Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
23. Bencana


__ADS_3

Olavia


No, no, no. Ini tidak mungkin terjadi. Dia tidak mungkin ada di sini. Dia tidak mungkin sedang berdiri di depan kami saat ini. Tidak mungkin. Tidak mungkin.


Aku melihat bibir Bi Jumi bergerak, akan tetapi aku tidak dapat menangkap apa yang dikatakannya. Fokusku hanya pada sosok yang ada di belakang wanita yang sudah sejak lama membantu Mama mengurusi rumah kami itu. Sosok yang saat ini pandangannya terpaku pada anakku.


Anakku.


Oleander!


Bergegas aku menggendongnya dan membawanya pergi dari sana. No, no, no. Dia tidak boleh mengambil Oleander dariku!


****


Owen


What the heck? Kenapa si Cantik terlihat seakan dia sedang didatangi oleh hantu? Kenapa dia mendadak menjadi begitu pucat?


Dan kenapa dia bergegas menggendong si bocah laki-laki dan membawanya pergi dari sana?


"Olavia? Sweetie?" Gue melihat wanita paruh baya yang gue terka adalah ibunya menyusul dengan ekspresi penuh tanda tanya.


Si Asisten Rumah Tangga juga ikut-ikutan bingung. "Eh, anu ... ehm. Aduh, gimana ini?"


Akhirnya si Lelaki Paruh Baya yang awalnya duduk bersama dengan istrinya itu berdiri. "Sudah, Bi Jumi. Bibi ke belakang saja. Nanti datang kalau sudah saya panggil," titahnya pada wanita berumur yang baru ketahui namanya itu.


"Baik, Tuan." Bi Jumi menurut dan lekas-lekas membuat dirinya beranjak dari tempat kejadian perkara. Meninggalkan gue dan lelaki di depan gue berdua.


Si Bapak melangkah mendekat ke arah gue. Seraya mengulurkan tangan, dia berucap, "Saya Arifin. Kepala keluarga di sini."


Gue membalas jabatan tangannya. "Saya Owen." Buset, dah. Genggaman tangan si Bapak Arifin ini oke juga. Sangat kuat.


Atau, dia sengaja melakukan itu untuk menunjukkan siapa yang memimpin di sini?


Ah, ah, ah. Oke lah kalau begitu.

__ADS_1


"Owen, silakan duduk." Dia mengayunkan tangan ke sofa di belakang gue. "Maaf, untuk pertemuan pertama rasanya sofa ini terlalu santai. Tapi, apa boleh buat. Anda sudah melewati ruang tamu. Rasanya tidak enak kalau harus kembali lagi ke sana."


Gue segera menjawab. "Ah, tidak apa-apa, Pak. Kalau Bapak ingin pindah ke ruang tamu, saya tidak akan keberatan."


"Oke. Kalau begitu mari kita beralih ke ruang tamu." Pak Arifin kemudian memimpin jalan.


Sialan. Inikah yang dimaksud dengan ruang tamu? Ruangan luas dengan deretan kursi-kursi bersandaran tinggi disusun melingkar dengan meja dari kayu mahal beralaskan kaca.


Who the fxck are they? Siapa yang menerima tamu sebanyak kursi-kursi ini?


Gue duduk di salah satu sofa single sedangkan ayahnya si Cantik duduk di singgasananya, satu kursi yang terletak di kepala meja. Setidaknya begitulah menurut gue.


Pak Arifin menatap gue untuk beberapa saat sebelum membuka suara. "Jadi kamu, ya."


Tiga kata. Tiga kata yang bisa dikatakan sebagai kalimat pembuka sekaligus penutup. Pun caranya mengucapkan kata-kata itu entah kenapa terdengar sangat final di telinga gue. Saat dia mengatakan itu, gue sudah bisa mengambil kesimpulan kalau dia, tanpa perlu gue jelaskan lagi, sudah tahu apa alasan gue datang ke rumah ini seperti jailangkung.


Datang tak dijemput. Tiba-tiba muncul begitu saja dari udara yang tipis.


Jadi kamu, ya, yang sudah menghamili anak saya dan meninggalkan dia sendiri.


Jadi kamu, ya, ayah kandung dari Oleander.


Jadi kamu, ya, artis yang sedang didera oleh skandal bersama istri pejabat itu.


Jadi kamu, ya.


Yes. Yes to all of that. Jadi, gue juga tidak merasa perlu untuk bertele-tele. Gue juga sudah tahu apa yang dia maksud dan jawaban dari semua pernyataan yang bisa diawali dengan tiga kalimat itu dan menyangkut soal gue, anaknya, dan anak kami. "Iya, Pak."


And then there were none. Tidak ada kata-kata setelahnya.


Sekonyong-konyongnya suhu udara di ruangan luas itu menurun seiring dengan datangnya keheningan yang lantas melingkupi setiap permukaan dan setiap sudut ruangan. Pak Arifin masih saja menatap gue, dengan terang-terangan mengamati dan menghakimi setiap lekuk dan gatria yang ada di muka gue.


Namun demikian, dia jelas tidak membikin gue gentar. Gue mengembalikan tatapannya. Silakan tatap selama dan dengan berbagai cara yang lo inginkan, Pak. Gue tidak takut.


"Apa tujuan kamu datang ke sini?" Di kalakian, Pak Arifin membuka suara lagi.

__ADS_1


Hm. Let's see. "Saya mau membuktikan kebenaran ucapan Angga, Pak. Saya mau bertemu dengan anak yang katanya adalah anak saya."


Mata Pak Arifin sedikit melebar ketika gue menyebut nama Angga, akan tetapi hanya sekelebat saja. Kalau gue tidak sedang mengamati lelaki yang ada di hadapan gue itu dengan saksama, mungkin gue akan kehilangan momen itu. Namun,pada kenyataannya gue sudah melihatnya. "Angga?" tanyanya mengkonfirmasi.


"Iya, Pak." Gue jawab dengan mantap. "Siang kemarin dia datang menemui saya dan menyuruh saya untuk menandatangani sebuah surat."


Belum lagi gue selesai menjelaskan, kepala keluarga Arifi.n tersebut sudah memotong pembicaraan gue. Gue rasa karena rasa ingin tahu yang sudah mengambil alih kontrol di dalam dirinya. "Surat? Surat apa?"


"Surat persetujuan pengangkatan anak."


"Maksud kamu, Angga bermaksud mengangkat Oleander sebagai anaknya secara resmi dan dia menemui kamu untuk meminta tanda tangan, begitu?"


"Iya, Pak." Lalu, entah kenapa gue mencoba berkelakar. "Selama beberapa tahun ini saya sudah terbiasa dimintai tanda tangan. Akan tetapi, baru kali ini saya menolak memberikannya."


But, of course, my joke fell flat on my face. Pak Arifin tidak tertawa sama sekali. Dia kembali ke posisi mengamatinya. Sambil bersandar di kursi, kedua tangan diletakkan di atas sandaran tangan, dia kembali terdiam. Keningnya berkerut.


Dan gue? Gue hanya bisa menunggu.


Menunggu.


Menunggu.


Dan menunggu.


Sialan. Apa yang sedang dia lakukan, sih? Dan kemana si Cantik bersama anak laki-laki yang jelas memang anak gue itu? Tanpa perlu melakukan tes DNA pun, gue bisa memastikan kalau dia adalah darah daging gue.


Hidungnya. Rambutnya. Bentuk wajahnya. Semua bagian itu meneriakkan nama gue.


Siaaaal.


Apa yang harus gue katakan pada Bram nanti? Apa yang harus gue lakukan sekarang? Apakah ada cara yang bisa gue lakukan agar gue dapat ke luar dari situasi ini dengan selamat, both for my career and my name?


God damn it! Kenapa ini terjadi, sih? Kenapa ini semua terjadi di saat yang tidak tepat seperti ini? Kenapa si Berxngsek Angga itu datang di saat nama gue aedang ada di dalam lumpur?


Gue benar-benar harus menutup rapat soal ini. Siapa pun selain yang susah mengetahui kebenarannya tidak boleh membocorkan hal ini pada media. Kalau tidak ... bencana akan terjadi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2