
Owen
Damn. That was absolutely a way to remind me of my place. Kalau sebelumnya gue masih mengira-ngira soal keluarga si Cantik, eh, Olavia ini, gue tidak perlu mengira-ngira lagi setelah mendapatkan peringatan yang halus dari dia barusan.
Skandal kecil tidak akan menyakiti keluarga mereka, akan tetapi berbeda dengan nasib gue yang jelas tidak akan selamat ketika ditimpa sebuah skandal lagi setelah semua yang ada.
Oh, fxck. Pantas saja sikap si Buldoser—hm, si ... si ... namanya juga berawalan dengan huruf O kalau gue tidak salah. O ... O ... Ola, Oli ... Oliver. Ha, iya. Oliver! Si Oliver—seperti itu terhadap gue ketika dia menjemput gue tadi. Entah apa yang my drunk xss lakukan kemarin sehingga membuat gue pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti itu. Yaa, selain sudah meninggalkan adiknya tentu saja. Sial, sial, sial. Nanti gue harus mengecek ponsel gue segera setelah pertemuan ini selesai.
Fxcking hell, Owen. Hari keempat kabur dari Bram dan lo sudah mengacau banyak kayaknya.
Gue tiba-tiba jadi rindu sama Bram. Gue tiba-tiba jadi rindu sama omelan dia. Kecerewetannya saat mengingatkan gue untuk bersikap sopan dan menjaga mulut gue terhadap siapa pun karena kita tidak akan tahu dari mana datangnya masalah dan perkara. Apalagi sebagai publik figur, sangat mudah sekali mengundang caci maki hanya dengan salah bicara.
God bless his patience yang selama ini sudah mengurusi bokong berlumuran masalah milik gue.
__ADS_1
"Baiklah. Gue minta maaf."
****
Olavia
It is good to know that someone so full of himself like this man who is sitting in front of me right now can be put on his place with a little reminder of who he is facing. Aku sangat jarang sekali melakukan apa yang baru saja aku lakukan pada Owen. Menjual nama keluarga kami dan mengintimidasi seseorang menggunakan kekuatan yang dimiliki oleh nama tersebut. I am sure I sounded like a ***** just now but he needs those pressure. Or he will keep running his mouth and I don't have any other options except to lease the dogs a k a my brother and my fiance to hunt his sorry xss down.
Aku yakin Owen tidak akan memiliki kesempatan untuk menang melawan seorang Arifin dan seorang Addams sekaligus. Better be safe than sorry, right?
Owen kini sudah mengubah posisi duduknya. Dari cara duduknya yang terlihat seperti seorang bxrengsek yang tidak peduli dengan apa pun, menjadi all about business. Badannya tegak dan agak dicondongkan ke depan karena lengannya diletakkan di atas meja. Wajahnya serius, siap untuk memberikan aku dan apa yang aku ungkapkan perhatian penuh darinya. Matanya sudah tidak berkeliaran lagi ke mana-mana, sekarang hanya terfokus padaku.
Good. Good.
__ADS_1
"Okay. Gue siap untuk mendengarkan," sahutnya.
And it's good to hear that he no longer used the aku and kamu thing. It made me cringe. Aku benar-benar tidak ingin menggunakan kata ganti itu dengan orang-orang selain Angga dan keluargaku lagi.
Jadilah, kalimat demi kalimat meluncur dari lidahku dengan mulus. Aku rasa mendapatkan some respect dari Owen membantuku untuk mengambil alih situasi. Aku merasa tidak takut lagi setelah gaining the upper hand on him.
"Gue tahu kalau gue hamil beberapa minggu setelah lo pergi. Gue ke dokter dan dokter mengkonfirmasi apa yang sudah ditampilkan oleh hasil tes kehamilan. Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam bagi gue untuk memutuskan kalau lo juga berhak untuk mengetahui hal ini. Meski lo udah mencampakkan gue, meski lo udah meninggalkan gue setelah merasa gue tidak berguna lagi buat lo, gue masih mempertimbangkan perasaan lo. Gue mengasumsikan bahwa mungki ada satu sudut di dalam diri lo yang ingin tahu jika hal ini pernah terjadi dan mungkin akan sedikit merasa bahagia kalau lo dengar berita ini.
"Jujur aja, waktu itu gue sempat berpikir dan berharap kalau adanya anak ini akan membuat kita kembali bersama lagi. Kalau kehadiran anak ini adalah hal yang kita perlukan untuk bersatu. Karena, percaya atau enggak, gue yang dulu benar-benar ingin bareng-bareng sama lo. So, gue coba hubungi nomor lama lo dan berhasil. Panggilan gue tersambung. Gue senang sekaligus deg-degan banget. Senang karena lo memegang ucapan lo dengan tidak mengganti nomor ponsel. Deg-degan karena gue akan kasih kabar yang menurut gue mengejutkan namun sangat membahagiakan ke elo. Gue akan berbagi kebahagiaan yang gue rasakan sama elo.
"Namun, sambungan pertama berubah menjadi yang kedua, yang ketiga, dan yang seterusnya. Ternyata panggilan gue yang terhubung cuma sampai di situ. Gue cuma bisa mendengar suara operator karena panggilan gue yang terhubung tidak pernah lo angkat. Shxt, Owen. Gue yang bodoh masih bisa berpikiran positif. Gue yang bodoh masih bisa mencari-cari alasan. Ah, mungkin Owen lagi sibuk jadi dia gak bisa angkat telepon. Iya, iya. Pasti gitu. Makanya dia gak bisa angkat telepon aku sekarang. Ah, iya. Iya, iya. Dia pasti sibuk banget karena sekarang namanya lagi mendaki tangga kepopuleran. Dulu aja waktu dia bikin demo, sibuknya minta ampun. Apalagi sekarang setelah jadi artis beneran? Ah, iya. Dia pasti sibuk banget karena dia akhirnya mendapatkan apayang selama ini dia impikan.
"Karena sikap positif dan kebodohan gue itulah makanya gue mengambil keputusan untuk mengirimkan elo sebuah pesan. Karena gue pikir, saat lo tidak bisa mengangkat telepon gue, locpasti bisa langsung membaca pesan gue di saat lo akhirnya punya waktu untuk pegang ponsel. So, there goes my message or messages, for that matter. Gue kirim pesan yang panjang dan banyak, gue juga kirim jepretan hasil USG pertama yang gue punya, berharap setelahnya lo akan mengetuk pintu apartemen gue dan bilang kalau we can do this together.
__ADS_1
"Memang, memang ada yang mengetuk pintu apartemen gue beberapa hari kemudian, akan tetapi itu bukan elo yang masih sangat gue harapkan. Bukan. Yang mengetuk pintu gue adalah berkas-berkas yang bersampul cokelat dengan label perusahaan rekaman lo. Dengan tangan yang bergetar dan hati yang, shxt, masih excited karena ini label rekaman lo, lho, perusahaan yang mengurusi elo. Pasti elo yang mengirim berkas-berkas ini, kan? Setidaknya kalau elo gak bisa datang, lo bisa kirim surat or whatever? Gue akui jika gue ingat pikiran itu lagi sekarang, atau beberapa waktu kemudian setelah gue tahu apa yang ada di dalam amplop itu, gue merasa konyol. Gue merasa terlalu bodoh dan malu. Gue berpikir kenapa gue bisa sebodoh itu dulunya?"
Bersambung ....