertahan Viona” ucap Varo dengan menggenggam erat tangan sang adik.


***


Dua brankar rumah sakit yang di keluarkan secara bersamaan untuk pasien yang datang secara bersamaan pula.


Kedua pasien tersebut segera di bawa ke ruang UGD untuk di periksa lebih lanjut.


Tiiit….. suara monitor detak jantung yang sama sekali tidak ingin di dengar oleh siapa pun, kini harus terdengar nyaring dari ruang UGD rumah sakit yang berada di Amerika.


Mendengar itu dengan sigap para dokter rumah sakit yang berada di Amerika melakukan segala cara agar detak jantung pasien kembali normal.


Namun, kuasa Tuhan lebih baik dan lebih indah dari apapun, Viona tidak bisa tertolong lagi, Viona sudah damai di alam sana, di alam yang berbeda.


“I’m sorry, we have tried our best but God has other plans” satu kalimat yang keluar dari Dokter yang menangani Viona.


“Viona…” teriak Varo dan langsung memeluk tubuh sang adik.


Berbeda halnya dengan tuan Alexander dan istrinya yang hanya diam membisau, mendengar penuturan dari dokter tersebut.


“Engga Vi, kamu harus tetap hidup. Viona” teriak Varo dengan sangat kencang dan mengusap lembut pipi Viona.


“De bangun de” terik Varo lagi dengan mengguncang tubuh sang adik agar bangun.


“Nak, maafin papi” ujar tuan Alexander ketika para suster sudah mulai melepaskan selang infus pada tubuh Viona.

__ADS_1


“Viona bangun de jangan tinggalin kakak sendiri disini”


“Viona!” teriak Varo lagi.


“Sabar nak” ujar mami dengan mengusap lembut punggung sang anak.


“Viona udah pergi mi” ujar Varo.


“Varo engga bisa mi, Varo engga bisa kalau engga ada Viona. Baru aja Varo bisa deket sama Viona tapi Viona udah tinggalin Varo gitu aja, mi”


Terlihat wajah pucat Viona dengan damai dan tersenyum manis itu, mungkin dari sana Viona sudah berbahagia bersama dengan ibu kandungnya.


“Sabar nak, kamu harus kuat. Viona pasti sedih kalau liat kakaknya sedih”


“Iya mi”


“Gema tidak sadarkan diri nak, kemungkinan Gema koma” jelas sang mami.


Mendengar hal itu, Varo semakin di buat terpuruk. Bagaimana tidak terpuruk, dirinya sudah kehilangan


Vionanya, tetapi kini Gema? Dirinya harus mendengar kabar, bahwa Gema juga


sedang berjuang dengan maut.


“Gema pasti bisa melewati ini semua” ujar mami menenangkan Varo.


“Udah, sekarang kamu harus kuat demi Viona dan juga mami papi. Kita harus segera pulang ke Indonesia untuk menyiapkan rumah terakhir untuk adik kamu” jlas mami lagi.

__ADS_1


Kini hanya sang mami lah yang harus bisa tegar dan kuat dari kedua laki-laki yang kini tengah terpuruk.


***


Viona Alexander


Binti


Alexander


Lahir : Jakarta, 30 Desember 2002


Wafat : Amerika, 13 Mei 2013


Tertulis dengan indah pada satu batu nisan yang sudah berdiri pada tumpukan tanah dengan taburan bunga menghiasi pemakaman Viona Alexander, gadis cantik, imut, periang dan tomboy itu kini telah pergi untuk selamanya. Pergi dengan damai, dan meninggalkan banyak kisah untuk semua orang yang mengenalnya.


Penuh luka untuk mereka yang di tinggalkan oleh seorang Viona. Luka yang sangat mendalam dirasakan oleh Varo, Kalan dan juga Gema ketika bangun nanti.


Rasa sayang menyelimuti rasa penuh luka atas kepergian Viona itu kini sangat di rasakan oleh Kalan. Berbalut kemeja dan celana bahan hitam dengan kaca mata hitam yang sudah bertengger pada matanya menutupi mata sembap yang tidak ingin di ketahui oleh siapa pun.


Teman wanita satu-satunya yang sangat ia sayangi dan sangat ia jaga itu kini telah berpulang kepada pangkuan-Nya. Rasa sesak masih memenuhi relung hatinya, rasa penuh keterkejutan pun masih dirasakan oleh seorang Kalan.


Begitupun amarah yang masih berbuncah dalam dirinya yang masih menggebu-gebu. Pertanyaan yang bertubi-tubi dalam benaknya masih belum bisa ia keluarkan ketika melihat Varo memasang wajah datar ketika melihatnya, dan..


Kalan sama sekali tidak melihat Gema di pemakaman Viona.


Semakin meyakinkan diri bahwa ini adalah ulah Gema.

__ADS_1


Tentu dengan Varo.


__ADS_2