Kalandra Elvano

Kalandra Elvano
Jalan-jalan


__ADS_3

“Adik kamu itu mau kemana bang?” tanya mommy ketika Kalan sudah turun dari kamarnya.


“Jemput Abay”


“Abay siapa bang?”


“Ituloh mom anak laki-laki yang kemarin di tolongin sama twince”


“Oh anak laki-laki itu,  iya mommy tau”


“Kenapa emang sama abay bang?”


“Pacarnya Tisha katanya mom” jawab Kalan dengan jujur.


“Hah? Pacarnya Tisha? Kamu engga salah bang?”


“Abang juga bingung mom”


“Terus kenapa twince jemput Abay bang?”


“Di suruh abang mom, abang mau bicara sama Abay” jawabnya dan mommy menganggukkan kepalanya.


***


“Mommy, abang mana?” teriak Tisha yang baru saja datang dengan Tikha dan juga Abay.


“Di taman belakang” jawab mommy. Tisha mengangguk dan pergi ke taman belakang di susul dengan Tikha.


“Selamat sore, tante” sapa Abay dengan sopan yang kemudian menyalami tangan mommy.


“Sore, Abay ya?”


“Iya tante, saya Abay”


“Oalah, jadi kamu toh yang namanya Abay” ucap mommy dengan melihat anak laki-laki culun yang memakai kacamata itu. Sepertinya memiliki mata minus.


“Duduk dulu Abay, mau minum apa? Nanti tante buatkan”


“Engga perlu repot-repot tante”


“Engga ngerepotin sama sekali kok, yaudah sebentar ya tante buatkan minuman sama bawakan cemilan untuk kamu dan yang lain”


“Baik tante terimakasih”


***


“Abang” panggil Tisha ketika sudah menemukan sang abang yang sedang bermain gitar bersama dengan sang adik bungsu, Nathan.


Kalan menghentikan petikan jarinya pada gitar yang sedang ia mainkan dan melihat ke arah Tisha, “apa?” tanyanya.


“Itu Abay udah ada di depan” teriaknya.


Kalan mengangguk, “iya nanti abang ke depan, kamu teman saja dulu Abay”


“Oke” jawab Tisha dan kembali ke ruang tamu yang dimana kini Abay berada.


“Eh ada Abay” ucap Kalan ketika sudah berada di ruang tamu.


“Loh ada mommy juga” lanjutnya.


Mommy tersenyum, “mommy abis bikini minuman sama cemilan untuk kalian, mommy tinggal dulu ya”


Kalan mengangguk, “terimakasih mom” ucapnya dan diangguki oleh sang mommy.


Kini sudah ada Kalan, Tisha dan juga Abay yang sedang berbincang bersama di ruang tamu.


“Sha, kamu ke dalam dulu ya, abang mau bicara sama Abay berdua”


Tisha mengangguk, “baik bang” jawabnya dan Tisha meninggalkan ruang tamu.


“Mau bicara apa ya kak?” tanya Abay setelah kepergian Tisha.


“Kamu beneran pacaran sama Tisha?” tanya Kalan to the poin. Ya seperti itulah Kalan tidak aka nada basa-basi baginya jika itu memang sangat penting.


Terlihat Abay mengerutkan keningnya, “pacaran?” tanya Abay dan Kalan mengangguk.


“Sama Tisha?” Kalan kembali mengangguk meng-iyakan pertanyaan Abay.


Abay menggeleng, “engga kak”

__ADS_1


“Yang bener kamu?”


Abay mengangguk, “beneran kak, Abay engga pacaran kok sama Tisha”


“Tapi kok Tisha bisa bilang kalau kamu pacaran sama dia?’


“Tisha bilang gitu kak?”


“Iya, maka dari itu kakak panggil kamu kesini”


“Tapi Abay emang engga pacaran kok kak sama Tisha. Abay sama Tisha kan masih kecil kak, jadi Abay sama Tisha engga mungkin pacaran”


Kalan mengangguk-anggukkan kepalanya, “terus kenapa Tisha bisa bilang kalau kalian berdua itu pacaran?”


Abay menggeleng,


“Hem… Apa karena kita sering bareng-bareng ya kak?” tanya Abay setelah sempat berfikir.


“Bisa jadi”


“Yaudah engga apa-apa, kakak Cuma mau bilang, kalian kan masih kecil berteman boleh tapi jangan dulu pacaran ya”


“Iya kak, Abay juga ngerti kok”


“Yaudah sekarang kamu kalau mau main sama twince dan Nathan ada di taman belakang”


“Iya kak terima kasih” ucapnya dan diangguki oleh kalan.


Setelah kepergian Abay, mommy pun menghampiri Kalan, “gimana bang?”


“Engga pacaran kok mom kata Abay”


“Terus Tisha kenapa bisa bilang kalau mereka berdua pacaran?”


“Kata Abay mungkin karena mereka sering bareng-bareng mom. Soalnya Tisha juga bilang sih mom kalau pacaran itu yang kemana-mana selalu bareng-bareng”


Mommy mengangguk-anggukan kepalanya, “yaudah kalau gitu”


“Iya mom”


“Mommy balik lagi deh ke dapur, soalnya mommy lagi bikin kue”


“Siap mommy ku sayang”


***


Tik… Tok… Tok… Varo mengetukkan pintu kamar Viona.


“Vi” panggil Varo dari balik pintu.


“Iya kak?”


“Kamu lagi sibuk engga malam ini?”


“Engga kak kenapa?”


“Ada Daffa jemput kamu” ucapnya dari balik pintu.


“Hah? Daffa kak?”


“Iya, kamu cepet ke bawah ya. Daffa udah nunggu kamu dari tadi, katanya mau ajak kamu nonton Bioskop”


“Oh, iya kak sebentar”


Setelah mendengar jawaban dari sang adik, Varo berjalan meninggalkan kamar Viona.


“Kenapa sih si Daffa itu harus ke sini? Males banget” keluh Viona sambil memilih baju yang akan ia gunakan.


Varo dan Viona kini sangatlah akur, sampai-sampai kedua orang tua mereka mengerut aneh namun mereka tersenyum dengan ke akuran kedua adik kakak ini.


“Aku udah siap” kata Viona ketika sudah selesai denga persiapannya.


Kini Viona sudah siap dengan baju dres selutut berwarna navy. Rambut yang ia kuncir kuda dan tak lupa memakai sepatu cats berwarna putih kesayangannya.


“Cantik banget adik gue” puji Varo.


“Eh Daf lo harus jagain adik gue yang bener, jangan sampe ada yang lecet sedikit pun. Kalau sampe gue liat adik gue ada yang lecet lo berurusan sama gue”


“Iya Var, lo tenang aja”

__ADS_1


“Yaudah ayo”


“Kak, Vio jalan dulu ya” pamit Viona kepada Varo.


“Hati-hati”


***


“Kamu cantik banget Vi mala mini” puji Dafa di dalam mobilnya.


“Makasih” ujar Viona dengan ketus.


“Kamu kenapa sih Vi masih ketus aja sama aku?”


“Karena gue engga mau akrab sama lo”


“Kenapa?”


“Engga mau aja”


Dafa tersenyum, “lo bakalan jadi milik gue Vi”


“Milik apaan? Lo tuh masih kecil dan gue juga masih kecil, engga ada pantes-pantesnya buat lo milikin gue!”


“Mau kita masih kecil atau udah besar, lo tetep milik gue Vi”


“Engga peduli”


“Gue ko yang peduli sama lo Vi”


“Engga penting” jawab Viona dan Daffa tidak membuka suaranya lagi


***


Viona mengerutkan keningnya ketika bukan sebuah mall yang berada di hadapannya kini, melainkan sebuah bangunan yang hanya orang dewasa saja lah yang bisa kesini, yaitu hotel.


“Ngapain kesini?”


“Kan gue udah bilang tadi kalau lo itu milik gue Vi” ucap Dafa dengan senyum liciknya dan turun dari mobilnya.


“Turun Vi” kata Dafa dengan membukakan pintu mobil milik Viona.


“Ogah”


“Mau turun sendiri apa gue turunin?”


“Apaan sih lo”


“Turun sekarang Vi” ucap Dafa lagi dengan menggenggam tangan Viona.


“Mau ngapain lo bawa gue kesini hah? Dasar cowo brengsek”


“Ssstt… diem” ucap Dafa dengan menyimpan jari telunjuknya di bibir manis Viona.


“Permisi mba, saya mau kunci kamar hotel nomor 520 atas nama tuan Narendra”


“Mohon maaf anda siapanya tuan Narendra?”


“Saya anaknya mba, kata papi saya, saya suruh duluan ke kamarnya nanti orang tua saya menyusul”


“Baik tuan muda” jawab recepsionis tersebut dengan memberikan kunci kamar hotel.


“Lepasin gue brengsek” ucap Viona ketika mereka sudah berada di lift.


Dafa melihat sinis ke arah Viona, “diem aja lo”


“Kurang aja ya lo, ternyata lo baik hanya di depan kak Varo aja!”


Dafa tertawa, “kakak lo itu emang bego! Dia percaya aja sama gue”


“Sialan lo!”


Ting… pintu lift terbuka.


Dafa keluar terlebih dahulu.


Dan


Brugh…

__ADS_1


Viona menendang punggung Dafa. Dafa yang memang tidak siap dengan serangan tiba-tiba dari Viona pun tersungkur dan terjatuh ke lantai.


Melihat itu Viona langsung melarikan diri melalui tangga darurat.


__ADS_2