
Owen
Gue tidak menyangka kalau gue berada di sini sekarang.
Fxck. What the fxck am I going to do in there?
What am I doing here in the first place?
Shut the fxck up, idiot! Katanya lo mau ketemu sama yang dibilang si Angga adalah anak lo.
Anak gue.
Gue punya anak.
Gue tidak menyangka kalau gue sudah memiliki seorang anak.
Dengan Olavia. Cewek yang selama kami bersama tidak pernah gue hafal namanya. Cewek yang selama kami bersama selalu gue panggil dengan panggilan standar yang gue beri ke cewek-cewek gue yang lain sebelum dia.
Cewek yang sekarang gue ingat sudah memberikan usaha terbaiknya buat gue, menjadi pendukung gue, yang pertama berbahagia dengan tulus untuk kebahagiaan gue. Cewek pertama yang gue beri tahu soal kontrak yang gue dapatkan dari label melalui kontak dari Big Ben.
Dan sekarang dia tidak hanya sekedar cewek yang menghangatkan ranjang gue ketika gue butuh, akan tetapi dia adalah ibu dari anak gue.
Kalau anak laki-laki yang di-mention si Angga itu benar-benar anak gue.
Fxck. Kenapa gue baru memikirkan kemungkinan ini sekarang? Kenapa hal tersebut baru terpikirkan oleh gue, sih?
Dasar idiot. Bagaimana kalau ini cuma scam? Bagaimana kalau ini hanya akal-akalan mereka untuk mendapatkan uang dari gue? Bagaimana kalau ....
Hello! Idiot, lo lihat, gak, bangunan yang ada di depan lo? It is not an ordinary house, man. It is a fxcking mansion! Jadi, apa lo kira orang-orang yang tinggal di dalam rumah ini adalah orang yang sangat membutuhkan uang, ha?
__ADS_1
Txlxl.
Gue hela napas dalam kemudian gue embuskan perlahan sebagai usaha untuk menstabilkan detak jantung gue. Namun, usaha tersebut hanya terbuang percuma. Jelas jantung gue cuma ingin melompat-lompat ke luar dari dada gue sekarang ini.
Fxcking hell.
Meskipun begitu, gue tetap melakukannya sekali lagi. Kali ini sebagai alasan untuk menghitung mundur waktu pengambilan langkah pertama gue menuju ke pintu masuk. Untung sopir taksi tadi sudah pergi, jadi tidak ada yang menjadi saksi soal kejadian ini. Gue sudah bisa membayangkan apa headline yang akan muncul jika para burung pemakan bangkai dan penghisap darah orang-orang terkenal itu.
Owen Miller si Bintang Pop tanah air yang tengah naik daun karena skandalnya bersama seorang wanita istri pejabat yang tersangkut kasus korupsi tertangkap basah sedang mengalami mental breakdown di depan sebuah rumah orang kaya. Apa yang dilakukannya di sana?
Damn. Itu sungguh-sungguh terdengar sangat mengerikan.
Pikiran gue sendiri menyulut rasa was-was di dalam diri. Benarkah mereka tidak ada di sini? Gue menoleh ke kanan dan ke kiri lalu memutar badan hingga tiga ratus enam puluh derajat, mengedarkan pandangan gue ke setiap sudut taman yang menghiasi driveway itu.
Nothing. Gue tidak melihat adanya pergerakan.
Semoga saja benaran tidak ada. Walaupun bisa saja mereka bersembunyi di balik bonsai yang tumbuh dengan rapat dan dipangkas rapi di tepi-tepi taman, akan tetapi gue tidak mau memikirkan itu. Gue tidak mau sampai kehilangan akal karena memikirkan tempat-tempat di mana mereka bisa menyuruk di sekitar sini.
Shxt. Gue tidak mau memikirkan itu sekarang. Jangan pikirkan itu sekarang kalau gue tidak ingin menjadi gila duluan sebelum bertemu dengan bocah yang bernama Oleander itu.
Perkiraan gue sudah ada sekitar sepuluh menit (atau bahkan lebih) waktu yang terbuang untuk mondar-mandir di bawah teras ini dengan isi kepala yang juga ngalor-ngidul. Seakan-akan jam-jam yang berlalu setelah gue mengusir si Angga dari rumah orang tuanya Bram hingga kedatangan gue ke sini masih kurang untuk dihabiskan dengan berpikir.
Fxcking hell, Owen. Just ring the god damn door bell!
Okay, sudah. Saatnya menunggu.
Debaran jantung gue semakin berpacu. Telapak tangan gue mulai basah. Tenggorokan gue tiba-tiba jadi terasa kering.
Come the fxck on, Owen. Get yourself together.
__ADS_1
Ketika gue mendengar bunyi seseorang sedang membuka kunci pintu, kegelisahan yang gue rasakan dalam sekejap menembak kencang, menembus ubun-ubun gue. Seseorang, wanita paruh baya, yang muncul dari balik pintu kayu berukiran mewah itu menjadi saksinya.
"Selamat malam. Ada yang bisa dibantu?" ucapnya dengan intonasi yang sopan.
Gue berdeham. "Ehm, saya mau ketemu sama Olavia." Lidah gue terasa agak kaku saat menyebut nama itu untuk pertama kalinya.
"Maaf, Tuan siapa, ya?" Perempuan itu masih bertanya dengan tubuh yang setengahnya tersembunyi di balik daun pintu.
"Saya Owen. Temannya Olavia." Namun, sekarang, gue ... gue mulai menyukai bagaimana rasa nama Olavia keluar dari mulut gue.
"Oh, temannya Nona Ola, ya. Kalau begitu silakan masuk, Tuan. Ikuti saya."
Akhirnya perempuan yang gue yakin adalah asisten rumah tangga di mansion ini membuka pintu lebih lebar lagi agar gue bisa masuk. Setelah gue masuk dan dia kembali menutup pintu dengan bunyi klik yang menggema di ruangan itu, dia kemudian memimpin jalan menuju ke dalam rumah.
Holy shxt, keluarga Olavia benar-benar bergelimang harta. Gue ingat pernah mengatakan bahwa dia sempurna buat gue dan gue mengatakan itu hanya berdasarkan sifat, sikap, dan penampilannya saja. Sekarang, setelah melihat sendiri semua kemewahan ini, sempurna betul-betul cocok untuk dia.
Sembari berjalan, mata gue sibuk memindai apa saja yang dapat gue lihat sambil lalu. Perabotan bergaya minimalis namun tetap terkesan wah, bagaimana setiap sudut yang terlihat oleh gue tertata rapi dan bersih, serta betapa banyaknya foto-foto yang bergelantungan di atas dinding.
Dari semua itu, hal inilah yang paling mencolok bagi gue. Pigura-pigura yang terpajang adalah tanda bahwa bangunan ini sungguh-sungguh bisa menjadi tempat untuk pulang bagi setiap anggota keluarga.
Tetiba saja gue merasakan kepedihan di dalam dada yang membuat gue bingung. What the hell is that?
Suara si Asisten Rumah Tangga mengalihkan perhatian gue daei rasa yang baru saja timbul. "Mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah, Tuan."
Okay. Perjalanan menuju ruang tengah benar-benar memakan waktu lebih banyak dari yang normalnya gue bayangkan. It really is something.
And it turns out it really is something.
Gue bisa mengatakan kalau kami sudah mendekati tujuan dari suara-suara yang gue dengar. Gue persiapkan diri gue untuk menghadapi apa yang akan gue temui. Namun, tidak ada sesuatu apa pun yang gue rasa bisa mempersiapkan gue untuk bertemu dengan bocah yang sedang bermain di atas karpet. Ketika kami sampai, perhatiannya beralih ke arah gue dan si perempuan paruh baya.
__ADS_1
Holy fxcking shxt. I'll be damned.
Bersambung ....