Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
32. Waktu


__ADS_3

Angga


Day three with no sleep. It feels like I'm losing my mind.


No, it doesn't feel like so. I know so.


I'm losing my fxcking mind.


Karena hari ini juga merupakan hari ketiga gue bertahan tanpa wanita yang paling gue cintai dan anak gue. Karena ini adalah hari ketiga setelah Olavia mengirimkan pesan yang mengakhiri hidup gue.


Olavia : I need to focus on this thing with Owen. So I think it's best for everyone if we hold our wedding on pause. I hope you understand.


Olavia : thank you so much


Olavia : and I'm terribly sorry


Olavia : please forgive me


Olavia : we love you


Olavia : in case you miss us too, do feel free to come by and say hi.


Olavia : I love you

__ADS_1


Pesan-pesan yang gue biarkan tidak berbalas karena gue harus balas pesan itu bagaimana? Bagaimana caranya mengungkapkan apa yang gue rasakan sekarang ini? Gue saja kadang tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi di dalam diri gue sendiri.


Ya, gue marah. Gue marah sama diri gue yang sudah lancang mengurus sesuatu sendiri padahal seharusnya gue harus membicarakan hal tersebut dengan Olavia. Tidak hanya sebagai calon istri gue, dia adalah ibu kandung dari anak yang akan gue angkat.


Gue juga marah karena bisa-bisanya Olavia mengambil keputusan soal pernikahan kami secara sepihak. Dia bahkan tidak mendiskusikannya twrlwbih dahulu dengan gue. Bisa-bisanya dia memberi tahu gue kalau dia ingin menunda pernikahan kami hanya lewat sebuah pesan!


Apakah gue sebegitu tidak berharganya buat dia? Apakah gue tidak pantas untuk mendapatkan informasi ini secara langsung? Begitu tidak inginnyakah dia bertemu dengan gue sekarang setelah Owen hadir di sini?


Ya, gue kecewa. Kenapa Olavia tidak pernah memberi tahu kepada gue soal ketidaktahuan Owen soal keberadaan anaknya? Kenapa dia masih merasa perlu menyimpan ini semua dari gue, calon suaminya? Kalau gue tahu soal ini dari lama, tentu semua ini tidak akan terjadi. Kan? Iya, kan?


Ya, gue kesal. Gue kesal pada diri gue sendiri (lagi) karena sudah menyalahkan Olavia atas keputusan yang dia buat. Memangnya gue siapa, ha? Menurut gue, gue ini siapa? Apa gue pikir gue punya hak untuk mengatur apa saja yang patut dan tidak patut dilakukan oleh wanita itu? Walaupun gue sudah menjadi suaminya nanti, gue tetap tidak punya hak untuk mengintervensi proses pengambilan keputusannya terhadap urusan Oleander. Because Ole, first and foremost, is her biological son. Dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk anaknya.


Ya, gue sedih karena gue merasa gue tidak mempunyai hak lagi untuk bertemu dengan Ole disebabkan oleh kehadiran Owen, yang notabenenya adalah ayah kandung dari bocah yang paling gue sayangi itu. Gue merasa hubungan yang gue bangun selama ini dengan Ole terlalu palsu jika dibandingkan dengan koneksi yang mereka punya. Mereka berbagi darah yang sama, DNA yang sama. Mereka pasti mempunyai sesuatu ikatan yang istimewa.


Ya, gue merasa putus asa. Karena bagaimana tidak? Kalau mereka melewati hari bersama-sama dan Ole membangun kedekatan yang luar biasa dengan ayahnya, dia pasti akan melupakan gue. Dia pasti tidak akan ingat dengan gue lagi.


Dan, gue bahagia untuk Oleander karena dia akhirnya bisa bertemu dengan sebagian dirinya yang dari dulu tidak pernah muncul. Pada akhirnya dia bisa bertemu dan merasakan kehadiran ayah kandungnya. Pada akhirnya mereka mempunyai satu hubungan yang menjadi haknya sedari dahulu. Setelah tiga tahun, akhirnya mereka bisa saling melengkapi.


Sialan. Air mata gue tidak mau berhenti mengalir. Kenapa gue jadi cengeng begini, sih?


Jika ada orang yang melihat gue dalam keadaan seperti ini dan mengumumkannya pada dunia, gue akan menolak kebenaran itu mati-matian. Tidak ada yang boleh tahu kalau gue sedang hancur. Tidak ada yang boleh menjadi saksi dari kematian harapan gue.


Gue harap gue bisa menenggak sebanyak-banyaknya minuman keras yang ada di dunia, akan tetapi gue sudah tahu kalau itu semua akan percuma. Setelah telernya habis, gue tetap harus mengurusi patah hati gue ditambah dengan hangover yang parah.

__ADS_1


Gue tidak bisa mabuk lagi. Gue sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah mengadu kepada alkohol lagi.


Setidaknya gue bisa memegang janji gue pada diri gue sendiri sekarang. Karena tidak ada lagi hal yang bisa gue lakukan selain itu. Karena di dalam pikiran gue, tidak ada lagi yang bisa gue kerjakan setelah pernikahan yang gue tunggu-tunggu terancam batal setelah di depan mata.


Sudah tiga hari gue hanya merebahkan diri di sofa ini. Sofa di tengah rumah yang gue buatkan khusus untuk Olavia. Namun, sekarang, mungkin Olavia tidak akan pernah melihatnya.


Kalian pasti berpikir kalau gue terlalu pesimis. Kalau gue terlalu cengeng, terlalu cemen. Terlalu pengecut untuk bertanya dan bertemu langsung dengan Olavia. Kalian pasti berpikir kalau gue sebenarnya tidak mempunyai niat untuk mempertahankan hubungan gue dengan Olavia.


Kalian mungkin benar, untuk beberapa opini di atas, akan tetapi bisa gue pastikan kalau anggapan kalian terakhir merupakan sebuah kesalahan besar.


Gue bukannya tidak berniat untuk memperjuangkan, untuk mempertahankan hubungan kami, akan tetapi gue rasa saat ini Olavia memang butuh waktu untuk fokus terhadap masalah ini tanpa ada campur tangan dari gue. Tanpa kehadiran dan gangguan dari gue. Kalau gue masih muncul di dekat dia, mungkin saja dia tidak akan bisa memusatkan perhatian kepada apa yang seharusnya dia kerjakan karena merasa bersalah ke gue.


Entahlah. Entah apa yang gue katakan benar atau tidak tepat sama sekali, yang jelas gue hanya ingin memberikan apa yang dia katakan dia butuhkan. Meskipun gue sebenarnya tidak menginginkan hal yang sama sama sekali.


Namun, apa boleh buat? Kalau Olavia menginginkan waktu, sesuai janji gue, gue akan memberikan dia apa yang dia inginkan.


Waktu.


Waktu.


Waktu.


Tidak tahu sampai kapan, akan tetapi gue akan tetap menunggu.

__ADS_1


Waktu.


Bersambung ....


__ADS_2