Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
59. Nikah, Yuk


__ADS_3

Angga


Benar saja. Ole segera berlari menyongsong di saat dia melihat kami berjalan ke arahnya. "Mamaaa! Papaaa!"


Papa. Anak itu masih memanggil gue Papa. Gue masih tetap akan menjadi papanya Oleander. Fxck. Gue tidak menyangka hal itu akan membuat gue menerbitkan air mata. Sebelum Oleander berhasil menghantam tubuh mamanya yang kelelahan, gue lantas maju dan menekel serangannya terlebih dahulu. Gue tangkap dia dan gue bawa tubuh kecilnya tinggi ke udara.


Tawa nyaringnya menjadi musik bagi setiap telinga yang mendengar. "Mama sama Papa kok pulangnya lama banget, sih? Lele kan jadi kangen," aku bocah itu dengan bibir bawah yang sengaja dibuat maju.


Gue langsung mencium pipinya yang tembam dan meniupkan raspberries ke bagian rahangnya.


Dia terkakah-kakah lagi.


Gue kemudian merasakan sentuhan di bagian punggung gue yang ternyata adalah Olavia. Wanita pujaan gue itu di kalakian berjinjit untuk mendaratkan sebuah kecupan di pipi Oleander yang sebelah kiri. "Mama juga kangen sama anak Mama kok," beonya, mengulang kalimat Ole.


Gue masih bisa mendengar nada letih di dalam suara Olavia. Hati gue ikut luluh lantak mendengar semua itu. Namun, tidak ada yang bisa gue lakukan selain memberikan dia kesempatan untuk menemukan tenaganya kembali. Oleh karena itu, gue mengalihkan perhatian Ole. "Eh, kamu tadi main apa aja, sih? Papa mau dengar ceritanya. Gimana kalau kamu kasih lihat ke Papa dulu aja biar kita bisa kasih waktu ke Mama untuk istirahat sebentar. Soalnya Mama capek banget habis ngurusin pekerjaan tadi di luar. Ya? Kalau Mama udah gak capek lagi, pasti nanti Mama gabung sama kita. Oke?"


****

__ADS_1


Olavia


Berkat bujukan dari Angga kepada Oleander, akhirnya aku bisa mendapatkan waktu untuk memulihkan kondisi yang aku isi dengan berendam di bathtub. Kumasukkan dua buah bath bomb dengan wangi favoritku ke dalam bak mandi dan kubiarkan aromanya meresap melalui hidung dan pori-pori kulit. Entah berapa lama setelahnya aku memutuskan untuk ke luar dari sana dan merasa sanggup menghadapi dunia lagi.


Apa pun urusan yang berkaitan dengan mantan benar-benar menguras tenaga.


Setelah berganti pakaian, aku segera ke luar dari kamar. Rasanya kasihan juga membiarkan Angga berlama-lama menjadi pengalih perhatian Oleander sementara aku berleha-leha di dalam kamar mandi.


Dalam misi pencarianku, aku berpapasan dengan Mama yang sedang merapikan bunga di atas meja pajangan. "Hai, Sweetie. Everything okay? How was it going?"


Aku mengulas senyum tipis dan menyambut pelukan wanita yang sudah melahirkanku itu. "It was ... going, I guess. Better than I expected but draining all the same. Aku ceritain sekalian aja nanti, ya, Ma. Nunggu Bang Oli sampai dulu."


"Yeah, aku kira Mama bisa bilang begitu."


Mama menepuk-nepuk pundakku.


"Eh, Mama lihat Angga sama Ole gak, Ma?"

__ADS_1


Pertanyaanku entah kenapa membawa senyuman yang sungguh cantik di wajah Mama. "Lihat kok. Mereka ada di ruang tengah."


****


Mereka memang ada di ruang tengah, akan tetapi mereka tidak sedang bermain. Oleander, keseluruhan tubuhnya, sedang menelungkup di atas tubuh bagian atas Angga yang tengah rebah di sepanjang sofa. Kepala calon suamiku itu diletakkan di atas lengan sofa, sebuah bantal mengalas lehernya.


Dan kedua laki-laki yang memegang seluruh hatiku itu tengah tertidur dengan nyenyak.


Be still my heart. Pemandangan di depanku itu kembali menyalakan hati yang tadinya masih redup karena tenaganya yang terkuras habis. Meski sudah dicekoki dengan aroma lavender dan citrus yang sangat fresh, tenaganya belum juga terisi penuh. Namun, setelah sedetik melihat apa yang aku lihat sekarang ....


Dengan langkah yang lambat dan penuh kehati-hatian aku hampiri Angga dari samping. Kukecup rambutnya lembut. "Hey," sapaku sambil berbisik-bisik. Sebenarnya aku tidak akan tega menganggu lelapnya tidur pria itu jikalau bukan karena ada sesuatu yang harus aku sampaikan.


Kuperhatikan kelopak matanya yang mulai bergetar sebelum terbuka dengan berat. "Hey." Dia mengembalikan sapaanku dengan parau.


Sekali lagi kulabuhkan kecupan, kali ini di bibirnya yang kering jika dibandingkan dengan bibirku. "Nikah, yuk."


"What?" Dia sekonyong-konyongnya terbelalak. Seruannya yang tidak begitu keras tetap saja mengganggu Oleander. Bocah itu bergerak-gerak dan bergumam tidak jelas sebelum kembali melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


"Nikah, yuk. Akhir minggu ini."


The end.


__ADS_2