Kalandra Elvano

Kalandra Elvano
Neraka Bagi Viona


__ADS_3

Papi Durjana💔


 Di mana kau anak sialan?


Apakah kamu sekarang mencari


perlindungan kepada keluarga Wijaya?


Sangat merepotkan!


Viona


Jangan pedulikan Viona lagi, pi!


Memang kenapa, jika Viona bersama keluarga Wijaya?Apakah ayah takut?


Ternyata papi penakut!


Papi Durjana 💔


Apa katamu? Takut?


Kamu liat saja apa yang akan saya lakukan kepada keluarga Wijaya


Terutama anak laki-laki yang sudah membantu mu!


Siapa nama anak laki-laki itu?


Kalan?


Kalandra Wijaya!


Viona


Jangan sentuh keluarga Wijaya


Dan jangan sekali-kali papi menyentuh Kalan!


Apa mau papi sebenarnya?


Papi Durjana 💔


Mudah saja, kamu pulang sekarang juga. Kalan mu akan aman


Saya tidak akan mengusik Kalan mu!


Viona


Baik, Viona akan pulang sekarang juga!

__ADS_1


Papi Durjana 💔


Baik!


Dan disinilah Viona sekarang, di rumah yang super megah namun sama sekali tidak ada rasa nyaman untuk Viona.


Perlahan tapi pasti, Viona melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah tersebut dengan menggenggam erat tali tas punggung sekolah miliknya, rambut yang panjang dan indah ia biarkan terurai.


“Akhirnya kamu pulang juga!” suara yang keluar dari mulut papi begitu saja ketika melihat Viona masuk ke rumahnya.


Terlihat sudah ada papi, mami tiri Viona dan juga Varo sedang duduk bersidakep menunggu kedatangan Viona sejak tadi.


Dengan hati yang kuat dan mental yang sedang Viona kuat-kuatkan, Viona menilik satu persatu wajah-wajah yang membuat dirinya tidak nyaman.


“Ya!” jawab Viona.


Papi bangun dari duduknya dan mendekat ke arah Viona, “dari mana saja kamu?!”


“Di tempat ternyaman dan paling nyaman menurutku!” jawab Viona dnegan tegas dan menatap tajam mata sang papi.


“Apa kamu menjadi pelacur, hah?!” tanya sarkas papi dnegan menggenggam erat dagu Viona.


Viona melirik ke arah Varo yang juga sedang menatapnya dengan tajam menunggu jawaban dari Viona. Viona tahu bahwa informasi yang papinya miliki pasti berasal dari Varo, si anak brengsek itu.


“Jawab!!”


“Oh jadi benar?”


“Menurut papi?”


“Dasar wanita sialan!” sarkas papi


Dan


Plak…


Plak…


Plak.. tamparan keras yang lolos di pipi mulus Viona gadis remaja yang baru menginjak usia 12 tahun.


Yang kemudian kembali menjambak keras rambut Viona.


Viona hanya diam namun tanganya tetap mengganggam erat tali tas punggung sekolahnya.


“Mau jadi wanita apa kamu?”


“Murahan, hah?”


“Ikut papi sekarang juga!” lanjutnya dan papi menyeret paksa Viona ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Setelah sampai di kamar mandi kamar Viona, papi mendorongnya dengan kasar sampai tubuh mungil Viona membentur dinding kamar mandi, menyalakan shower dan mendudukkan Viona di bawah air shower yang sangat dingin itu. Viona tetap diam ketika di perlakukan seperti itu.


Papi kembali memegang dagu Viona, “aku tidak pernah mendidik anak-anakku menjadi seorang pelacur!” ucapnya dan menghempaskan dagu Viona.


Mengusap tangan Viona secara kasar seraya membersihkan kotoran pelacur dari tubuhnya, dan viona menghempaskan tangannya.


Kembali menatap mata sang papi dengan tajam di bawah guyuran air shower yang sangat deras membasahi tubuhnya yang masih berbalut seragam sekolah yang ia kenakan saat di rumah sakit.


“Apa papi bilang? Didik? Engga salah? Emang selama ini papi mendidik, Viona?” tanyanya dnegan nada mengejek.


Tangannya bersidakep, “kenyataannya adalah, papi yang tidak mendidik Viona!”


“Viona pelacur?”


“Wajar saja pi, papi harus sadar diri. Karena papi memiliki dua wanita pelacur!”


“Satu Viona, dan satu lagi wanita yang selalu bersama dengan papi!” ucapnya dengan nada mengejek dan tawa yang di buat-buat.


Plak…. Papi kembali menampar Viona.


“Jaga ucapanmu Viona! Dia adalah ibu mu!”


“Woah” kata Viona sambil terlihat sangat marah karena sang papi lebih membela wanita itu.


“Ibu? Ibu mana yang rela membunuh wanita lain hanya untuk kebahagiaannya sendiri?”


“Ibu mana pi?!”


“Mami mu meninggal karena sakit yang di deritanya, Viona”


“Bukan! Mami meninggal karena papi sudah memilih wanita sialan itu! Kalau saja wanita sialan itu tidak hadir di kehidupan kita, mami engga akan meninggal!”


Plak… papi yang geram kembali menampar Viona.


“Sekali lagi kamu seperti itu papi engga akan segan-segan membunuh kamu Viona” ucapnya dan meninggalkan Viona sendiri di kamar mandi itu.


Viona menarik nafasnya panjang dan membuangnya, memukul pelan dadanya untuk mengeluarkan sesak dari dalam.


Sunggu enrka baginya jika masih di rumah ini, “mami liat ‘kan? Papi emang jahat mi, jahat banget sama Viona” lirih Viona dnegan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Mami engga mau nemenin Viona gitu?”


“Mami engga mau ajak Viona pergi dari sini?”


“Viona cape mih, cape banget harus ngerasain ini sendirian”


“Vio harus ketemu sama papi, Varo, maminya Varo”


“Cape banget mih” lirihnya lagi dan mulai menundukkan kepalanya, menyimpan kepalanya diantara kedua lututnya.

__ADS_1


__ADS_2