
Angga
Awalnya semua berjalan dengan cukup baik, menurut gue. Gue mengatakan itu berdasarkan apayang gue lihat di layar monitor. Calon istri gue dan si Bxjingan Bxrengsek duduk dan melalukan apa yang bisa gue kategorikan sebagai a civil conversation. Dari bahasa tubuhnya, Olavia tampak tenang, dapat mengendalikan diri, dan menguasai keadaan.
But I cannot say the same about that sorry excuse of human being, the piece of shxt. Pada saat permulaan percakapan, dia terlihat begitu santai, careless even, dinilai dari cara duduknya. Namun, entah apa yang dikatakan oleh Olavia setelah itu yang membuatnya untuk mengubah posisi menjadi lebih respectable. Apa pun itu, yang jelas, menjadi alasan gue untuk semakin mencintai calon istri gue ini dan bangga mempunyai wanita semengagumkan itu di dalam hidup gue.
Keep kicking his xss, Babe! Gue mencoba mengirimkan semangat melalui koneksi telepati. Ya, siapa tahu saja berhasil, kan?
Mata gue tidak pernah lepas dari layar berukuran delapan puluh inci yang tergantung di dinding seberang meja kerja gue. Gue tidak membiarkan sedetik pun berlalu tanpa gue mengetahui apa yang mereka lakukan. Gue tidak mau melewatkan barang sekejap pun dan kehilangan kesempatan untuk membaca gerak dan gerik mereka secara keseluruhan. Selain untuk mengawasi keadaan Olavia, membaca pikiran si Bxjingan Bxrengsek itu melalui bahasa tubuhnya tidak kalah penting. Siapa tahu gue mendapatkan sebuah tanda yang akan menjadi penentu keadaan nantinya. Kalauitu benar terjadi, gue bisa terlebih dahulu memperingatkan tim keamanan dan Oliver sebelum gue menyudahi bxjingan itu dengan tangan gue sendiri.
Di suatu saat, keadaan berubah. Olavia kini terlihat sangat, sangat, sangat geram. Dia terlihat memukul meja dengan kedua tangannya dan berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arah that pathetic xsshole yang tampak juga sama bersikerasnya dengan wanita pujaan gue.
What the fxck? What is happening?
Tanpa menunggu gue langsung menjangkau ponsel yang terletak di atas meja dan menghubungi Oliver.
__ADS_1
"Gue yakin lo lihat aksi barusan, huh?" katanya sebagai kalimat pembuka.
"Yeah, Bro. Apa, sih, yang sedang mereka bicarakan sampai-sampai Olavia ngamuk-ngamuk begitu?" Pandangan gue masih terkunci pada rekaman yang menunjukkan wanita gue.
Setelah Olavia menyuruhnya untuk menyingkir dan meninggalkan mereka berdua, dia segera memberi tahu perubahan rencana tersebut kepada gue. Meski dia mengatakan dia tidak akan bisa mendengar apa yang adiknya dan that lowlife scum bag itu perbincangkan, nyatanya tidak begitu. Oliver bisa menyimak semua yang mereka bicarakan dengan jelas dari tempat dia berdiri. Namun, gue rasa, untuk saat ini Olavia tidak perlu tahu dulu soal fakta ini.
Oliver tidak ingin lengah dan terkecoh, begitu juga dengan gue. Gue tidak ingin ada satu hal pun yang terlewat jika menyangkut wanita itu.
Oliver tergelak. Walaupun setengah berbisik, gueasih bisa mendengar gelak tertahan yang ke luar dari mulutnya dengan jernih. "Shxt, Man. Senang banget gue rasanya bisa jadi saksi kejadian bersejarah ini. Serius. Kalau lo ada di sini sekarang, lo pasti bangga banget sama calon istri lo. Eh, tapi gue rasa lo juga bakal pengen ngirim cowok sialan gak tahu diri ini langsung ke neraka. Pake paket kilat lagi."
"What the heck, Man? Gue benar-benar penasaran ini. Lo lagi ngomongin apa, sih? Ayo, dong, jelasin ke gue!" Gue tidak bisa untuk tidak mendesak sahabat kxmpret gue itu. Bisa-bisanya dia mempermainkan gue dengan berbicara seperti sebuah teka-teki silang baru. Isi kotaknya kosong semua!
Gue heran kenapa si Fxcker Oliver ini mampu tertawa dan berbisik secara bersamaan.
"Sialan lo. Oli!" Gue menghardik. Tidak seperti dia yang perlu menjaga suaranya agar tidak terdengar oleh dua orang yang kini sudah mulai bersikap biasa lagi—Olavia sudah duduk. Dia sedang berbicara dan kali ini Owen si Bxjingan Bxrengsek mendengarkan dengan saksama—gue tidak perlu mengawasi intonasi gue di dalam perlindungan ruang kantor gue yang berada jauh dari tempat kejadian perkara. Namun, meskipun begitu, kalau gue boleh meminta, gue lebih ingin berada di tempatnya Oliver daripada di sini. Di sana, gue bisa mengawasi Olavia secara langsung. Kalaupun ada apa-apa, akan tetapi gue sangat berharap tidak, gue bisa bergerak dengan cepat dan dalam sekejap bisa berada di samping wanita gue itu.
__ADS_1
Tawa calon kakak ipar gue itu mulai mereda. "Calm your tatas, Lover Boy. You are acting like your xsses are on fire."
Si Sialan yang satu ini masih saja mau mengolok-olok rasa ingin tahu gue. "Cut that shxt up, bro! Gue gak main-main, ya. Serius. Apa yang barusan mereka omongin yang bikin emosinya Olavia meroket kayak tadi, ha?"
Oliver akhirnya terdiam sebelum kembali berbicara. Kini suaranya terdengar lebih rendah dan serius. Dia seperti sedang berbicara di bawah napasnya. "Si Kxmpret Songong nan Tolol itu entah bagaimana berpikir dia bisa mengajak Olavia menjadi keluarga yang sebenarnya. You know, because yada yada yada. Tapi, tenang aja. Adik gue yang wonder woman itu bisa mengatasi semuanya kok. Jadi lo tenang aja nonton di sana, ya. Jangan ke sini. Sekali lagi gue peringatkan lo gak boleh ke sini atau hal ini gak akan selesai. Tahan emosi lo. Semuanya under control. Lo bisa lihat di layar, kan? Olavia sudah mengatasi soal itu. Lo harus percaya calon bini lo. Oke? Udah dulu. Gue harus fokus nguping lagi. Bye!"
Telepon ditutup, akan tetapi sesuatu di dalam diri gue malah sebaliknya. Sebuah pintu kanal emosi di dalam dada gue terbuka, dalam seketika membanjiri hati dengan perasaan-perasaan yang bermacam-macam.
Shxt. Padahal gue sudah mendengar apa yang dibilang oleh Oliver tadi kalau wanita yang paling gue cintai di dunia ini itu sudah membereskan masalah tersebut. Dan menilai dari sikap Oli terhadap cara Olavia menyelesaikan itu serta melihat apa bahasa tubuh yang nampak dari monitor sebentar ini, gue ingin percaya kalau calon istri gue menolak pemikiran gila si Popstar yang Benar-Benar Full of Himself itu. Bagaimana bisa dia mengajak seorang wanita yang sudah bertunangan untuk menikah? Di mana letak otaknya? Di mana letak moral compass miliknya?
Ah, ah, ah. Gue baru ingat dan gue serta-merta menggeleng karena pemikiran gue itu. Artis kesayangan kita ini sudah tidak kenal lagi dengan kata moral. Kalau tidak, dia tidak mungkin melakukan apa yang selama ini dilakukannya, bukan? Maksud gue, dia baru saja ketahuan main sama bini orang. So, yeah. There's that matter.
Oh, my fxcking God. Haruskah ... haruskah gue mencemaskan hal tersebut?
Bersambung ....
__ADS_1