
Negara Lain
“Gimana bun sama
keadaan gema?” tanya ayah Chandra.
Bunda menghela nafasnya
panjang dan menggeleng, “belum ada perubahan, yah”
Ayah mengusap lembut
kepala sang istri, “bunda harus kuat, kalau bunda kuat Gema juga pasti kuat”
“Iya yah. Ayah juga
harus bisa kuatin bunda”
Ayah Chandra kembali
mengangguk, “kita harus sama-sama kuat bun”
“Gimana sama Galih,
yah?”
“Galih baik-baik aja di
Indonesia bun. Bunda tenang aja ya”
“Iya yah, bunda percaya”
Keadaan Gema masih sama
seperti kemarin-kemarin, masih setia dengan tidur pulasnya. Sepertinya Gema
sedang asik bermain dengan Viona disana.
***
“Jadi gimana?” tanya
Satya kepada Ardan dan juga Miko yang masih focus kepada laptopnya
masing-masing.
Keduanya sama-sama
menggeleng, “belum ketemu bang”
“Yaudah gue aja yang
turun tangan kali ini” jelas Satya kepada keduanya.
Kini Satya, Ardan, Miko
dan juga Nathan sedang berada di ruang kerja milik Kalan. Mereka berempat
sedang membicarakan tentang kejelasan kematian viona yang membuat Kalan sampai
sekarang belum juga bangun dari komanya.
Sudah satu bulan
terhitung hingga sekarang sejak kejadian itu, dan sampai saat itu pula mereka
terus masih mencari tentang kebenaran atas kepergian Viona secara mendadak.
Yang mereka tahu bahwa
__ADS_1
Viona menderita penyakit Leukimia saja.
Dret… Dret.. Dret..
“Bentar hp gue bunyi”
kata Nathan dan mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
Via
Telepon
“Hallo dadd”
“Abang mu sudah sadar”
“Nathan kesana sama
yang lain”
Tuut…
“Ada apa?” tanya Miko.
“Bang Kalan udah sadar”
jawabnya
“Ayo” ajak Satya kepada
mereka bertiga untuk segera ke rumah sakit.
***
“Gimana?” tanya Satya
kepada Tikha.
dalam” jawab Tikha, Satya menganggukkan kepalanya.
Kini Kalan sudah di
pindahkan ke ruang rawat inap.
Satya, Ardan, Miko dan
Nathan meringis ketika melihat keadaan Kalan kini, tatapan mata yang kosong dan
wajah yang masih terlihat pucat.
“bang” panggil Nathan.
Kalan melihat ke arah
Nathan tersenyum kecil ketika menatap adik bungsunya, “iya boy”
“Gimana keadaan lo
bang?”
“Udah baikan” jawabnya.
“Sorry” lanjutnya lagi.
“Untuk apa bang?”
“Sorry untuk yang
kemarin-kemarin, gue terlalu gila untuk hal-hal yang memang itu tidak penting
__ADS_1
dan tidak perlu untuk di lakukan” jelasnya.
Ke empat pria itu
tersenyum menanggapinya, “kita ngerti kok bang”
“Tapi, kita mohon
jangan lo lakuin lagi hal-hal kaya kemarin bang. Itu bikin kita gila” jelas
Ardan.
“Lo harus sadar, banyak
orang yang sayang sama lo bang. Kalau lo lakuin hal kaya kemarin, orang – orang
yang sayang sama elo yang bisa ikut mati sama lo!” lanjut Miko.
Kalan mengangguk dan
tersenyum, “iya sorry”
***
Setelah Kalan tersadar
dari koma nya, kini Kalan semakin menjadi-jadi. Semakin menjadi cuek dan
dingin, semakin dingin dari sebelumnya.
Ujian kelas 12 sudah di
mulai sejak 2 hari yang lalu, tinggal satu hari ini saja lah ujian itu akan
berakhir. Kalan mengikutiujian itu dengan baik dan serius, dirinya ingin segera
lulus dan bersekolah di sekolah menengah atas, bukan tanpa alasan Kalan ingi
cepat-cepat pindah dari sekolahnya yang sekarang, selain untuk menghilangkan
kenangan yang sangat menyayat hati, Kalan juga ingin segera mencari keberadaaan
Varo dan juga Gema, kedua laki-laki itu kini hilang bak di telan bumi, tidak
ada kabar berita sekecil apapun.
Bahkan Satya pun sampai
sekarang belum bisa menemukan keberadaan merka berdua.
“Café ayo” ajak Ardan kepada
Miko dan juga Kalan.
Kalan dan Miko
mengangguk secara bersamaan, mereka berdua sama-sama pusingnya menghadapi ujian
sekolahnya.
“Jadi mau di terusin
kemana?” tanya Ardan kepada Miko dan juga Kalan yang kini tengah meminum esnya.
“SMA Satya” jawab Miko.
“Jurusan apa?”
“Ips”
__ADS_1
“Oh” jawab Ardan ber-oh
ria.