Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
35. It's Yours


__ADS_3

Angga


Waktu tak terasa bergulir ketika kau memeluk orang yang paling kau cintai di dunia ini. Ketika kau berada di dekat orang yang kau kasihi, waktu seakan-akan sengaja menghilangkan jejaknya karena tidak mau mengganggu apa yang kalian bagi. Waktu seakan-akan sengaja mengendap-endap agar kalian bisa menikmati kebersamaan tanpa perlu mencemaskan kepergiannya. Waktu seakan-akan merencanakan perjalanannya dalam diam agar pusat perhatian kalian bukan pada keberangkatannya.


Waktu ... sengaja melakukan semua itu dan membuat gue tidak sadar sudah berapa lama kami berdiri di sini, di depan rumah gue, di depan sahabat sekaligus calon kakak ipar gue, dengan lengan gue memeluk tubuh Olavia erat sekali dan kaki cewek itu melingkari pinggang gue serta lengan yang juga melilit bahu dan leher gue dengan tak kalah eratnya.


"Fxck, Sayang. Aku kangen banget sama kamu. Fxck. Tiga hari ini terasa lebih buruk dari neraka." Gue berbisik di lekuk leher yang menjadi tempat favorit gue untuk menyembunyikan wajah itu.


"Aku juga kangen banget sama kamu, Ngga. Aku juga kangen banget sama kamu."


Pengakuan dari wanita yang paling gue cintai di dunia ini membuat simpul-simpul yang selama tiga hari terakhir mengikat dan meremas jantung gue seketika lepas. Dada gue otomatis menjadi lapang kembali. Napas pun jadi terasa lebih ringan.


"Ookay, lovebirds." Suara berat Oliver dan gelaknya yang tertahan menyusup di antara pelukan kami. Gue serta-merta mengangkat kepala agar bisa melihat sahabat gue itu. Kini di dalam pelukannya sudah ada tubuh sesosok kecil yang masih terlelap. "Gue mau bawa Ole ke dalam dulu. Jadi, it would be nice kalau yang punya rumah bisa menyisihkan sedikit waktunya untuk ngasih tahu gue dulu kamar mana yang bisa dipakai Ole sebelum kalian melanjutkan apa yang ingin kalian lakukan. Sejahat-jahatnya gue, gue gak ingin menodai mata keponakan gue kalau-kalau dia bangun pas kalian dalam situasi yang gak aman buat mata anak bau kencur. Gue gak bisa terima kalau gue punya andil dalam merusak kehidupan dan memori Ole selamanya gegara kalian."


****


Olavia


Aku semakin menyurukkan kepala ke dada Angga, entah kenapa merasa malu setelah mendengarkan ucapan Bang Oli. Namun, perasaan segan itu hanya bertahan sebentar saja ketika otakku lagi-lagi baru bisa mencerna informasi yang ditangkap oleh telinga beberapa saat setelah informasi itu masuk.


It would be nice kalau yang punya rumah bisa menyisihkan sedikit waktunya untuk ngasih tahu gue dulu kamar mana yang bisa dipakai Ole ....


Yang punya rumah? Yang punya rumah?


Kepalaku tiba-tiba saja sudah tegak. "Kamu yang punya rumah ini?" Aku menunjukan pertanyaan itu kepada laki-laki yang sedang aku panjat seperti seekor monyet.

__ADS_1


Dia tergelak. Mungkin karena melihat ekspresi terkejut bercampur bingung dan tak sabaran yang bercampur aduk di wajahnya sekarang dalam jarak yang sangat dekat. Kepala kami tak sampai sejengkal jauhnya dari satu sama lain. Paling jauh hanya sepuluh sentimeter saja.


Aku bisa merasakan gerakan daei bahunya. Apakah dia baru saja berusaha untuk mengedikkan bahu sementara aku masih bergelantungan di tubuhnya ini?


Wow.


"Come on, man." Suara Bang Oli terdengar lagi. "Sejujurnya gue juga gak mau berlama-lama melihat kalian dalam posisi kayak begini. Ini aja kayaknya nanti gue harus cuci mata dan memori gue pakai pemutih biar noda-noda yang tercipta bisa hilang."


Sialan abangku itu.


Dengan berat hati aku meluncurkan tubuhku ke bawah hingga aku bisa berdiri di atas bumi menggunakan kedua kakiku lagi. Angga pun baru melepaskan tangannya dari pinggangku setelah dia yakin pijakanku sudah tidak limbung lagi.


"Yuk, ah. Masuk. Ole bisa tidur di kamar tamu bawah aja biar nanti dia pas bangun kita bisa samperin dia langsung. Kasian dia, pasti merasa takut banget sendirian di kamar asing."


Angga kemudian menggenggam tanganku dan memimpin kami memasuki rumahnya.


Rumah ini adalah rumah Angga.


Aku masih tidak dapat mempercayai fakta ini, bahwa Angga memiliki rumah di daerah yang jaraknya paling lama hanya lima belas menit dari rumah Papa dan Mama.


Bagaimana bisa?


****


Angga

__ADS_1


Setelah Ole direbahkan di tempat tidur, Oliver mengusir gue dan Olavia ke luar dari kamar itu. "Oke, deh. Udah selesai. Sana, lanjutin urusan kalian. Gue bakal jaga pos di sini," ungkapnya sembari menjulurkan kaki di atas sofa yang terletak di bawah jendela kaca besar dengan view taman samping. "Gue kayaknya bisa catch up beberapa pekerjaan sambil nungguin Ole. Udah, pergi sana!"


Dan jujur saja kami tidak berniat sedikit pun untuk menolak suruhan sahabat gue itu.


Jadilah. Gue, dengan masih menggandeng tangan wanita pujaan gue, ke luar dari kamar dan berjalan ke ruang tengah dengan konsep open floor yang berada tepat di depan kamar. Tiba di dekat sofa, gue melepaskan tangan kami dan berbalik untuk menghadap Olavia.


Jika kalian berpikir kalau kami akan dengan mudah melanjutkan apa yang tadi kami lakukan sebelum diintervensi oleh Oliver, kalian seratus persen salah. Sekarang, setelah gelembung yang melingkupi kami tadi terpecah dan kami kembali oada kenyataan, semuanya menjadi terasa sedikit canggung. Gue tidak tahu dari mana harus memulai percakapan.


Sepertinya Olavia juga merasakan hal itu, dinilai dari kepalanya yang tertunduk.


Fxck. Apa yang harus gue lakukan?


Namun, gue tidak harus berpikir leilama lagi karena Olavia menyelesaikan persoalan itu untuk kami berdua. "Hm, jadi ini beneran rumah kamu?"


Gue benar-benar tidak menyangka kalau Oliver akan membawa Olavia dan Oleander ke rumah ini. Gue betul-betul tidak tahu kalau inilah yang dimaksudkannya di telepon tadi. Meski hal ini otomatis merusak rencana kejutan yang susah gue persiapkan, akan tetapi pada titik ini gue tidak mau ambil pusing. Semuanya sudah terlanjur rusak, by the way. So, yeah.


Sudah terlanjur basah, ya, sudah. Mandi sekali.


Gue tidak tahu apakah pepatah sekaligus lirik lagu lawas itu cocok dengan keadaan yang gue alami sekarang, akan tetapi gue sudah bilang kalau gue tidak peduli. Gue juga tidak peduli jika ada yang bilang kalau gue suka asal ngomong. Ada baiknya juga jadi orang yang tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain selain orang-orang terdekat. Hidup gue jadi tidak terlalu ribet. Gue bisa menikmati hidup gue sendiri tanpa menyesuaikannya dengan standar kehidupan orang lain.


What the heck? Gue barusan ngomong apa, sih?


Skip that. Just ignore my shxt.


Kembali lagi ke here and now and her.

__ADS_1


Olavia terlihat masih menunggu jawaban dari gue. Entah kenapa sepertinya dia masih belum percaya kalau rumah ini adalah rumah milik gue. "Iya. Ini rumah aku." Gue akhirnya memberikan apa yang dia mohon melalui tatapan matanya. "Do you want to have a tour around the house? It is yours, anyway."


Bersambung ....


__ADS_2