
Angga
Shxt. Gue tidak bisa berkata apa-apa lagi. Setelah mendengarkan semua harapan yang dia percayakan ke gue, gue tidak bisa berkata tidak. Gue tidak bisa mengedepankan ego gue yang sebenarnya ingin maju paling depan untuk menghadang si Bxjingan Bxrengsek Sialan itu. Yang sebenarnya ingin memburu bokong kurusnya dan menghabisi dia saat ini juga. Gue tidak bisa. Gue tidak bisa.
Gue lunya tanggung jawab di sini. Olavia telah mempercayakan Oleander kepada gue. Dan ... dan caranya ketika dia tadi merujuk Oleander sebagai anak kita.
Shxxxt. Those words had instantly got me and tied me up within seconds after I heard it left her mouth.
"Nanti kalau aku sibuk mengurus ini dan itu, aku minta kamu buat jagain anak kita." Jagain anak kita. Anak kita. Anak kita.
Tidak ada kata lain yang pantas dijadikan jawaban selain, "Okay. Aku akan jagain Ole. Aku akan jaga anak kita dengan segenap jiwa dan raga aku seperti aku menjaga kamu. Aku pastikan itu."
Gue tahu Olavia bukannya akan pergi berperang ke Afghanistan atau ingin melakukan sesuatu yang ekstrem dan mengancam nyawanya. Gue tahu dia tidak sedang menantang maut. Gue tahu dia tidak akan pergi jauh dari kami. Namun, situasi ini tidak kalah seriusnya bagi gue karena apa pun keputusan yang diambil terkait permasalahan ini tentu akan berdampak langsung kepada Oleander. Dan kami tidak mau jika anak kami yang menanggung semua akibat dari keputusan orang tuanya.
"Thank you." Olavia mengecup bibir gue sambil lalu. "Thank you karena kamu udah mau ngertiin situasi aku. Thank you karena kamu udah mau menerima aku dan menganggap Oleander sebagai anak kamu sendiri. Aku jujur terharu banget saat kamu bilang kamu mau menjadikan dia sebagai anak kamu di mata hukum juga setelah apa yang kamu lakukan untuk dia selama ini. Apa pun yang terjadi di depan, kamu harus selalu ingat kalau kamu adalah papanya Oleander. Oke? Aku gak mau kamu lupa sama fakta itu barang sedetik saja. Janji?"
Fxck. Gue bisa merasakan air mata gue menggenang. Apa yang lebih membahagiakan daripada semua yang diucapkan Olavia? Gak ada. Gak ada yang lebih membahagiakan dari mendengar ibu kandung dari Oleander mengatakan bahwa gue adalah papanya Oleander.
__ADS_1
God damn it. I am not crying. I am not fxcking crying. What the **** are you talking about? I am not fxcking crying. It's just I have something in my eye!
****
Olavia
Rasanya sungguh merendahkan hati ketika melihat seorang cowok yang terlihat selalu serius dan cemberut di luar ternyata memiliki hati yang halus sehalus kapas di dalam dada bidangnya itu. Rasanya sungguh merendahkan hati ketika melihat orang seperti Angga yang biasanya bersikap rasional dan selalu mengandalkan logika dalam menjalani perannya sebagai seorang pengusaha sekali-kali menampakkan sisi kemanusiaannya di depan pasangan mereka. Sebagai pasangan dari sosok dengan tipikal yang keras di luar namun lembut di dalam ini, aku benar-benar sungguh dibuatnya merasa rendah hati ketika menyaksikan bulir-bulir air mata itu satu per satu jatuh dan mengalir di pipi calon suamiku itu. Kuseka pipinya yang basah dengan telapak tanganku.
"Shxt. Sayang. Sorry." Dia pun terburu-buru menghapus bukti luapan perasannya itu. "Aku gak nangis kok. Ini mataku cuma kelilipan aja."
Aku menunduk untuk menyurukkan senyum yang mengancam akan segera merekah. Bisa-bisanya dia memberikan alasan klasik seperti itu. Sudah dari zaman baheula orang-orang mengatakan kalimat yang baru saja diucapkannya hanya untuk menyelamatkan muka mereka. Nope. That's not going to work for me. I guess he has to up his game at some point.
Ah, ah, ah. Beruang kutub raksasa yang pemarah, kurang ajar, suka seenaknya, tapi mencintai sepenuh hati kepunyaan kami. Kupeluk beruang besarku itu lagi. Lebih erat. Lebih lama.
****
Angga
__ADS_1
Suara Oliver menyambut kami ketika gue dan Olavia menginjakkan kaki di lantai dasar tangga yang baru saja kami turuni. "Ah, ah, ah. Akhirnya datang juga. Gue kirain kalian tersesat di atas sana. Jadi penasaran gue. Sebenarnya seberapa besar, sih, rumah ini sampai-sampai butuh–" Dia menghentikan kalimat untuk mengecek jam tangan yang dipasang di pergelangan tangan kanannya demi mendapatkan efek dramatis, "Waktu hampir satu jam cuma buat keliling lantai dua doang?" Alis sahabat gue itu ikut-ikutan naik dan hampir menyatu dengan garis rambutnya yang masih saja rapi. Thanks to tons of hair products he applied.
Gue mengabaikan ejekan Oliver dan mengarahkan Olavia ke sofa yang terletak di tengah-tengah ruangan. "Kamu mau minum apa?"
"Yang dingin-dingin kayaknya enak, Ngga."
"Okay. Tunggu sini, ya." Gue segera berjalan ke arah lemari es yang terlihat saja dari tempat Olavia duduk untuk mengambil sebuah minuman dingin.
"Woy, Kunyuk! Jangan lupa ambilin minum buat gue juga sekalian," sorak Oliver dari pintu kamar tempat dia menyandarkan tubuhnya saat kami sampai di sini tadi.
"Bang!" Olavia segera saja menghardik abangnya itu, akan tetapi dengan suara yang lebih terkontrol. "Jangan teriak-teriak, dong, ah! Nanti Oleander kaget."
Gue tidak dapat mendengar tanggapan Oli atau melihat bagaimana ekspresinya. Gue tergelak dan menggeleng. Shxt. Di antara dua pria dewasa seperti gue dan Oli, tidak ada seorang pun yang berani membantah atau menantang apa yang dikatakan oleh wanita yang tingginya paling maksimal seratus enam puluh sentimeter dalam kondisi terbaik tersebut. Sekarang ditambah lagi dengan bocah mungil yang masih terlelap di dalam kamar tamu gue.
We're fxcked. I am whipped. And I wont have it any other way.
Setelah mengambil satu kaleng soda lemon yang sudah gue salin ke dalam sebuah gelas dan dua kaleng bir dari dalam kulkas, gue segera berbalik untuk memberikannya kepada wanita pujaan gue. Dia pasti sudah sangat haus sampai menginginkan minuman yang dingin. Langsung saja gue sodorkan gelas itu kepada Olavia yang menerimanya dengan terima kasih dan sebuah senyuman. Di kalakian gue memberikan sekaleng Bud Light pada Oliver yang tahu-tahu sudah bergabung bersama adiknya.
__ADS_1
Kami bertiga kemudian minum dalam hening, membuat teriakan yang terdengar tak lama setelah itu menjadi lebih memekakkan.
Bersambung ....