
Owen
What the fxck adalah kalimat pertama yang terlintas di pikiran gue dan yang gue ucapkan. Kalimat itu menjadi kalimat kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Gue tidak bisa berpikir lepas dari kata-kata itu.
What the fxck.
What the fxck.
What the FXCK?!
WHAT THE FXCK IS GOING ON?
Gue memicingkan mata sekali, menekannya dengan begitu kuat sehingga timbul warna-warna di balik kelopak mata gue. Setelah gue membukanya kembali, gue malah dipertemukan dengan kegelapan sesaat sebelum huruf-huruf yang ada di kertas itu tampak lagi dan mengganggu jalan pikiran gue untuk yang kesekian kalinya.
What the fxck am I seeing right now?
"What the fxck is this?" Akhirnya gue bisa menyuarakan kebingungan dan keterkejutan yang gue rasakan di dalam. Entah perasaan mana yang harus didahulukan; kebingungan, karena gue tidak punya pengetahuan seujung kuku pun soal ini, atau keterkejutan, karena, let's face it, kalau si Angga Raksasa ini udah rela capek-capek ke sini untuk bertemu sama gue, berarti apa yang di dalam surat ini adalah benar adanya.
Right?
RIGHT?
"WHAT THE FXCK IS THIS?!"
****
Angga
Gue mendapatkan tempat duduk paling depan dalam pertunjukan kaleidoskop emosi yang terjadi di wajah sang Bintang Pop. Emosi-emosi yang pada akhirnya memancing perasaan yang ada di dalam diri gue juga.
"What the fxck?!" Owen berseru. Dia mendongak, matanya yang melebar menatap gue dan menuntut penjelasan.
What the fxck? Apa yang dia maksud dengan what the fxck?
__ADS_1
Namun, sebelum mendapatkan apa-apa—karena to be honest, gue jadi ikut-ikutan kehilangan akal setelah melihat reaksi dari Owen yang bersikap clueless, dia kembali menunduk dan menghadap ke kertas itu lagi.
Oh my fxcking God.
It was at this moment I knew I fxcked up.
What have I done?
"What the fxck is this?"
Gue mendengar geraman yang ke luar dari mulutnya. Namun, tidak ada yang ke luar dari mulut gue. Semua yang sudah gue persiapkan sebelum datang dan menemui dia di sini; kata-kata, keberanian, dan kebulatan tekad, lantas sirna setelah melihat respons bajingan ini ketika mendengar informasi dari gue.
"WHAT THE FXCK IS THIS?!"
Dia kembali mendongak dan kali ini benar-benar menantang mata gue. Bola-bola matanya yang berkobar oleh api amarah membuat gue terperangah, menjadikan lidah gue tegang dan kering seperti sepotong kayu. Gue tidak bisa berkata apa-apa.
"AND WHO THE FXCK IS OLE?"
Pertanyaan yang diajukan sebentar ini yang melemparkan gue dari titik keseimbangan. Di dalam otak, begitu banyak pikiran yang berseliweran, berlalu-lalang, dan berputar-putar. Di dalam dada, rasa-rasa itu mulai bercampur aduk, semua bersikeras untuk menjadi yang paling dominan. Kekacauan di dalam hati dan badai tornado yang terjadi di dalam pikiran tak pelak mengundang bencana yang lain di dalam perut gue. Bagian yang ini, sedikit demi sedikit mulai dipenuhi oleh asam lambung sehingga membuat gue mual.
Fxck.
Everything, and I mean every things, even the smallest bits; every movements, every thoughts, every details that I could capture with my eyes, is throwing me off my balance.
Kekisruhan yang terjadi di dalam diri membuat gue lengah terhadap keadaan sekitar. Tahu-tahu Owen sudah ada di depan muka gue, muka kami sekarang hanya berjarak beberapa sentimeter di antara satu sama lain, dan mencengkeram baju yang gue pakai. Saking eratnya, gue bisa mendengar bunyi kain yang robek di antara deru napasnya yang memburu.
"Bilang sama gue, Sialan. Ole itu siapa, ha? Siapa orang yang namanya Ole? SIAPA?" Geraman tadi kini telah bereinkarnasi menjadi teriakan-teriakan penuh janji.
Janji kalau dia tidak mendapatkan penjelasan yang diinginkannya segera, tidak ada satu pun yang akan luput dari malapetaka yang akan disebabkan oleh laki-laki di depan gue ini.
Gue tidak gentar dengan apa yang bisa sia lakukan. No, gue tidak takut sama sekali pada Owen. Namun, yang membuat gue ciut adalah kenyataan bahwa dengan tidak sengaja gue telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh Olavia. Gue telah membeberkan sebuah rahasia yang selama ini Olavia simpan dari satu-satunya orang yang patut tahu. Gue telah menciptakan bencana sendiri untuk kami.
Sebagai bahan pertimbangan dan pertahanan diri, gue tidak tahu kalau Olavia menjadikan Ole sebagai sebuah rahasia. Gue tidak tahu kalau selama ini Olavia telah menyembunyikan keberadaan Ole dari ayah biologisnya.
__ADS_1
What a cluster fxck.
Namun, itu tidak bisa.menjadi alasan pembenaran. Tetap saja gue adalah pihak yang bersalah dalam keadaan ini.
Shxt.
Gue telah mengacaukan semuanya. Gue telah menyulut prahara yang gue sadari dengan sesadar-sadarnya akan berdampak kepada hubungan dan rencana gue bersama Olavia.
Mungkin gue harus mengucapkan selamat tinggal pada rencana pernikahan kami.
Oh, my fxcking God. No.
Pemahaman akan hal tersebut sekonyong-konyongnya meliputi pikiran gue dan di saat yang sama melucuti semua harapan dan angan-angan yang sudah bersemi di dalam hati gue tentang kami. Tentang gue, Olavia, dan Oleander.
Fxcking hell. Mungkin untuk kedepannya tidak akan ada kami lagi.
Semangat dan keinginan gue terbang sudah. Menguap ke udara. Meninggalkan gue yang kini hanya seonggok campuran daging dan tulang tanpa hasrat untuk menjadi seseorang lagi.
Fxck. Fxck. Fxck.
"Ngomong, Setan! Ngomong lo. Jangan diam aja kayak patung!" Owen kembali menuntut sembari menggoyang-goyangkan pegangannya.
Badan gue ikut terombang-ambing bersama gerakan itu. Gue tidak tahu apakah memang rasa marah yang menguasai si Berxngsek ini yang membuat dia jadi semakin kuat sehingga lengannya yang masih saja kerempeng itu bisa menggerakkan tubuh gue ini, atau karena gue benar-benar sudah pasrah terhadap apa pun yang akan terjadi.
Setelah dipikir-pikir, gue yakin jawabannya lebih cenderung pada pilihan yang kedua.
Gue sudah pasrah. Gue sudah pasrah dengan apa yang akan menjadi akibat dari tindakan tolol gue ini. Gue sudah pasrah. Gue sudah pasrah.
Begitu besar rasa bersalah di dalam diri gue sehingga dia bisa membuat gue langsung menyerahkan semuanya bulat-bulat kepada takdir.
Fxck. Satu titik di balik tulang rusuk gue tetiba saja menyelekit hebat ketika gue membayangkan wajah kecewa Olavia. Perihnya semakin menjadi-jadi ketika gue harus mengucapkan selamat tinggal pada Oleander.
Gue rasakan udara ke luar dari tubuh gue dengan pelan namun berpengaruh besar terhadap gue karena di saat itu juga gue merasa tidak lagi memiliki daya. Tubuh gue mengendur dan gue yakin akan merosot ke lantai jika bukan karena pegangan Owen di baju gue.
__ADS_1
Dengan lidah yang masih agak kelu, gue akhirnya memberikan apa yang sedari tadi diinginkan oleh bxjingan ini. "Ole ... Oleander ... adalah anak ... anak l-lo dan Olavia."
Bersambung ....