
“Bang lo kepikiran si
Gema?” tanya Ardan kepada Kalan. Kini Kalan, Ardan dan juga Miko sudah berada
di perusahaan sang daddy Ardi.
Setelah tadi huru-hara
melihat kedatangan Gema yang secara tiba-tiba datang ke Indonesia, baik Kalan,
Miko maupun Ardan menajdi tidak fokus dalam bekerja.
Hanya satu pertanyaan
yanga da dalam benaknya.
Kenapa?
Kenapa bisa sangat
sulit untuk menemukan Gema selama ini. Siapa yang ada di belakang mereka?
Kalan mengangguk
membenarkan pertanyaan dari Ardan.
“Yang tadi beneran Gema
bang?” tanya Miko dan Kalan kembali mengangguk.
“Siapa yang ada di
belakang keluarga Dermawan?” tanya Kalan dengan menatap keluar jendela.
“Apa keluarga
Alexander?” tanya Miko.
“Bisa aja sih bang”
timpal Ardan.
“Kenapa teka-teki ini
belum juga selesai” gumam Miko sambil memijat pelan pelipisnya.
“Kenapa selalu buntu
jika menyangkut Viona” celetuk Ardan.
“Kayanya ini kasus
emang bener di tutup rapat-rapat deh bang, mangkanya kita susah banget buat
cari tau” lanjutnya.
“Kuncinya hanya ada di
Varo dan juga Gema” lanjutnya lagi.
“Kita tunggu tanggal
mainnya” ucap Kalan dengan tegas yang membuat bulu kuduk Miko dan juga Ardan
merinding.
Berbeda halnya dengan
Kalan, Miko dan juga Ardan yang masih memikirkan tentang misteri kematian
Viona. Kini Gema sedang menatap dengan nanar tumpukan tanah dengan batu nisa
__ADS_1
yang bertuliskan nama Viona Alexander
Binti Alexander. Mengusap lembut batu nisa tersebut dengan derai air mata
yang mulai keluar dari sudut mata miliknya.
“Hai Vi, gue udah
kembali lagi kesini. Sorry gue telat banget ya datangnya? Udah dua tahun ya
semenjak kejadian itu gue engga dateng kesini”
“Vi, gimana keadaan lo
disana?”
“Gelap engga?”
“Sesak engga?”
“Lo disana kesepian
engga, Vi?”
“Pasti engga ya ‘kan? Di
sana lo udah sama mami lo ‘kan Vi?”
“Lo pasti bahagia
banget ya disana?”
“Lo lagi liatin gue ya
Vi disana?”
Kenangan-kenangan
ketika bersama dalam canda tawa bahagia terekam jelas dalam memori indah di
kesayangan Viona kepadanya.
“Gema takbir beliin
Viona ice cream rasa strawberry dong”
“Gema jemput Viona”
“Gema ayo ke mall”
“Gema Viona mau makan
masakan bunda”
“Gema beliin bando”
“Gema Viona mau itu”
“Gema tolongin Viona”
“Aaaargh” teriak Gema
dengan suara yang sangat berat.
“Vi kenapa lo secepat
ini Vi?”
“Vio, gue kanget lo
banget sumpah. Kangen senyum lo, kangen ketawa lo, kangen manjanya lo, kangen
__ADS_1
panggilan lo ke gue”
“Engga ada lagi cewe
kaya lo Vi. Engga ada”
“Lo doang yang berani
nonjok gue, jambak gue, suruh-suruh gue”
“Lo itu unik, Vi”
“Tapi kenapa lo secepat
ini pergi tinggalin gue?”
“Lo bahagia disana sama
mami lo, tapi gue disini menderita Vi”
“Menderita harus hidup
dengan tatapan amarah dari Kalan”
“Menderita harus hidup
tanpa kehadiran dari lo”
“Menderita harus
sendiri Vi”
“Menderita banget Vi
gue”
“Gue engga tau harus
kaya gimana jalanin hidup gue, Vi”
“Pas gue di AS gue
maksa banget pengen pindah ke Indonesia. Kenapa? Karena gue pengen banget deket
sama elo tiap harinya, kaya sekarang ini”
“Kalau di AS ‘kan jauh
banget ya? maka dari itu gue pengen banget pindah kesini. Emang ini sangat
bertolak belakang sama keputusan bunda, ayah dan kakak lo Varo. Tapi mau gimana
Vi? Gue engga bisa jauh dari lo”
“Hari udah mulai gelap,
gue pamit dulu ya Vi, sering-sering datang ke mimpi gue ya Vi, sapa gue. Gue kangen
banget” lanjutnya lagi.
“Gue bawain bunga
kesukaan lo nih, mawar putih sama mawar merah. Lo bilang lo itu suka banget
sama mawar merah karena menunjukkan rasa cinta dan lo suka banget sama mawar
putih karena menunjukkan rasa ketulusan. Jadi karena lo suka dua-duanya, gue
belinya di mix”
“Gue pamit ya Vi”
__ADS_1
pamitnya dan mulai bangkit dari duduknya sambil menghapus sisa-sisa air
matanya.