
“Hay Vio” sapa Dafa kepada Viona yang kini sedang duduk di café yang dekat dengan rumahnya.
Viona di ajak oleh Varo untuk duduk santai di café tersebut. Kata Varo untuk membuat mereka berdua agar lebih akrab saja.
Tapi sekarang? Kenapa ada Dafa yang datang ke café tersebut?
Viona tak menjawab sapaan dari Daffa dirinya hanya menetralkan perasaannya yang tak karuan.
Ingin sekali Viona langsung menghilang dari café sekarang juga, malas sekali untuk bertemu dengan seorang Daffa.
“Woi Fa, lo datang juga”
“Iya lah bro, engga mungkin kan gue engga dating kalau buat cewe cantik begini”
“Lo mau pesen apa?”
“Apa aja deh suka-suka lo”
“Oke”
Berbeda halnya dengan Viona yang justru mengirimkan pesan kepada Gema untuk datang ke café Bintang saat ini juga.
Viona Alexander
Gem, lo dimana?
Lo bisa ke café bintang sekarang engga?
Gue lagi butuh lo banget nih sekarang
Entah sebuah keberuntungan Viona atau bagaimana, Gema langsung membalas pesan Viona
Gema Takbir 📢📢📢
Oke gue kesitu sekarang
Lo tunggu, jaga diri lo baik-baik
Viona Alexander
Oke
“Sebentar lagi kita ujian terus lulus, lo mau lanjut dimana Fa?” tanya Varo.
Varo melihat Viona yang nampaknya sangat enggan untuk mendengar obrolan mereka berdua itu, “gue SMA disini kok Var, lo tau sendiri gue engga bisa jauh-jauh dari adik lo”
“Bisa aja lo. Lo kan belum tau adik gue mau atau engga sama lo”
“Pasti mau lah, masa sama gue dia engga mau sih Var”
Varo terkekeh, “dia beda”
“Gue tau dia beda, maka dari itu gue suka sama adik lo”
“Viona” panggil Dafa.
“Hem?”
“Lo mau engga jadi pacar gue?”
“Enggak!”
“Woy Gema” panggil Viona mengalihkan pembicaraan Dafa.
Gema melihat ke arah Viona, “lo disini juga Vi?” tanya Gema berbasa-basi.
“Iya, lo sama siapa disini?”
“Sendiri” jawab Gema dan melihat ke arah dua laki-laki yang bersama dengan Viona kini.
“Oh iya Gem, kenalin ini Dafa” ucapnya, karena Gema memang mengetahui tentang Varo.
Gema mengulurkan tangannya untuk berkenalan, “oh iya gue Gema”
“Daffa”
“Oh jadi ini yang namanya Daffa, kalau di liat dari tampangnya sih dia orang baik, tapi gue juga ngerasa ada yang aneh sama dia” gumam Gema dalam hati.
“Gem, kita duduk di meja yang itu yuk”
“Oh boleh” jawab Gema.
Viona dan Gema pun duduk di meja yang bersebrangan dengan Varo dan juga Dafa.
__ADS_1
“Itu siapa?” tanya Dafa kepada Varo.
“Kan lo tadi udah kenalan sama dia, kenapa masih nanya?”
“Maksud gue siapanya Vio?”
“Temen kelas”
“Oh” jawabnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kayanya gue bakal susah dapetin Dafa kalau ada dia. Keliatan jelas kalau dia sangat menjaga Viona lebih dari Varo. Dan sangat terlihat kalau dia engga suka sama kehadiran gue” gumam Dafa ketika melihat kedekatan antara Gema dan juga Viona.
“Jadi itu yang namanya Dafa?” tanya Gema kepada Viona. Yangs ejak tadi Dafa selalu memperhatikan keduanya.
Viona mengangguk, “iya bener Vi, gue juga punya firasat yang engga baik ke dia. Kayanya dia memiliki aura hitam” celetuk Gema membuat Viona terkekeh.
“Ada-ada aja lo” ‘jawab Viona.
“Eh iya, tapi lo jangan kasih tau Kalan soal ini ya”
“Kenapa?”
“Gue engga mau repotin dia terus-terusan”
Gema mengangguk, “oke baby Ona” jawab Gema dengan senyum manisnya.
***
El✨
Lexa, hari ini lo sibuk engga?
Viona Alexander
Engga El, kenapa?
El✨
Mau ajak lo main ke taman
Taman depan komplek lo aja
Viona Alexander
Oke
El✨
Engga, Gema juga
Jadi bertiga
Viona Alexander
Oke
Kalian ke rumah gue aja ya, jemput gue
El✨
Oke
Setelah mengirimkan pesan kepada Viona, Kalan mengirimkan pesan kepada Gema
Kalandra
Gem, lo lagi ada di rumah engga hari ini?
Gema
Ada Lan, kenapa?
Kalandra
Engga apa-apa
Gue cuma mau ajak lo ke taman depan komplek Viona
Mau main
Gema
Oke
__ADS_1
Lo ke rumah gue, apa gue yang ke rumah lo?
Kalandra
Gue aja yang ke rumah lo
Gema
Oke
***
“Ada apa nih kita main bertiga, tumben banget?” tanya Viona ketika kini mereka bertiga sudah berada di taman depan komplek Viona.
“Engga tau nih Kalan”
“Gue mau main aja sama kalian, emang engga boleh?”
“Biasanya kan lo sibuk banget, sibuk sama buku sibuk sama laptop lo”
Mereka bertiga memang sering keluar rumah untuk bertemu, niat awal ingin bermain, tetapi seorang Kalan akan selalu membawa buku dan laptopnya ketika mereka bertiga berkumpul dan berakhirlah mereka belajar bersama.
“Engga apa-apa”
“Yaudah yaudah, sekarang kita cari cemilan aja” ajak Viona kepada kedua teman prianya itu.
“Sebentar lagi kita ujian akhir semester 2. Dan sebentar lagi kita kelas 8 engga kerasa banget ya kita udah satu tahun sekolah” kata Gema sembari memakan cemilannya.
Viona mengangguk, “iya bener. Kita sebentar lagi bakal jadi dewasa”
“Kalian mau jadi dewasa?”
Viona dan Gema mengangguk, “mau banget” jawabnya serempak.
“Kenapa?”
“Biar bisa cari uang sendiri” jawab Gema.
“Biar bisa tinggal di rumah sendiri dan ya.. Gapai cita-cita gue”
“Emang cita-cita lo apa?”
“Ketemu mami gue”
“Mami lo kan udah engga ada, Vi” timpal Viona.
Viona tersadar, “eh iya ya mami gue kan udah bahagia di atas sana. Jadi gue ganti deh, gue mau jadi dokter biar bisa bantuin orang yang sakit”
Kalan tersenyum, “bagus”
Hari ini adalah hari yang sangat membuat hati Viona bahagia. Kenapa? Karena dirinya bisa tertawa bersama dengan dua sahabat prianya.
Sebenarnya hanya satu pria yang ia anggap sebagai sahabat, karena satu prianya lagi Viona sudah memendam rasa kepadanya. Namun, Viona tidak ingin mengungkapkannya, karena menurut Viona bisa bersama-sama saja seperti ini sudah membuat dirinya bahagia.
***
Hari sudah mulai gelap, namun Viona masih asik berkutak dengan pensil dan buku diarynya.
Dirinya sangat tidak ingin kehilangan momen hari ini, maka dari itu Viona menuliskan semua apa yang ia rasakan saat ini. Rasa yang sangat manis untuk di kenang.
Dear Kalan dan Gema
Tulisan ini gue tulis untuk kalian berdua. Untuk pria terbaik dalam hidup gue sepanjang masa.
Gue tau momen ini tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Maka dari itu, gue harus bisa sempetin waktu untuk nulis semua momen di hari ini.
Momen indah yang tidak akan pernah gue lupain sampai akhir hayat gue, sampai gue tutup usia.
Hari ini gue bener-bener bahagia, sangat-sangat bahagia. Dari mulai kalian berdua jemput gue ke rumah, bawain topi buat gue biar engga kepanasan, beli cemilan, jalan bareng, sampai beli gelang couple.
Kalau kata Gema, “kita beli gelang ini biar kaya orang-orang. Biar orang-orang tau kalau kita bertiga ini bersahabat. Jadi engga akan ada kata permusuhan diantara kita bertiga”
Gema itu emnag lucu, lucu banget. Selera humor dia tuh tinggi banget. Engga aka nada orang yang engga ketawa kalau lagi sama dia, walaupun kalau dari tampang dia selalu semerawut. Gue yakin sih kalau Gema udah SMA pasti di cap sebagai bad boynya sekolah. Karena Gema itu ganteng, keren lagi.
Beda kalau sama Kalan. Kalan itu cuek, susah di tebak tapi aslinya dia care ko sama orang. Buktinya gue selalu di jaga banget sama dia. Kalau Kalan tuh pembawaannya serius, tegas juga, sisi humor Kalan emang ada, tapi engga sebanyak Gema.
Kalan selalu bilang, “kita harus bisa menempatkan diri kita pada posisi yang benar. Ada waktunya serius ada juga waktunya untuk becanda. Jadi, kalau orang lagi serius ya harus menempatkan diri pada waktu yang serius, jangan pas lagi serius malah di ajak becanda. Itu namanya engga nyambung”
Gema dan Kalan memang saling bertolak belakang, engga akan ada abisnya kalau ngomong sama mereka itu, nah karena itu gue jadi penengah diantara mereka berdua.
Tapi gue sayang, sayang banget sama mereka berdua. Ya walaupun gue menganggap lebih diantara kedua sahabat gue ini. Gue berharap sih, semoga dia juga memiliki rasa yang sama kaya gue.
Eh tapi jangan deh, kasian cowo yang gue suka, gue kan engga akan bertahan lama lagi, hidup gue bisa di hitung. Kan kasian kalau cowo yang gue suka harus mellow karena kehilangan gue.
__ADS_1
Viona Alexander,
Jakarta 8 April 2023