Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
36. Thank you, God


__ADS_3

Olavia


Aku masih menunggu jawaban dari Angga. Apakah ini benar-benar rumah miliknya?


Aku berpikir begitu bukan karena Angga tidak mungkin bisa memiliki rumah sebagus dan sebesar ini (dia bisa dengan mudah membeli dua atau tiga buah rumah semacam ini jika dia mau), akan tetapi rasanya masih seperti mimpi saja. Saat berjalan masuk tadi, aku sibuk melihat ke kanan dan ke kiri, menilik sekeliling (setidaknya bagian rumah yang aku lewati) dan sejauh ini tidak ada satu bagian pun yang tidak aku suka. Semua yang aku lihat sesuai dengan standarku, keinginanku, dan seleraku. Semua yang aku lihat sangat, sangat, sangat membuatku senang.


Jadi, aku bertanya apakah rumah ini benar-benar rumah miliknya kepada Angga karena aku akan merasa terlalu kecewa jika jawaban sebenarnya tidak sesuai dengan harapanku.


Aku benar-benar menginginkan rumah ini menjadi rumah Angga agar aku tidak perlu repot-repot mencari pemilik aslinya dan membujuk mereka untuk menjual rumah ini padaku. Aku tidak perlu repot-repot lagi untuk mengurus kredit di bank hanya untuk mendapatkan rumah ini.


"Iya. Ini rumah aku." Saat Angga mengatakan hal itu, aku tidak dapat menggambarkan betapa bahagianya rasa yang ada di dalam dada. Terlebih-lebih ketika dia melanjutkan pengakuannya dengan, "Do you want to have a tour around the house? It is yours, anyway."


Apa?


Apa yang baru saja dia katakan?


Dia hanya mengajakku untuk berkeliling rumahnya, kan? Dia tidak mengatakan kalau rumah ini adalah rumahku, kan?


"Ma-maksud k-kamu?" Aku tidak dapat mengontrol getaran yang berasal dari dalam dadaku setelah mendengar apa yang Angga ungkapkan. Dia dengan santainya mengatakan bahwa rumah ini adalah rumahnya dan RUMAHKU.


Rumahku.


Angga yang tadinya terlihat agak canggung kini kembali menghapus jarak di antara kami. Dia dengan ringan mengambil langkah ke arahku. Telapak-telapaknya tahu-tahu sudah menangkup kedua sisi wajahku saat dia sudah berada di depanku, literally di depan tubuhku.


"Surprise," bisiknya. "Selamat datang di rumah yang akan aku jadikan hadiah pernikahan kita untuk kamu, Sayang."


What?


****

__ADS_1


Angga


Entah kenapa gue merasa bahagia ketika melihat mata Olavia membesar setelah gue mengatakan apa yang gue katakan tadi. Entah kenapa rasanya hati gue puas melihat ekspresi terkejut yang ada si wajah cantiknya. Mungkin karena, disamping ini bukan malam pertama kami sebagai suami dan istri serta gue masih tidak bisa memastikan apakah kami benar-benar akan menikah nanti, tujuan gue sudah tercapai.


Dari awal gue ingin menjadikan rumah ini sebagai kejutan, dan pada akhirnya niat gue terlaksana.


Dia betul-betul terkejut.


"Maksud kamu apa, Ngga?" Suara lembut Olavia kini terdengar tak sabaran. Dia ingin gue segera memberikan penjelasan.


Sebenarnya gue sendiri berpikir, alasan apa lagi? Kalimat yang gue katakan tadi rasanya sudah cukup jelas. Ini adalah rumah yang rencananya akan gue jadikan sebagai hadiah pernikahan kami untuk dia. Gue tidak melihat di mana letak rancunya kalimat gue. But, as a man who pretty much a sucker for his woman, gue tetap memberikan dia penjelasan.


Whatever she wants, she gets. Right?


Lagi pula, gue rasa rasa resahlah yang menyebabkan hal itu terjadi. Rasa gelisahlah yang membuat dia merasa harus diyakinkan lagi.


Gue tatap mata cokelat gelap Olavia dengan teduh, dengan penuh rasa cinta yang memang gue rasakan untuk dia di dalam hati gue. Gue amati kedua bola matanya secara bergantian, dengan maksud memberikan perhatian kepada setiap manik-manik itu dengan adil. Gue lakukan hal tersebut untuk beberapa waktu. Dikombinasikan dengan elusan tangan gue, gue bisa melihat melalui mata Olavia dan merasakan melalui tubuhnya yang mulai mengendur bahwa wanita gue itu kini lebih rileks, lebih nyaman. Dia sudah mulai bisa menerima penjelasan gue dengan lebih baik.


Lalu gue tersenyum tipis karena sesuatu yang berlebihan gue yakin hanya akan memundurkan pencapaian yang sudah gue buat. "Aku beli lahan di sini buat kamu. Aku bangun rumah ini dengan kamu di dalam kepala aku. Aku sengaja membuat semuanya sesuai dengan selera kamu karena memang kamulah alasan adanya rumah ini. Aku serius, Sayang. Rumah ini adalah rumah untuk kamu."


"Benarkah?" Dia bertanya dengan suara yang sebagian besar adalah udara.


"Iya, Sayang." Gue mengecup puncak hidungnya sambil lalu. "Tapi, aku berharap banget kamu bolehin aku tinggal bareng kamu di sini, sih." Di kemudian gue mencoba untuk lebih mencairkan suasana dengan bercanda.


Bercandaan yang sebetulnya bukan candaan sama sekali.


Wanita gue pun terkikik.


Nah, itu dia yang gue tunggu-tunggu.

__ADS_1


Olavia menatap gue lurus-lurus lagi setelah kikihnya redam. "Maafin aku karena udah nyakitin kamu."


Gue mendesah. Bukan hanya karena gue tidak mau mendengarkan kata-kata yang baru saja dia ucapkan, akan tetapi juga karena hal tersebut mengingatkan gue kembali akan kebodohan yang sudah gue lakukan. "No, Sayang. It's okay. Kamu gak salah. Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu."


Dia ikut-ikutan menghela napas panjang. "No, we both did something wrong."


"You just didn't think straight. But I was the one who acted so out of line." Gue menyahut, pantang kalah dalam menyalahkan diri sendiri.


Kali ini Olavia benar-benar mengembuskan napas panjang sampai-sampai bahunya juga serta-merta turun bersama udara yang ke luar dari hidungnya. "Yeah, you did." Dia menyetujui pernyataan gue. "Besides, I guess I was just surprised. And not in a good way."


"Aku minta maaf karena aku udah bikin kamu kaget dan marah kayak kemarin."


Olavia seketika menggelengkan kepala dengan rambut yang sedang tergerai itu. "Enggak apa-apa, Ngga. Tanpa disadari, akibat dari perbuatan kamu malah membuat aku menghadapi apa yang seharusnya sudah aku urus dari dulu."


"Yeah?" Gue bergumam.


"Hm-mm." Olavia mendesah lagi lalu memeluk gue. Entah kenapa kali ini rasanya lebih erat dari pelukannya yang tadi. "I love you, Anggarasyah Emilio Addams." Dia di kalakian melepaskan pagutannya dan mengangkat wajah untuk melihat langsung ke mata gue. "Dan aku benar-benar pengen nikah sama kamu. Tapi, bukan hanya karena rumahnya, ya." Dia menowel hidung gue dengan ujung jari telunjuknya.


Gue tergelak. Tiga hwri tanpa sikap playful dari wanita yang paling gue cintai di dunia ini benar-benar terasa jauh lebih buruk dari neraka. "Aku tetap akan nikahin kamu meski aku tahu kamu mau nikah sama aku cuma karena rumah ini aja."


Sebuah tepukan lembut mendarat di atas dada gue. Olavia mengirimkan tatapan dari sudut matanya yang tajam ke arah gue. "Ya, enggak lah!" Dia sekonyong-konyongnya membantah dengan semangat. "Aku emang cinta banget sama kamu makanya aku mau nikahin kamu. Tapi ...." Olavia berhenti sejenak untuk mendapatkan efek dramatis dari kata-kata yang akan dia katakan. "Bonusnya boleh juga, sih." Kakahan ke luar dari bibirnya lagi.


Gue hanya memandangi dia dengan yang gue yakin apa yang orang-orang bilang hearts in my eyes. Gue pandangi dia puas-puas karena bersyukur gue bisa berada di sini, di dalam pelukan dia lagi, setelah hari-hari yang penuh dengan penderitaan kemarin. Setelah gue yakin kalau dia tidak mau berurusan lagi dengan gue. Fxck. Gue tiba-tiba saja merasa all too mushy-mushy di dalam hati gue ini. "I love you too, Olavia Marie Arifin."


Dan terima kasih banyak kepada Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang karena Olavia juga menatap gue dengan cara yang sama. Hearts in her eyes. Tidak hanya itu, matanya juga tampak berkaca-kaca.


Thank you, God. Thank You.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2