
“Vio” teriak Hana ketika melihat Viona masuk ke kelas.
“Hai Hana” sapa Vio dengan lembut.
“Eh eh ini kenapa muka lo, Vi?” tanya Hana ketika melihat pipi Viona yang memerah seperti bekas tamparan.
“Engga apa-apa gue, kayanya gue ke banyakan pake blush on”
“Sejak kapan lo pake blus on?”
“Hari ini”
“Woah Viona jadi cewe dong hari ini”
“Han bisa diem enggak? Ini berisik banget sumpah”
“Hehehe sorry”
“Yaudah gue ke kantin dulu laper mau cari sarapan” ucap Hana dan Viona hanya menganggukkan kepalanya.
Viona memang sengaja berangkat pagi karena dirinya malas di hukum.
Tuk…
Satu susu kotak berada di meja Viona, Viona yang sedang memainkan ponselnya pun mendongakan wajahnya.
“Minum dulu susunya, makan dulu rotinya, gue tau lo belum sarapan” ucap Kalan yang baru saja tiba di kelasnya.
Viona tersenyum, “thanks El” jawabnya dan mulai memakan roti yang di bawakan oleh Kalan.
__ADS_1
“Miko kemana? Tumben banget lo engga bareng sama dia” tanya Viona kepada Kalan.
Kalan menyimpan tasnya kemudian mengeluarkan handuk kecil yang sengaja ia bawa dan kembali duduk di kursi sebelah Viona, “kenapa bisa begini?” tanya Kalan lembut yang mulai mengompres pipi Viona yang merah.
Kalan tahu ini bukan blush on melainkan tamparan keras yang di layangkan oleh seorang pria.
Kalan memang engga sengaja mendengar obrolan dari Hana dan juga Viona, maka dari itu sebelum masuk ke kelas, Kalan terlebih dahulu pergi ke kantin untuk membeli roti dan juga susu kotak untuk Viona, dan pergi uks untuk mengambil air dingin serta tempatnya untuk mengompres pipi Viona.
Viona terdiam dengan perlakuan Kalan yang mendadak seperti ini.
“Siapa yang lakuin ini ke elo, hem?” tanya Kalan lagi dengan telaten masih mengompres pipi Viona.
Viona kembali mengunyah rotinya, “lo belum jawab pertanyaan gue, El”
“Lo juga belum jawab pertanyaan gue, Lexa”
Kalan menarik nafasnya dan menatap mata indah milik Viona, “lo bisa engga, engga nanyain laki-laki lain ke gue, Xa?”
“Kalau emang dia engga sama gue, berarti dia ada urusan lain. Lo akan tahu nanti pas nama Miko di panggil saat absen gue bakal kasih alasannya. Jadi lo engga perlu tanyain Miko kalau dia engga sama gue, karena lo bakal tau sendiri nanti”
Viona yang mendengar itu pun mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti apa yang dikatakan oleh Kalan.
“Sekarang lo jawab pertanyaan gue, kenapa bisa gini? Varo?” tanya Kalan dan Viona menggeleng.
“Bener bukan Varo?” tanya Kalan lagi dan diangguki oleh Viona.
“Papi lo?” tebak kalan dan Vioana mengangguk dengan pelan.
Kalan menarik nafasnya kembali.
__ADS_1
Memilih untuk diam dan menyelesaikan kompresannya pada pipi Viona.
“Kalau ada apa-apa lo bisa langsung bilang ke gue, atau Gema kalau lo masih sungkan sama gue Vi”
“El” panggil Viona ketika melihat Kalan bangkit dari duduknya.
“Apa?”
“Sorry”
“Engga apa-apa, lo udah besar, gue tau lo udah bisa bedain mana yang baik dan mana yang salah, gue cukup jagain lo dari jauh”
“Gue engga mau lo terluka karena gue”
Kalan kembali duduk, “gue engga akan terluka karena lo Vi, percayalah”
“Abisin sarapan lo, sebentar lagi bel masuk bunyi” lanjut Kalan dan pergi meninggalkan Viona.
“Sorry El” lirih Viona.
“Gue tau lo care banget sama gue. Gue engga akan jaga jarak kok sama elo, gue yakin sekarang kalau lo emang akan selalu ada buat gue”
“Gue akan tetep jagain lo walaupun nyawa taruhannya”
“Lo yang terbaik, El” ucap Viona lagi.
“Baby Ona….” teriak Gema yang berlari menghampiri Viona di dalam kelas.
“Gema takbir” teriak Viona dengan girang ketika melihat Gema yang menghamprinya.
__ADS_1