
Olavia
Aku benar-benar geram pada Owen. Bagaimana bisa dia memulai hari dan pertemuan ini dengan hangover? Apa dia sebegitu tidak pedulinya dengan apa yang akan terjadi hari ini? Apa yang akan kami, aku, bicarakan begitu tidak berarti untuk dia?
Apalagi soal pesan yang dia kirimkan kemarin kepada Papa. Setelah Angga pulang, aku meminta Papa untuk menunjukkan pesan-pesan itu dan ... oh, my God! Berani-beraninya dia bersikap sangat tidak sopan dan sombong kepada Papa!
Dasar cowok tidak tahu adab! Dasar cowok egois! Ternyata sikapnya masih sama seperti dulu. Dia hanya memikirkan apa yang menjadi kepentingannya saja, tanpa mempertimbangkan apa yang menjadi perasaan orang lain. Dia hanya peduli dengan keinginannya dan tidak peduli siapa yang akan dia sakiti di dalam perjalanan. Bagi Owen, dialah pusat dunia.
Dulu aku sempat mengagumi fokus dan etos kerjanya. Fokusnya untuk mencapai apa yang sudah dia targetkan. Semangatnya untuk menggapai mimpi. Namun, sikap-sikap itu hanya dipakai untuk urusan-urusan yang akan menguntungkan diri sendiri. Dia tidak mengaplikasikan sikap seperti itu saat berhadapan dengan orang lain.
Dia benar-benar sudah berubah. Mungkin bahkan menjadi lebih buruk. Atau ... apakah aku yang tidak pernah benar-benar mengenal Owen?
"Sayang, kamu kenapa?"
Suara Angga menginterupsi jalan pikiran yang aku yakin akan segera berubah menjadi sebuah pusaran angin ****** beliung. "Gak ada." Aku mendesah.
"Come on, Olavia. Aku tahu kalau sesuatu hal sedang mengganggu pikiran kamu."
Aku mengalihkan pandangan dari pemandangan yang terlihat dari kaca jendela mobil dan menoleh ke arah Angga. Calon suamiku itu sedang mengemudikan mobil kesayangannya dengan mulus. Tahu diperhatikan, dia juga melirik ke arahku sekilas sebelum mengembalikan fokusnya ke jalanan di depan kami lagi.
"Ada apa, Sayang, hm? Kamu gak mau cerita sama aku?"
__ADS_1
Well, tentu saja bukan begitu yang sebenarnya. Aku sangat ingin membagi apa yang kurasakan pada laki-laki yang selama ini sudah ada di sampingku itu. Namun ....
"Ini soal Owen, kan?" Seperti seorang ahli, dia dengan mudah bisa membaca isi pikiranku.
"Kok kamu tahu?" Aku bertanya, tidak mengira tebakannya akan setepat itu. Hal ini jelas menegasikan pernyataan Bang Oli yang sebelumnya, bahwa laki-laki bukanlah makhluk yang biaa membaca pikiran wanita.
Nah, Angga baru saja melakukan hal itu. Bagaimana dia bisa melakukannya?
Dia sekonyong-konyongnya menjangkau tanganku yang sedang bersilangan di atas paha dan menyelipkan jari-jarinya di antara celah jariku. Setelah itu, Angga membawa genggaman tangan kami mendekat ke bibirnya untuk dikecup. "It's an easy guess, Sayang. Kamu selalu punya tanda-tanda kalau lagi cemas atau kesal di dalam pikiran kamu. Itu, tuh. Kerutan yang ada di antara alis kamu. Kentara banget." Dia mengirimkan sebuah lirikan lagi ke arahku. "Lagi pula, siapa yang bisa membuat kamu marah sepagi ini selain dari si Bxjingan itu? Ole rasanya terlalu gemesin pagi ini, jadi dia gak mungkin dijadikan tersangka. Aku juga. Jadi, ya, cuma dia sisanya."
Aku mengembuskan napas panjang lagi untuk mempersiapkan diri. "Kamu benar," akuku pada akhirnya. "Aku ... aku merasa malu banget karena pernah memuja cowok seperti dia, Ngga." Kualihkan mataku ke arah jendela lagi. Mengakui ini sambil menatap Angga jelas bukan sesuatu hal yang mudah dilakukan. Posisi seperti jauh lebih baik. Aku tidak harus menyaksikan perubahan ekspresi di wajah Angga dan mengartikan semuanya. "Sikap dia yang udah keterlaluan banget, apalagi yang diperbuatnya sama Papa semalam. Ditambah lagi sekarang. Aku ... aku jadi merasa bersalah sama Oleander."
Entah berapa kali aku harus menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan agar beban yang terasa di pundakku habis. Setidaknya berkurang sedikit demi sedikit saja. "Entahlah. Most of all karena telah memberikan dia sosok ayah yang tidak baik."
"Maksud kamu? Aku masih kurang baik buat Ole?"
Keterkejutan Angga membuat aku menengok ke arahnya dengan secepat kilat. "Oh, my God, no!" Aku menyanggah. "Bukan kamu yang aku maksud!"
"Lalu siapa? Kan Ole besarnya sama sosok ayah seperti aku, Sayang."
Duh, benar juga, sih. Aku tertunduk, kali ini segan karena alasan yang baru. "Maksud aku, his biological father."
__ADS_1
"Ah ... itu."
Dengan kepala yang menekur, aku mencuri-curi pandang ke samping untuk mendapatkan sedikit ide soal suasana hati Angga yang nampak dari raut wajahnya. Namun, aku tidak bisa melihat banyak karena posisiku dan juga karena kepalanya yang meggeleng-geleng pelan. Meskipun begitu aku bisa menangkap suara gelaknya yang tertahan.
Aku berencana untuk meminta maaf karena sudah membuat suasananya menjadi canggung begini, akan tetapi belum sempat aku membuka mulut, Angga sudah mengalahkan aku dalam hal itu.
"Kamu pasti tahu soal istilah nature dan nurture, kan?" tanya Angga yang masih melihat ke depan dan memegang kemudi. Tanganku yang ada di dalam genggamannya pun kemudian diremas. "Aku adalah salah seorang yang percaya bahwa faktor nurture lebih berpengaruh daripada faktor nature. Ole boleh ada karena seorsng laki-laki yang seperti itu, akan tetapi dia tumbuh dan berkembang di kelilingi oleh orang-orang hebat. Papa dan mama kamu, Oliver, dan dengan seorang ibu yang sangat luar biasa seperti kamu." Dikecupnya lagi punggung tangaku itu. "Jujur aku gak terlalu cemas, sih, sama karakter anak itu. Dari sekarang aja udah kelihatan banget kalau Ole adalah anak yang care, sensitif, dan ramah sama orang lain. So, yeah. Doesn't matter where he came from, he will turn out okay thanks to you."
"And you." Aku menyahut. Angga memang tidak bisa dipisahkan dari pencapaian yang sudah dilalui oleh Oleander.
"Shxt. Sayang, sorry." Angga di kalakian menoleh dengan hidung yang dikernyitkan. "Pas aku ulang-ulang di kepala aku, rasanya kalimat yang aku katakan tadi terdengar sangat cringe worthy banget. Kan Ole besarnya sama sosok ayah seperti aku. Bleh. Menjijikkan." Pria itu menjulir-julurkan lidahnya seperti hendak muntah. "Shxt. Shxt. Shxt. Aku gak percaya aku bilang itu tadi."
Aku tertawa melihat ekspresi dan tingkah Angga. Entah kenapa dia bisa berpikiran bahwa kalimatnya itu terdengar sangat menjijikkan. Padahal aku sendiri tidak dapat menemukan alasan untuk tidak setuju dengan apa yang dia katakan. Terlebih lagi poin yang baru saja dia tunjukkan.
Nurture over nature. Seperti itulah kira-kira maksud perkataan Angga tadi.
Ya, benar. Nurture over nature. Tidak peduli siapa yang menjadi penyumbang spxrma untuk menciptakan Oleander, yang paling berpengaruh terhadap perkembangannya adala siapa yang ada dan menemaninya di saat dia tumbuh dan berkembang. Siapa yang mengajaknya bercanda. Siapa yang mengobati lukanya. Siapa yang mendukung pertumbuhannya.
Persetan dengan istilah biologis. Pengaruh yang akan diberikan oleh Owen kepada Oleander hanya akan berhenti sampai di situ.
Bersambung ....
__ADS_1