Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
37. Kamulah Satu-Satunya


__ADS_3

Olavia


"Yuk, ah. Keliling-keliling dulu." Angga menggandeng tanganku dan melangkah duluan.


Satu per satu dia memperlihatkan ruangan-ruangan yang ada di rumah ini. Dan tidak ada satu pun yang tidak aku suka. Dari konsep open floor yang menyatukan ruang tengah, ruang makan, dan dapur; floor to ceiling windows yang terdapat di bagian-bagian rumah yang menghadap ke halaman belakang, bahkan bagian belakang rumah, baik di lantai satu maupun dua hampir semuanya terbuat dari kaca. Rumah ini betul-betul terasa sangat lapang dan terbuka, apalagi ditambah dengan gaya interiornya yang moderen dan minimalis. Aku bisa merasakan sentuhanku di setiap sudut padahal tak sedikit pun aku ikut dalam pengerjaan.


Angga benar-benar membangun rumah ini dengan aku di dalam pikirannya.


"Kapan rumahnya kamu bangun?" Kuutarakan apa yang ada di dalam kepala langsung pada Angga. Saat ini kami sedang berjalan di koridor setelah selesai melihat-lihat ruangan yang ada di lantai dua.


"Hm." Angga bergumam. "Kalau gak salah sekitar delapan tahunan yang lalu lah."


"What?" Langkahku seketika terhenti. Jawaban yang diberikan oleh Angga benar-benar di luar dugaanku. "Delapan tahun yang lalu?"


Dia mengangguk.


Apa? Delapan tahun yang lalu? Di mana aku dan dia delapan tahun yang lalu? "Kamu serius, Ngga? Udah selama itu? Kita bahkan gak punya komunikasi apa-apa delapan tahun yang lalu."


"Yeah," jawabnya dengan muram. "Karena kesalahan aku juga, kan."


Aku menggeleng, tidak terima kalau dia masih saja merasa bersalah soal kejadian yang sudah terlalu lama itu. "Aku gak mau bahas yang lama-lama lagi. Udah lewat jauh banget. Kita juga udah move on dan bareng-bareng. Sekarang yang mau aku bahas adalah delapan tahun yang lalu. Kenapa kamu tetap membangun rumah ini dengan aku di dalam pikiran kamu sedangkan kita gak punya kontak sama sekali? Apa yang membuat kamu melakukan itu!"


Ingin tahu. Aku sungguh-sungguh ingin tahu apa jawaban dari Angga.


Kami kini masih berdiri berhadapan. Berhentinya langkahku tadi juga menyebabkan terhentinya langkah calon suamiku itu.


"Entahlah, Yang." Angga mengedikkan bahu. "Aku gak tahu mana yang lebih besar waktu itu, akan tetapi aku tahu semua yang aku rasakan di dalam dada ini hanya untuk kamu dan karena kamu. Rasa cinta, rasa sayang, rasa rindu. Rasa bersalah, rasa kecewa, marah, sedih. Semuanya ada dan serba kamu. Makanya aku bilang kalau aku bangun rumah ini dengan kamu di dalam kepala aku, dan hati aku juga. Aku ingat banget waktu itu kita pernah ngobrol dan kamu bilang kalau kamu pengen punya rumah yang lokasnya ada di dekat rumah mama dan papa kamu. Kamu juga sampaikan ke aku gimana model rumah yang jadi impian kamu, gayanya, warnanya, semuanya. Jadi, ketika aku punya uang yang cukup, aku mulai cari properti di sekitar sini. Gak langsung dapat, sih. Ada mungkin kira-kira enam bulan sebelum pemilik lahan ini masukin propertinya ke listing. Saat agen properti aku ngasih tahu, aku langsung cek ke sini. Dan benar aja. Pas sampai, hati aku kayak langsung bilang; yes, ini yang gue cari.


"Setelah rumah ini selesai, aku mulai berharap kalau suatu saat kamu bisa melihatnya. Kalaupun kamu gak mau sama aku atau gak menyukai rumah ini, siapa tahu, kan, selera kamu berubah, aku pengen kamu tahu kalau rumah ini ada. Dari sekian banyak janji yang gak aku tepati, setidaknya ada satu hal yang bisa aku wujudkan. Itu yang membuat aku merasa selalu dekat dengan kamu ketika ada di dalam sini. Itulah alasannya kenapa kalau aku sedang merasa capek dengan urusan kerjaan, merasa bosan dengan kemonoan hidup aku, atau aku merasa sangat, sangat, sangat rindu sama kamu, aku selalu datang ke sini. Kadang gak sampai bermalam-malam, cuma beberapa jam aja, dan setelahnya aku bisa merasa ... hm, apa, ya, istilah yang tei? Hm. Recharged. Ya, recharged. Aku merasa baterai aku sudah terisi lagi dan aku siap untuk menghadapi dunia lagi." Angga mengakhiri ceritanya dengan mengecup keningku lama.

__ADS_1


Apa yang baru saja aku dengar benar-benar meledakkan pikiran. Dia sudah membangun rumah ini selama itu. Dia tentu sudah merawatnya juga dengan selama itu. Tidak mungkin kondisinya akan sebagus dan seterawat ini kalau setelah dibangun, Angga hanya membiarkannya. Apalagi jika yang dia bilang adalah benar, kalau dia sering berkunjung ke sini untuk me-recharge energi. "Kamu bilang kamu sering ke sini. Lalu, siapa yang merawat rumah ini?"


"Ada. Sepasang suami dan istri yang tinggal gak jauh dari sini. Si Bapak tugasnya mengurusi taman dan si Bibi bantu membereskan rumah. Mereka juga bantu aku grocery shopping kalau aku mau nginap lama." Angga menjelaskan lagi.


"Kapan emangnya kamu nginap lama? Apa alasannya?" Aku membiarkan rasa ingin tahu gets the best of me.


Lelaki di hadapanku itu tersenyum lagi. Senyum yang tidak akan pernah membosankan meski harus kulihat jutaan bahkan miliaran kali. Dia kembali mengelus wajahku, kali ini sepanjang garis rahangku. "Kamu beneran mau tahu? Mau tahu aja apa mau tahu banget?" godanya.


"Ngga." Aku merengek.


Laki-laki itu bisa-bisanya tertawa. "Kamu lucu banget kalau ngambek gitu, Yang."


Aku meliriknya dengan tajam. Otak yang hobi overthinking ini seketika saja berputar. Kenapa dia tidak mau menjawab pertanyaanku dengan segera? Apakah ada yang dia sembunyikan? Apa hal yang sudah dia lakukan dan tidak ingin diketahui olehku? Jangan-jangan .... Hatiku mencelus. Hal itu pasti ada kaitannya dengan urusan pribadinya. Hal itu pasti ada kaitannya dengan wanita-wanita yang ada di dalam hidup Angga sebelum aku. Tidak mungkin dia tidak memiliki teman wanita. I mean, look at him!


Oh, oke lah kalau begitu.


Aku membalas senyumnya sekilas sebelum memutar badan dan bermaksud melanjutkan langkah. Sudahlah. Aku tidak ingin lagi mengetahui jawaban dari pertanyaanku itu.


Kucoba untuk menepis pegangan tangannya di lenganku, akan tetapi tidak bisa. Aku juga tidak terlalu berniat untuk melepaskan kontak yang kami punya itu. "Gak ada. Aku cuma mau turun aja." Aku berkilah.


"No," tolak Angga kontan. "Don't do that. Don't lie to me. Aku tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu. Aku tahu ada sesuatu yang mengganjal. Apa, Sayang? Bilang aja sama aku. Aku gak tahu apa yang salah kalau kamu gak bilang sama aku."


Kuembuskan napas panjang. Aku jadi teringat dengan apa yang dikatakan oleh Bang Oli tadi. Mereka bukan pembaca pikiran. Benar juga. "Aku ... aku gak mau tahu jawaban dari pertanyaan aku tadi. Aku gak punya hak untuk tahu apa urusan pribadi kamu sebelum sama aku. Kamu juga pasti punya kehidupan sendiri, kan. So." Aku mengangkat sebelah bahuku.


Emosiku tersulut saat mendengar Angga tergelak di balik punggung. Langsung saja kusentakkan tangan yang masih melingkari lenganku itu. "Let me go!"


Angga lagi-lagi tergelak dan malah balas balik menarikku.


Aku langsung masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Dengan kedua lengannya melilit tubuhku erat, usaha untukku melepaskan kungkungan jelas terbuang sia-sia. Yang ada aku terlihat seperti seekor ulat yang tengah menggeliat-geliat tidak jelas.


"Hey, Sayang. Stop," pinta Angga dengan ekspresi yang terlihat tidak nyaman. "Kalau kamu kayak gitu lebih lama lagi, aku gak janji apa yang akan terjadi."


Aku masih saja bersikeras dan tidak mau menyerah.


"Yang, please. Kalau kamu gak berhenti, aku gak tahu apa yang–"


Akhirnya aku mengetahui apa yang Angga maksud. Atau lebih tepatnya "merasakan" apa yang katakan.


"Oops!" Sekonyong-konyongnya aku terkekeh. "Sorry."


Dia hanya tergelak dan menggeleng-geleng. Angga menghirup napas dalam-dalam. "Tunggu. Kasih aku waktu sebentar." Dilepaskannya pelukan, kemudian dia berdeham, baru setelah itu kembali memagut tubuhku. "Oke," katanya.


Aku hanya diam dan menunggu sambil berusaha mengontrol sipu yang menjalari pipi. Aku tidak menyangka sikap keras kepalaku bisa menyebabkan efek seperti tadi.


"Apa tadi pertanyaannya? Kamu mau tahu kapan aku menginap di rumah ini dalam jangka waktu yang cukup lama?" Dia mengangguk. "Hm. Pertama kalinya aku nginap di sini lebih dari seminggu adalah ketika kamu kembali dari rumah sakit setelah opname pada awal kehamilan kamu."


What?


"Abis itu aku bisa dibilang pindah ke sini setelah Ole lahir."


What? "Jadi kamu ...."


"Yeah." Angga tergelak lagi. Disisipkannya poniku yang menutup mata ke belakang telinga.


Saat aku berpikir dia repot-repot pergi dan pulang dari Jakarta ke Bogor setiap hari dan membuang-buang uang untuk menginap di hotel, ternyata dia ....


Aku tidak tahu harus merasa kesal atau malah bahagia. Aku rasa aku akan memilih untuk bahagia karena apa pun itu, dia rela melakukan semuanya untukku.

__ADS_1


"Jadi, kamu gak usah menyusahkan diri sendiri dengan berpikiran yang aneh-aneh. Aku gak punya wanita selain kamu, sesudah kamu atau sebelum kamu. Ingat, ya. Sesudah kamu dan sebelum kamu. Karena kamulah wanita satu-satunya buat aku."


Bersambung ....


__ADS_2