Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
41. No More Secret


__ADS_3

Angga


"Mamaaaaaa!"


Gue sontak meletakkan kaleng yang gue pegang di atas meja kopi dan berdiri saat mendengar teriakan itu. "Udah, aku aja yang lihat Ole," tandas gue ketika melihat Olavia juga bergerak di waktu yang hampir bersamaan. "Kamu duduk di sini aja. Nanti aku yang bawa dia ke luar."


Olavia mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Well, menurut gue hal ini bukanlah sesuatu yang pantas untuk mendapatkan penghargaan, akan tetapi sebuah terima kasih sungguh sangat dihargai. Gue melangkah ke kamar. Melalui pintu yang terbuka gue sudah bisa melihat kalau anak gue itu sudah duduk di atas kasur dan sedang mengusap-usap mata. "Udah bangun, Le?"


Gerakan Ole sekonyong-konyongnya terhenti setelah mendengar suara gue. Dia menoleh dengan begitu cepat sampai-sampai gue cemas lehernya akan terkilir setelah melakukan hal itu. Ole lalu berkedip-kedip sambil menatap ke arah gue.


Gue yakin senyum yang gue berikan sekarang bisa dengan mudah membelah muka gue menjadi dua. Namun, gue tidak peduli. Gue benar-benar senang karena bisa bertemu dengan anak gue ini.


"Papa!" Sesaat setelah berseru, Ole lantas mengubah posisinya dan merangkak di atas kasur. Cepat-cepat dia menggerakkan tangan dan kakinya agar bisa segera menghapus jarak di antara kami.


Pun gue melakukan hal yang sama. Langkah gue yang lebar melakukan hal tersebut dengan lebih mudah.


"Papa!" Ole kembali berseru ketika dia menghamburkan badan mungilnya ke dalam pelukan gue yang sudah terbuka.


Gue dudukkan bokong gue di atas kasur. "Hey, kiddo." Gue peluk tubuh itu erat-erat. Gue hirup wangi bedak bayi yang masih dipakainya dalam-dalam. Betul-betul gue merindukan aroma khasnya. Di saat seperti ini, bau keringatnya pun menjadi sesuatu yang gue rindukan. "Udah bangun?"


Dia mengangguk tegas. "Papa udah selesai keljanya?" Anak tiga tahun itu bertanya balik.

__ADS_1


Gue juga mengangguk. "Udah, dong," jawab gue sambil terus memagut Ole. "Gimana? Selama Papa kerja kamu jadi anak baik, gak, buat Mama?"


Oleander mengeluarkan apa yang gue artikan sebagai ringisan. Entah dia tahu apa yang dia kerjakan atau tidak saat menyeringai seperti itu. "Baik kok," akunya dengan penuh semangat. "Tapi, pas Lele kangen banget sama Papa Lele gak bisa jadi anak baik-baik lagi. Abisnya Lele mau ketemu sama Papa, tapi Mama bilang Papa masih sibuk telus. Lele kan kesal jadinya."


Okaay. What am I going to say about that? "It's okay." Gue kecup keningnya untuk menghilangkan rasa bersalah yang terlihat di wajah Ole. Gue kecup keningnya agak lama dengan harapan sentuhan gue akan membuatnya sedikit lebih tenang. "Gak apa-apa. Kamu boleh merasa kesal. Tapi, ke depannya kamu pastikan untuk menyampaikan perasaan kamu dengan benar, ya? Lagian Papa kerjanya juga lama, ya, Le. Papa juga kangen banget sama kamu."


"Iya, Pa?" Nada suaranya kembali mengandung intonasi yang ceria.


"Iya, dong. Jelas Papa kangen sama anak Papa. Masa enggak? Anaknya selucu ini." Gue menggelitik pinggang Ole dengan lembut.


Tawa renyahnya seketika memenuhi ruang kamar.


Ah. How I missed his scents. How I missed his laugh. How I missed how he mispronounced his words, how he spoke with the slight lisp because of his toddler tongue. Fxck. I missed him so much.


Of course gue tidak mempunyai semua itu. Bagaimana gue bisa membeli oleh-oleh dan mainan untuk anak gue sementara gue sendiri selama tiga hari belakangan berkelakuan seperti orang yang hidup segan mati pun tak mau. Mandi saja baru hari ini. Itu pun setelah peringatan tidak jelas dari si Oli.


Dan of course gue tidak mau memberi tahu Ole soal semua itu. "Ah, Papa gak sempat beli oleh-oleh atau mainan buat Lele kemarin. Soalnya Papa buru-buru aja pulangnya. Kangen banget soalnya sama anak Papa," kilah gue. "Kalau kamu mau, nanti aja kita beli mainannya. Gimana? Kita tanya sama Mama dulu kapan bolehnya beli mainan. Oke?"


Sorak sorai penuh kebahagiaan Oleander adalah alasan gue untuk hidup dan berusaha mati-matian selain mencintai Olavia dengan sepenuh hati. Asal gue bisa melakukan keduanya dengan benar, it is safe to say kalau kehidupan gue sudah lengkap. Gue sudah memiliki apa yang bisa gue miliki di dunia ini.


****


Hari berlalu dengan begitu cepat. Tahu-tahu Oleander sudah terlelap lagi di kamar yang tadi. Setelah ke luar kamar, Ole langsung saja menodong mamanya dengan berbagai permintaan. Dia, dengan cerdiknya, memakai kalimat "karena Papa tidak membelikan Lele oleh-oleh" sebagai alasan untuk mengajak para orang tua, termasuk Om Oli-nya, pergi ke mall dan membeli semua yang dia inginkan.

__ADS_1


Sebenarnya gue tahu apayang kami lakukan adalah salah, menuruti semua keinginan anak, akan tetapi rasa bersalah membuat kami, terutama gue, lemah dan tidak berdaya. Jadilah kami pulang dengan beberapa mainan baru tiga jam kemudian.


Yaa, apa boleh buat? Kita tidak bisa terus-terusan menjadi orang tua yang baik, kan?


Ole kembali terlelap dalam perjalanan pulang. Untung saja kami sudah makan malam sebelum melakukan perjalanan menuju ke rumah.


Sekarang sudah pukul sembilan malam. Gue, Olavia, dan Oli sekali lagi duduk di sofa di ruang tengah.


"So, gimana rencana selanjutnya?" Gue membuka percakapan. Percakapan para orang tua yang sudah seharusnya terjadi.


Oliver seketika saja memasang wajah serius. Ekspresi yang dia kenakan ketika sedang menghadapi hakim dan jaksa di persidangan. "Bokap udah menghubungi si Owen. Dia bilang dia bersedia untuk ketemu, tapi minta waktu buat nyari tempat dulu. Dia harus memastikan kalau semuanya aman. You know, in case something happen aka paparazzi showing up. Those bastards are the worse."


"Yeah, tapi bukannya dia sendiri yang memilih untuk berada di tengah-tengah mereka?" Gue tidak dapat menahan komentar sinis yang keluar dari mulut gue. Lagi pula gue tidak salah, kan? Dia sendiri yang menjadikan dirinya sebagai santapan orang-orang buas itu.


Oliver tergelak dengan satu sudut bibirnya terangkat lebih tinggi. "Yeah. And I think the xsshole deserves it."


Gue tidak bisa lebih setuju lagi dengan pernyataan Oliver. "Jadi, sekarang kita tinggal nunggu kabar dari dia, nih?"


Oliver mengangguk.


"Okay then." Gue meremas bahu Olavia yang tubuhnya sedang gue rangkul. Kalimat selanjutnya yang ke luar dari mulut gue, gue arahkan padanya. "Aku mau kamu cerita soal apa pun terkait dengan ini sama aku. Oke? Aku gak mau merasa perlu menyembunyikan sesuatu daei aku lagi. Gak peduli seberapa menyakitkan itu untuk aku. Gak cuma kamu aja yang bisa overthinking, Sayang. Aku juga. Apalagi ini menyangkut dengan anggota keluarga aku. Kamu calon istri aku, Yang. Ole itu anak aku. Aku mau tahu semua yang terjadi sama kalian. Oke? You hear me? No more secret."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2