Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
31. Maafkan Aku, Ngga


__ADS_3

Olavia


"What? Tapi, Pa–"


Kalimatku terputus oleh ucapan Bang Oli yang tiba-tiba menyalip. "Iya, Dek. Abang setuju sama Papa. Abang rasa kamu harus fokus ke urusan yang satu ini dulu. Apa yang akan kita lakukan sekarang setelah Owen tahu kamu memiliki anak dia. Karena ... shoot, La, hanya dengan melihat Ole aja dia pasti udah tahu kalau Ole itu anak biologisnya dia."


Oh, my God. "Tapi, kan, gak ada yang bisa dia masalahkan? Apa yang mau dia tuntut?" Aku mengedarkan pandangan kepada Papa, Mama, dan Bang Oli yang memasang ekspresi yang sama; cemas bercampur iba.


Oh, no. Kenapa di wajah mereka ada gurat-gurat rasa yang tidak ingin aku lihat itu? Tidak pernah ingin aku lihat di wajah siapa pun; dulu, sekarang, ataupun nanti.


"Pa, dia gak bisa menuntut apa-apa, kan? Aku sudah menandatangani NDA yang dia minta, Pa. Aku sudah membungkam mulut aku soal Ole. Aku melahirkan dia sendiri, membesarkan dia sendiri. Tanpa menuntut satu apa pun dari dia. Aku tidak pernah mengganggu kehidupan dia. Aku tidak pernah ingin mengganggu kehidupan dia. Apa yang bisa dia lakukan, Pa? Apa yang bisa dia lakukan terhadap aku dan Oleander?"


Aku bersyukur Oleander tidak ada di sini untuk menyaksikan mamanya kehilangan akal sehat gara-gara kehadiran laki-laki yang menjadi pendonor setengah DNA yang ada di dalam tubuh dia. Namun, di sisi lain, aku benar-benar ingin memeluk bocah kecilku itu agar bisa meyakinkan diri ini kalau dia tidak akan ke mana-mana.


No. No. No. Yang terbaik baginya sekarang adalah bermain dengan Bi Jumi di halaman belakang. Bukan di tengah-tengah kekacauan ini.


"Pa!" Aku lagi-lagi mendesak Papa untuk memberikan penjelasan secepat mungkin. "Apa yang bisa dijadikan Owen sebagai alasan untuk menuntut aku?"


Papa terlihat berikir keras. Keningnya yang sudah mulai keriput itu semakin berkerut. Mama yang duduk di sebelahnya *******-***** jari-jemari yang saling bertautan. Sedangkan Bang Oli, Bang Oli yang masih berusaha menahan emosinya, mondar-mandir di depan sofa yang ada di ruang kerja Papa itu.


"Papa rasa tidak ada, karena kamu sudah melakukan semua yang mereka minta, basically, dengan menandatangani persetujuan untuk tutup mulut dan benar-benar melaksanakan apa yang kamu janjikan selama ini. Akan tetapi, Papa rasa we can never be too careful about this because the risk is too high. Oleander tidak boleh jatuh ke tangan mereka. Dia bahkan seharusnya tidak pernah terjebak di dalam situasi seperti ini."

__ADS_1


Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Papa terasa sampai ke lubuk hati nan paling dalam. Papa benar. Oleander seharusnya tidak pernah menjadi bagian yang rumit seperti yang sudah aku ciptakan. Anak semanis dan sepintar dia seharusnya memiliki keluarga yang lengkap, bahagia, dan tanpa masalah. Bukan hanya memiliki Mama seperti ... aku.


Aku merasa seperti sebuah kegagalan.


"Oh, Sweetie." Aku tiba-tiba merasakan rangkulan di bahuku. Dari sentuhan yang lembut dan wangi yang segera menyergap, aku bisa tahu kalau yang sedang memeluk bahuku adalah Mama. "I'm so sorry. Bukan begitu maksud Papa."


Aku tahu. Aku tahu apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Papa. Aku tahu bahwa Papa tidak bermaksud untuk mengindikasikan hal seperti itu dan menyinggung perasaanku. Namun, apa boleh buat? Perasaanku terlalu halus dan terlalu sensitif untuk tidak tersinggung sekarang.


"Ah, Sweetheart. I'm sorry. Maksud Papa bukan begitu."


Kini kedua orang tuaku sudah mengapitku di antara keberadaan mereka yang menenangkan. Namun, tidak ada yang bisa menenangkan aku sekarang. Emosi yang kurasakan di dalam hatiku berserakan ke mana-mana. Mereka punya kehendak mereka sendiri-sendiri, tidak dapat dikumpulkan menjadi satu.


Kuhapus air mata yang tahu-tahu sudah membanjiri pipi dengan telapak tangan. "I know, I know." Aku meyakinkan mereka. "Aku tahu, Pa, Ma. Tapi, aku tetap saja merasa cemas. Aku takut. Aku takut dia akan mencoba merebut Oleander dari aku. Aku gak bisa hidup tanpa anak aku, Ma. Aku gak mau hidup tanpa Oleander."


Mama mengelus-elus rambutku, punggungku, bahuku, apa pun yang bisa dicapai oleh tangan yang sudah pasai mengusap tubuhku selama tiga puluh tahun ini. Mama terus membisikkan kata-kata semangat demi meyakinkan aku bahwa semua akan baik-baik saja.


Aku benar-benar berharap semuanya akan baik-baik saja. Oleander akan tetap bersama kami, Oleander tidak akan dipisahkan dari aku, dari oma dan opanya, dari Om Oli, dan dari papanya.


Papanya. Angga. Bukan Owen.


Angga.

__ADS_1


Oh, no. Apa yang kini sedang berada di dalam pikirannya? Apakah dia sedang mencemaskan kami?


Itu sudah pasti. Bukan Angga namanya kalau dia tidak mencemaskan orang-orang yang dia cintai.


Namun, apa yang akan ada di dalam kepalanya saat aku belum juga memberinya kabar? Apa yang sedang dia pikirkan semenjak semalam, saat aku mengusirnya ke luar dari kamar?


Oh, my God. Kenapa ini semua bisa terjadi? Apa maksud dari semua ini?


"Aku minta maaf karena telah menyembunyikan ini semua dari kalian. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan waktu itu. Seandainya saja ... seandainya saja aku mempunyai sedikit keberanian untuk mengungkapkan semuanya, mungkin keadaan tidak akan sekacau sekarang. Pasti semuanya akan baik-baik saja. Pasti semuanya akan baik-baik saja." Di antara isak aku meminta maaf kepada keluargaku. Kepada orang-orang yang seharusnya menjadi tempatku pulang. Orang-orang yang audah pati mau menjadi tempatku mengadu, membagi beban, dan yang akan dengan senang hati membantuku menyelesaikan masalah.


Namun, tidak. Aku tidak melakukan semua itu.


Bagaimana aku akan memulai membentuk keluarga yang baru jika aku sendiri masih kacau seperti ini? Bagaimana aku akan membangun keluargaku sendiri jika masih ada orang lain yang bisa mengusik kehidupan kami? Bagaimana aku akan menghadapi masa depan jika urusan masa lampau masih mengikutiku sampai ke sini?


Oh, my God. Oh, my God. Oh, my God.


Kesadaran turun dan melingkupi diri.


Aku tidak bisa memulai sesuatu yang baru jika aku belum bisa menyelesaikan masalahku yang lama. Aku tidak akan melibatkan Angga dan membuatnya menghadapi masalah yang seharusnya sudah aku selesaikan sedari dahulu kala.


Maafkan aku, Ngga. Maafkan aku. Maafkan aku karena harus mengambil keputusan terberat ini. Kalau boleh memilih, aku tidak akan memilih untuk melakukannya, akan tetapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak punya pilihan lain.

__ADS_1


Maafkan aku, Angga. Maafkan aku.


Bersambung ....


__ADS_2