Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
55. Thank You, Owen


__ADS_3

Olavia


What the heck? What in the ever loving mind is he talking about?


Aku serta-merta tersentak mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Owen. Dia bilang apa? Dia bilang ingin apa? "Say what? What the heck did you just say?" Terheran-heran aku dibuat lelaki ini. Beberapa waktu yang lalu sikapnya seperti orang yang tidak butuh dengan siapa pun. Songong dan belagu. Sekarang? Setelah apa yang aku ceritakan dia tiba-tiba ingin menjadi sebuah keluarga?


"Gue ingin kita jadi keluarga yang sebenarnya. Gue yakin lo dengar itu waktu gue bilang pertama kalinya," tukas Owen tanpa ragu.


Oh, my God! "Lo gila, ya?" Tidak dapat kutahan pertanyaan itu. Bagaimana aku bisa tidak mengatakannya? "Lo tahu gue udah tunangan, kan. Lo tahu siapa tunangan gue. Dan sekarang dengan tanpa mikir, kayak orang tolol, lo bilang kalau lo mau kita jadi keluarga? Apa itu namanya kalau bukan gila, ha? Sinting? Gak waras?"

__ADS_1


"Come on, Olavia." Dia berlagak seperti aku yang baru saja mengatakan hal yang tidak wajar. "Lo dan gue udah punya anak bareng. Apa lagi yang diperlukan? Tinggal kitanya yang jadi pasangan beneran. Iya, kan? Gue gak salah, dong."


Gue gak salah, dong? Apa dia baru saja mengatakan hal itu? Dia pikir dia tidak bersalah mengatakan hal seperti itu kepada wanita yang sudah memiliki tunangan? Dia pikir hal itu adalah hal normal yang dikatakan oleh orang normal kepada wanita yang merupakan ibu dari anak yang baru diketahui keberadaannya itu? Apakah dia pikir mengajak seseorang menikah adalah seperti mengajak mereka untuk makan siang bersama? Apakah dia pikir dia bisa mengajak seorang wanita untuk menikah di pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun berpisah?


Apakah dia berpikir? Apakah dia punya akal? Apakah dia sadar dengan apa yang diucapkannya?


Aku rasa tidak. Owen sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.


hardikku dengan nyaring. Suaraku terdengar memantul di dinding-dinding restoran yang kosong. "Lo pikir lo bisa ngomong sembarangan kayak barusan, ha? Lo pikir semua yang lo inginkan bisa saja terjadi dalam sekejap mata? Lo pikir dunia berutang sama lo untuk mewujudkan apa pun yang melintas di pikiran lo yang udah gak sehat itu? Ha? Wake the fxck up! Lo bukan the center of this universe. Gak semua hal berputar dan mengelilingi elo. Mungkin, dalam kehidupan glamor seorang artis yang aedang lo jalani memang begitu, akan tetapi gue, dan anak gue, dan setiap aspek kehidupan gue bukan bagian dari circle lo. So, jangan harap lo bisa memainkan kartu superior lo ke gue dan come out as a winner. No! Di dunia gue, bukan begitu cara kerjanya!"

__ADS_1


Dengan napas yang terengah-engah aku kembali menghempaskan tubuhku ke atas kursi. Kulengahkan muka dari Owen agar makhluk tak berperikemanusiaan itu tudak berada di dalam area pandanganku lagi. "Oh, my fxcking God!" Aku mengerang, menengadahkan kepala sekilas sebelum mengembuskan napas panjang dan menyilangkan tangan di depan dada. "Gue tidak menyangka gue akan dihadapkan dengan orang yang seperti ini. Gue tidak pernah menyangka ada orang yang se ... ngaco kayak lo gini. Gue gak ngerti, Owen. Gue gak ngerti. Apa yang sudah terjadi sama lo? Kenapa lo bisa jadi sekacau ini, ha? Dulu, sebelum lo jadi setenar sekarang, sebelum karir lo melejit dan lo jadi salah satu bintang di langit musik, gue pikir lo tidak seburuk ini. Tapi, apa mungkin gue yang salah, ya? Apa mungkin gue yang sebenarnya tidak mengenal lo? Kalau begitu, beberapa bulan yang kita lewati itu hanya berlalu dalam sebuah ilusi? Tidak ada bagian yang nyata yang lo bagi ke gue pada periode itu, ha? Bilang sama gue, Owen. Jujur sama gue. Apakah ada barang setitik saja bagian dari diri lo yang nyata saat kita bersama?"


Namun, aku tidak membiarkan Owen menjawab karena aku tidak siap mendengarkan jawabannya. Bagaimana kalau dia mengungkapkan bahwasanya memang tidak ada yang nyata dari yang pernah kami lalui? Bagaimana kalau dia membenarkan bahwa semua yang dia dan aku lewati hanyalah sebuah ilusi? Hasil rekayasa dan manipulasi yang dilakukannya untuk berhasil mendapatkan apa pun yang dia inginkan dari gadis tolol seperti aku. Hasil dari tipu daya yang dilakukan untuk menjerat seorang gadis naif dan tidak tahu apa-apa seperti aku.


Kenyataan itu tidak akan berdampak baik bagi egoku. Hal tersebut hanya akan semakin membuatku merasa tersinggung dan menjadi bahan bakar untuk rasa benciku kepada dia. "Don't! Gak usah. Lo gak perlu jawab semua pertanyaan gue. Gue gak mau tahu apa jawabannya. Atau, lebih tepatnya, gue gak mau dibohongi lagi. Cukup sudah waktu gue yang terbuang untuk mendengar dan mempercayai semua tipu muslihat lo. Gue tidak akan pernah percaya sama lo lagi."


Di saat yang sama, kesadaran akan hal lain muncul. Perihal yang akhirnya membuat hatiku tersenyum setelah sekian banyak ketegangan, kekecewaan, rasa marah, dan kekesalan yang diberikan oleh pertemuan ini. Pada akhirnya aku memilih untuk menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan langsung ke mukanya, sambil menatap lurus ke titik matanya. "But you know what?" Aku bisa merasakan sebuah senyum tipis terulas di bibirku. "At the end of the day, I am glad. I am really freaking glad you left me on the floor of your dingy apartment that afternoon. Gue benar-benar bahagia karena lo meninggalkan gue di lantai apartemen lo yang berantakan dan kumuh waktu itu. Lo mau tahu alasannya kenapa? Hm, Owen? Lo mau tahu alasannya, gak?" Aku tergelak. "Kalaupun lo enggak mau, tetap akan gue kasih tahu."


Setelah kukedikkan bahuku, bukan hanya semata-mata karena ingin terkesan cuek, akan tetapi karena aku benar-benar sudah tidak mempedulikan perasaan orang yang tidak bisa merasakan dan memedulikan apa pun selain perasaannya sendiri itu, aku kembali melanjutkan. Di kalakian mengungkapkan alasan dari kebahagiaan yang aku rasakan. "Gue bahagia banget lo tinggalin karena dengan begitu Oleander tidak tumbuh bersama orang seperti lo. Dia tidak tumbuh dan berkembang di sekitar laki-laki yang mempunyai karakter sejelek yang lo punya sekarang. Gue bahagia banget lo tinggalin karena itu memberikan tempat untuk orang-orang yang tepat, yang baik, untuk bisa masuk ke kehidupan gue lagi. Mereka yang mengajarkan Oleander apa yang diketahuinya sekarang. Mereka yang menjadi contoh bagi anak gue yang manis, bersemangat, dan penyayang serta penuh rasa peduli itu. So, gue rasa pada akhirnya gue tetap harus berterima kasih ke elo karena sudah meninggalkan gue. Thank you, Owen. Dengan meninggalkan gue, lo membuat hidup gue dan anak gue menjadi jauh lebih baik."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2