Kalandra Elvano

Kalandra Elvano
Rooftop


__ADS_3

“Kita mau kesana sekarang bang?” tanya Miko kepada Kalan.


Kalan menggeleng, “enggak, kasih waktu Viona untuk sendiri. Gue yakin sekarang viona Cuma butuh waktu untuk sendiri dulu, biar besok baru gue tanya langsung ke Viona nya pas di sekolah” jelas Kalan dan mendapati anggukan dari keduanya.


Kalan memang laki-laki yang penuh pengertian dan penuh perhatian, Kalan selalu memikirkan dua sampai tiga kali untuk memutuskan sesuatu. Kalan juga sering melihat sekelilingnya yang dimana Kalan juga memiliki tiga wanita dirumahnya, mommy, dan kedua adik kembarnya, maka dari itu sedikit banyak Kalan mengetahui sifat wanita seperti apa dan harus bagaimana memperlakukannya.


***


Berbeda dengan Kalan yang memilih untuk menunggu hari esok. Kini Varo masih mengemudikan  motornya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah Daffa.


Setelah 10 menit dalam perjalanan, akhirnya Varo pun sampai tepat di depan gerbang rumah Daffa.


Daffa mengambil ponselnya untuk menghubungi Daffa.


Via Telepon


“Keluar lo bgst!” maki varo dari balik telepon.


“Gue ada di depan rumah lo sekarang juga!”


Tuut… sambungan telpon pun di putus oleh Varo.


Varo yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, langsung memberikan bogeman mentah kepada Daffa ketika melihat Daffa membuka gerbang rumahnya.


Bugh…


Bugh…


Bugh…


Daffa yang sudah mengetahui akan hal ini pun membalas setiap pukulan yang di layangkan oleh Varo.


Varo dan Daffa pun saling baku hantam.


“Stop!” teriak Devan yang baru saja sampai di rumahnya, dengan segera melerai Varo dan juga Daffa.


Lihatlah kini kedua laki-laki itu sudah babak belur dengan nafas yang sudah tidak beraturan.


“Apa-apan sih! Kaya anak kecil tau gak! Kalau kalian ada masalah selesaiin baik-baik, engga akan selesai kalau cara kalian nyelesain masalah dengan cara berantem kaya gini!” maki Devan berfikir dewasa.


“Pertemanan kita selesai sampai disini Fa”


“Jangan ganggu gue dan adik gue lagi!”


“Kalau sampe lo masih ganggu Viona, lo berhadapan sama gue!” sarkas Varo dan pergi meninggalkan kediaman Narendra.


***


“Lo engga apa-apa Fa?” tanya Devan ketika Varo sudah meninggalkan rumahnya.


Daffa menggeleng, “dari mana lo jam segini baru pulang? Engga biasanya” tanya Daffa dengan mengerutkan keningnya.


“Abis belajar kelompok tadi” jawab Devan berbohong.


“Oh” ujarnya. Daffa mengangguk percaya kepada sang adik, karena Devan memang tidak pernah berbohong kepadanya, Devan memang anak yang pintar dan selalu menghargai watu untuk hal-hal yang penting tidak seperti dirinya.


“Lo belum jawab pertanyaan gue Fa”


“Apa?”

__ADS_1


“Lo engga apa-apa?”


“Gue engga apa-apa”


“Itu si Varo kenapa bisa kesini? Bukannya dia temen lo?” tanya Devan pura-pura tidak tahu tentang apa yang sudah terjadi.


“Engga tau gue, engga jelas” jawab Daffa dan pergi begitu saja meninggalkan Devan.


***


Keesokan harinya


“Minggu depan kak Varo ujian, terus dia lanjut SMA, kira-kira mau SMA dimana ya?” monolog Viona ketika sedang merapihkan dirinya di depan cermin.


“Siap” ujarnya.


***


Sekolah SMP SATYA


“Lexa” panggil Kalan ketika melihat Viona sedang berjalan di koridor sekolahnya.


Viona menoleh ke arah Kalan, “eh El, lo udah dateng?”


Kalan mengangguk, “lo udah sarapan belum El? Gue bawa bekal nasi goreng nih, kita sarapan bareng yuk di rooftop” ajak Viona dan diangguki oleh Kalan.


“Si Gema tumben belum dateng” ucap Viona ketika tidak melihat Gema sama sekali di gerbang sekolahnya. Karena siapapun yang berada di rooftop dapat melihat apapun yang berada di sekolah.


“Gue disini” kata Gema yang baru saja datang.


Viona melihat ke arah belakang dan benar saja sudah ada Gema di samping Kalan yang ikut menyantap nasi goreng milik Viona, “lo kapan datang, Gem?”


“Oh” jawab Viona dengan ber oh ria.


“Kalian belum makan berapa hari?” tanya Viona kepada kedua mahluk yang sangat di sayanginya ini.


“Lima hari” jawab Gema.


Kalan hanya diam saja, begitulah Kalan. Hari-hari biasa tanpa ada masalah pun Kalan irit bicara bagaimana jika sedang ada masalah? Pasti akan semakin irit sekali dalam bicara.


Gema dan Viona saling pandang dan melirik ke arah Kalan yang sedari tadi hanya diam.


“El” panggil Viona.


“Hm?”


“Lo kenapa? Lagi ada masalah?” tanya Viona lagi.


“Kalau lo ada masalah mening lo cerita deh sama kita berdua, siapa tau kita bisa mecahin masalah lo”


Gema mengangguk, “kenapa si lo? Lo emang irit banget sih, tapi ini engga biasanya lo kaya gini”


“Bukan gue yang punya masalah”


“Terus?”


“Viona yang punya masalah”


Deg…

__ADS_1


“Ma… masalah?” tanya Viona dengan penuh keterkejutannya.


Viona menggelengkan kepalanya samar ketika bayangan-bayangan perkataan Daffa kembali terlintas dalam benaknya.


Gema melirik ke arah Viona, “lo punya masalah apa, Vi?” tanya Gema.


“Gue engga apa-apa tuh” jawab Viona acuh tak acuh.


“Lo kenapa kemarin pulang ke apartemen lo? Dan sejak kapan lo punya apartemen?” tanya Kalan to the point.


“Lo punya apartemen Vi?” timpal Gema.


Viona hanya mengangguk-anggukan saja kepalanya.


Terdengar kembali teriakan dari seseorang yang sangat ia kenali.


“Vi”


“Vi”


“Viona” panggil laki-laki itu dengan wajah yang penuh ke khawatiran.


Keriga manusia yang sedang ebrada di rooftop pun menoleh ke asal suara, “Varo” ucap ketiganya secara bersamaan.


“Vio lo baik-baik aja ‘kan de?” tanya Varo kepada Viona dengan langsung memeluk tubuhnya.


Tubuh Viona menegang, takut apa dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Viona tidak ingin Gema dan Kalan tahu tentang apa yang terjadi kepadanya.


“Gue baik-baik aja kak” jawab Viona dengan nada yang terdengar sangat baik seperti tidak terjadi apa-apa.


“Lo engga bohong ‘kan sama gue?” tanya Varo lagi dan melepaskan pelukan itu di tubuh Viona dan beralih menggenggam tangan Viona. Viona mengangguk.


“Bagian mana yang Daffa sentuh?” tanya Varo membuat kedua laki-lakiyang sejak tadi menyimak pun berdiri dengan sigap.


Viona melirik kepada kedua temannya, “gue engga apa-apa” jawab Viona.


“Gue udah bales dia semalem Vi, lo tennag aja ya. maafin gue, gue udah percaya begitu aja sama dia sampe-sampe lo mau terluka karena gue” jelsa Varo.


“Lo apain dia?!” sarkas Kalan dengan wajah yang penuh amarah.


Dengan sigap Gema menahan tubuh Kalan.


“Bukan gue, tapi Dafa”


“Siapa itu Dafa?”


“Dafa Narendra”


“Temen lo?!” tanya Kalan dan Varo mengangguk.


Kalan menggeleng samar, dan beralih kepada Viona, “lo beneran engga apa-apa Vi? Apa karena ini lo di usir dari rumah?” tanya Kalan dan Viona mengangguk.


“Astaga Vi, kenapa lo engga bilang sama kita sih? Kita kan bisa bantu lo” ucap gema.


“Sorry” cicit Viona.


Gema, Kalan dan Varo membuang nafasnya kasar.


“Udah deh, yang penting lo engga apa-apa Vi”

__ADS_1


__ADS_2