Kalandra Elvano

Kalandra Elvano
Kalan Sadar


__ADS_3

Negara Lain


“Gimana bun sama


keadaan gema?” tanya ayah Chandra.


Bunda menghela nafasnya


panjang dan menggeleng, “belum ada perubahan, yah”


Ayah mengusap lembut


kepala sang istri, “bunda harus kuat, kalau bunda kuat Gema juga pasti kuat”


“Iya yah. Ayah juga


harus bisa kuatin bunda”


Ayah Chandra kembali


mengangguk, “kita harus sama-sama kuat bun”


“Gimana sama Galih,


yah?”


“Galih baik-baik aja di


Indonesia bun. Bunda tenang aja ya”


“Iya yah, bunda percaya”


Keadaan Gema masih sama


seperti kemarin-kemarin, masih setia dengan tidur pulasnya. Sepertinya Gema


sedang asik bermain dengan Viona disana.


***


“Jadi gimana?” tanya


Satya kepada Ardan dan juga Miko yang masih focus kepada laptopnya


masing-masing.


Keduanya sama-sama


menggeleng, “belum ketemu bang”


“Yaudah gue aja yang


turun tangan kali ini” jelas Satya kepada keduanya.


Kini Satya, Ardan, Miko


dan juga Nathan sedang berada di ruang kerja milik Kalan. Mereka berempat


sedang membicarakan tentang kejelasan kematian viona yang membuat Kalan sampai


sekarang belum juga bangun dari komanya.


Sudah satu bulan


terhitung hingga sekarang sejak kejadian itu, dan sampai saat itu pula mereka


terus masih mencari tentang kebenaran atas kepergian Viona secara mendadak.


Yang mereka tahu bahwa

__ADS_1


Viona menderita penyakit Leukimia saja.


Dret… Dret.. Dret..


“Bentar hp gue bunyi”


kata Nathan dan mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


Via


Telepon


“Hallo dadd”


“Abang mu sudah sadar”


“Nathan kesana sama


yang lain”


Tuut…


“Ada apa?” tanya Miko.


“Bang Kalan udah sadar”


jawabnya


“Ayo” ajak Satya kepada


mereka bertiga untuk segera ke rumah sakit.


***


“Gimana?” tanya Satya


kepada Tikha.


dalam” jawab Tikha, Satya menganggukkan kepalanya.


Kini Kalan sudah di


pindahkan ke ruang rawat inap.


Satya, Ardan, Miko dan


Nathan meringis ketika melihat keadaan Kalan kini, tatapan mata yang kosong dan


wajah yang masih terlihat pucat.


“bang” panggil Nathan.


Kalan melihat ke arah


Nathan tersenyum kecil ketika menatap adik bungsunya, “iya boy”


“Gimana keadaan lo


bang?”


“Udah baikan” jawabnya.


“Sorry” lanjutnya lagi.


“Untuk apa bang?”


“Sorry untuk yang


kemarin-kemarin, gue terlalu gila untuk hal-hal yang memang itu tidak penting

__ADS_1


dan tidak perlu untuk di lakukan” jelasnya.


Ke empat pria itu


tersenyum menanggapinya, “kita ngerti kok bang”


“Tapi, kita mohon


jangan lo lakuin lagi hal-hal kaya kemarin bang. Itu bikin kita gila” jelas


Ardan.


“Lo harus sadar, banyak


orang yang sayang sama lo bang. Kalau lo lakuin hal kaya kemarin, orang – orang


yang sayang sama elo yang bisa ikut mati sama lo!” lanjut Miko.


Kalan mengangguk dan


tersenyum, “iya sorry”


***


Setelah Kalan tersadar


dari koma nya, kini Kalan semakin menjadi-jadi. Semakin menjadi cuek dan


dingin, semakin dingin dari sebelumnya.


Ujian kelas 12 sudah di


mulai sejak 2 hari yang lalu, tinggal satu hari ini saja lah ujian itu akan


berakhir. Kalan mengikutiujian itu dengan baik dan serius, dirinya ingin segera


lulus dan bersekolah di sekolah menengah atas, bukan tanpa alasan Kalan ingi


cepat-cepat pindah dari sekolahnya yang sekarang, selain untuk menghilangkan


kenangan yang sangat menyayat hati, Kalan juga ingin segera mencari keberadaaan


Varo dan juga Gema, kedua laki-laki itu kini hilang bak di telan bumi, tidak


ada kabar berita sekecil apapun.


Bahkan Satya pun sampai


sekarang belum bisa menemukan keberadaan merka berdua.


“Café ayo” ajak Ardan kepada


Miko dan juga Kalan.


Kalan dan Miko


mengangguk secara bersamaan, mereka berdua sama-sama pusingnya menghadapi ujian


sekolahnya.


“Jadi mau di terusin


kemana?” tanya Ardan kepada Miko dan juga Kalan yang kini tengah meminum esnya.


“SMA Satya” jawab Miko.


“Jurusan apa?”


“Ips”

__ADS_1


“Oh” jawab Ardan ber-oh


ria.


__ADS_2