Kalandra Elvano

Kalandra Elvano
Verell Dermawan


__ADS_3

“Maksud lo apa?” tanya Varo dengan penuh keterkejutan.


“Lo nuduh gue dan Gema yang merencanakan ini semua?”


“Lo gila?!” lanjut Varo lagi dengan nada marah.


Bagaimana tidak marah? Dirinya kini sedang pusing memikirkan nasib Viona dan juga Gema yang tiba-tiba saja hilang, memberanikan diri bertanya kepada Kalan agar mendapatkan sebuah solusi, tapi kini apa? Kalan malah mencurigai dirinya dan juga Gema. Memang Kalan manusia yang tidak bisa di tebak.


Kalan etrsenyum remeh,


“santai aja. Gue engga nuduh, gue cuma nanya lo engga usah pake emosi gitu” jawab


Kalan.


“Lo sadar engga dengan apa yang lo ucapin barusan hah? Gue suruh lo kesini supaya gue dapet solusi dari permasalahan Viona bukan dapet kecurigaan kaya gini! Salah besar gue nunggu lo sejak tadi disini!” jelas Varo dan meninggalkan Kalan, Miko dan juga Ardan di café milik Viona.


“Bang, lo lebih percaya sama isi pesan itu? Kalau di liat0liat kayanya Varo yang bener deh bang” timpal Ardan ketika Varo sudah meninggalkan café tersebut.


Kalan menggeleng, “gue lagi engga bisa mikir”


“Lebih baik kita pulang” ajak Miko yang sedari tadi hanya menyimak.


Miko memang seperti itu, hanya diam dan menyimak apa yang sebenarnya terjadi, namun dirinya akan bergerak secara perlahan dan secara diam-diam tanpa ada satu orang pun yang tahu. Begitulah cara kerja Miko yang terampil.


Kalan memang pandai dalam tanggung jawab, namun Kalan belum terampil seperti Miko dalam menyelesaikan masalah, Kalan masih membutuhkan waktu panjang untuk berfikir dan mencari tahu jawabannya. Kalan tidak bisa memutuskan suatu masalah hanya melihat satu situasi saja.


Berbeda halnya dengan Kalan yang masih bimbang, Varo memilih pergi ke rumahnya untuk bertemu dengan sang papi, satu-satunya cara agar Viona dan Gema bisa di temukan.


“Lo bener-bener brengsek Kalan!” monolog Varo di dalam mobil sambil memukul-mukul stir mobilnya.

__ADS_1


“Gila lo! Viona salah besar udah suka sama laki-laki seperti Kalan!”


***


“Gue dimana?” tanya Gema pada dirinya sendiri ketika melihat sekelilingnya berwarna gelap dan sangat pengap itu. Dan apa ini? Tangan dan kakinya di ikat pada kursi yang kini sedang ia duduki.


Seakan teringat, “Viona” panggilnya.


Gema berusaha melepaskan tangannya dari tali yang mengikatnya.


Terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat, “lo?!” ucap Gema ketika melihat dengan jelas siapa yang berada di hadapannya kini.


Pria itu tersenyum remeh, “lo kenal sama gue? Good boy” ujarnya.


“Dimana Viona?!” tanya Gema to the point.


“Nyalakan lampu” perintah pria itu.


Lemari pun tergeser, betapa terkejutnya Gema ketika melihat Viona yang sudah terbaring di kasur king size dengan wajah yang babak belur.


“Lo apain Viona? Brengsek!”


“Lo engga perlu tau gue apain cewe lo boy” ledek pria tersebut.


“Bajingan!”


“Hahahahaha”


“Lo tau dari mana tentang Viona, Rel?” tanya Gema.

__ADS_1


Rel. Verel adalah kakak sepupu Gema yang sangat tidak menyukai Gema. Gema adalah cucu yang sangat disayangi oleh kakeknya karena Gema adalah anak yang pintar dan juga tampan. Verel juga tampan namun dirinya tidak sepintar Gema, maka dari itu Verel sangat membenci Gema apalagi saat kakeknya selalu membanding bandingkan dirinya dan juga Gema.


Verell menepuk tangannya tidak kali.


Prok..


Prok..


Prokk..


Dan keluarlah seorang Daffa. Daffa Narendra, pria yang dua tahun lalu membuat masalah dengan Varo dan juga Viona. Kini Daffa kembali lagi membuat masalah dengan Viona, lebih besar dari dua tahun yang lalu.


“Anjing lo semua!” sarkas Gema.


Bugh…


Satu pukulan kembali mendarat di pipi mulus milik Gema.


Gema menatap nyalang ke arah Verell dan juga Daffa, “lo salah besar Rel, libation Viona di antara kita” ujar Gema dengan nada penuh tekanan.


Verell tersenyum remeh.


“Lo juga salah besar Fa, udah ikut campur urusan gue dan juga Vereel dan melibatkan Viona ke dalamnya” ujar Gema lagi.


Daffa pun ikut tersenyum remeh.


“Lepasin Viona sekarang juga!”


“Tidak semudah itu” ujar Verell

__ADS_1


“Lo mau apa hah?! Lo mau apa dari gue?”


“Gue hanya mau lo dan dia mati di tangan gue!” jawab Verell dengan sorot mata yang tajam.


__ADS_2