Kalandra Elvano

Kalandra Elvano
Kepulangan Gema


__ADS_3

“Bang lo kepikiran si


Gema?” tanya Ardan kepada Kalan. Kini Kalan, Ardan dan juga Miko sudah berada


di perusahaan sang daddy Ardi.


Setelah tadi huru-hara


melihat kedatangan Gema yang secara tiba-tiba datang ke Indonesia, baik Kalan,


Miko maupun Ardan menajdi tidak fokus dalam bekerja.


Hanya satu pertanyaan


yanga da dalam benaknya.


Kenapa?


Kenapa bisa sangat


sulit untuk menemukan Gema selama ini. Siapa yang ada di belakang mereka?


Kalan mengangguk


membenarkan pertanyaan dari Ardan.


“Yang tadi beneran Gema


bang?” tanya Miko dan Kalan kembali mengangguk.


“Siapa yang ada di


belakang keluarga Dermawan?” tanya Kalan dengan menatap keluar jendela.


“Apa keluarga


Alexander?” tanya Miko.


“Bisa aja sih bang”


timpal Ardan.


“Kenapa teka-teki ini


belum juga selesai” gumam Miko sambil memijat pelan pelipisnya.


“Kenapa selalu buntu


jika menyangkut Viona” celetuk Ardan.


“Kayanya ini kasus


emang bener di tutup rapat-rapat deh bang, mangkanya kita susah banget buat


cari tau” lanjutnya.


“Kuncinya hanya ada di


Varo dan juga Gema” lanjutnya lagi.


“Kita tunggu tanggal


mainnya” ucap Kalan dengan tegas yang membuat bulu kuduk Miko dan juga Ardan


merinding.


Berbeda halnya dengan


Kalan, Miko dan juga Ardan yang masih memikirkan tentang misteri kematian


Viona. Kini Gema sedang menatap dengan nanar tumpukan tanah dengan batu nisa

__ADS_1


yang bertuliskan nama Viona Alexander


Binti Alexander. Mengusap lembut batu nisa tersebut dengan derai air mata


yang mulai keluar dari sudut mata miliknya.


“Hai Vi, gue udah


kembali lagi kesini. Sorry gue telat banget ya datangnya? Udah dua tahun ya


semenjak kejadian itu gue engga dateng kesini”


“Vi, gimana keadaan lo


disana?”


“Gelap engga?”


“Sesak engga?”


“Lo disana kesepian


engga, Vi?”


“Pasti engga ya ‘kan? Di


sana lo udah sama mami lo ‘kan Vi?”


“Lo pasti bahagia


banget ya disana?”


“Lo lagi liatin gue ya


Vi disana?”


Kenangan-kenangan


ketika bersama dalam canda tawa bahagia terekam jelas dalam memori indah di


kesayangan Viona kepadanya.


“Gema takbir beliin


Viona ice cream rasa strawberry dong”


“Gema jemput Viona”


“Gema ayo ke mall”


“Gema Viona mau makan


masakan bunda”


“Gema beliin bando”


“Gema Viona mau itu”


“Gema tolongin Viona”


“Aaaargh” teriak Gema


dengan suara yang sangat berat.


“Vi kenapa lo secepat


ini Vi?”


“Vio, gue kanget lo


banget sumpah. Kangen senyum lo, kangen ketawa lo, kangen manjanya lo, kangen

__ADS_1


panggilan lo ke gue”


“Engga ada lagi cewe


kaya lo Vi. Engga ada”


“Lo doang yang berani


nonjok gue, jambak gue, suruh-suruh gue”


“Lo itu unik, Vi”


“Tapi kenapa lo secepat


ini pergi tinggalin gue?”


“Lo bahagia disana sama


mami lo, tapi gue disini menderita Vi”


“Menderita harus hidup


dengan tatapan amarah dari Kalan”


“Menderita harus hidup


tanpa kehadiran dari lo”


“Menderita harus


sendiri Vi”


“Menderita banget Vi


gue”


“Gue engga tau harus


kaya gimana jalanin hidup gue, Vi”


“Pas gue di AS gue


maksa banget pengen pindah ke Indonesia. Kenapa? Karena gue pengen banget deket


sama elo tiap harinya, kaya sekarang ini”


“Kalau di AS ‘kan jauh


banget ya? maka dari itu gue pengen banget pindah kesini. Emang ini sangat


bertolak belakang sama keputusan bunda, ayah dan kakak lo Varo. Tapi mau gimana


Vi? Gue engga bisa jauh dari lo”


“Hari udah mulai gelap,


gue pamit dulu ya Vi, sering-sering datang ke mimpi gue ya Vi, sapa gue. Gue kangen


banget” lanjutnya lagi.


“Gue bawain bunga


kesukaan lo nih, mawar putih sama mawar merah. Lo bilang lo itu suka banget


sama mawar merah karena menunjukkan rasa cinta dan lo suka banget sama mawar


putih karena menunjukkan rasa ketulusan. Jadi karena lo suka dua-duanya, gue


belinya di mix”


“Gue pamit ya Vi”

__ADS_1


pamitnya dan mulai bangkit dari duduknya sambil menghapus sisa-sisa air


matanya.


__ADS_2