Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
29. Lega


__ADS_3

Olavia


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang.


Semuanya bercampur aduk, menciptakan sebuah tornado yang memporak-porandakan semuanya; rasa, kepala, dan raga.


Rasaku kacau.


Kepalaku ricuh.


Ragaku renyuk. Pecah, akan tetapi tak berderai. Apa yang kurasakan di dalam "hati" sekonyong-konyongnya berubah menjadi perasaan sakit yang sebenarnya. Yang merambat ke kepala. Yang menjalar di sekujur tubuh hingga membuat semua tulang-tulangku ngilu. Yang membuat jantungku betul-betul terasa nyeri.


Sungguh benar kata orang. Penyakit hati adalah awal dari kehancuran diri.


Meski aku tidak tahu pasti apakah kalimat itu relevan dengan apa yang terjadi padaku, pada kami sekarang, yang jelas aku hanya ingin mengatakan hal itu.


Dasar sembarang. Aku sudah tertular kebiasaan Angga yang suka mengutip quote-quote seperti itu dengan random.


Oh, my God.


Angga.


Aku memintanya pergi tadi. Aku melakukannya lagi.


Namun, aku harus bagaimana? Aku merasa aku tidak akan bisa memproses perasaanku dengan benar kalau aku harus melihatnya berlutut dan hancur di depanku secara bersamaan.


Melihatnya jatuh seperti tadi adalah sesuatu yang lebih buruk dari mimpi buruk terburuk sekalipun.


Setelah aku mendengar suara klik dari pintu yang tertutup, barulah akhirnya aku bisa melepaskan perasaanku yang sesungguhnya.


Aku bingung.


Aku menyesal.


Aku ... takut.

__ADS_1


Dan yang utama sekali, aku marah.


Dan marah yang kurasakan bukan tertuju oada Angga. Namun, pada Owen dan diriku sendiri.


Berani-beraninya dia datang sekarang? Setelah semua yang dia lakukan padaku? Setelah apa yang dilakukannya ketika aku memberi tahu dia soal keberadaan Ole?


Jangan salah, ya. Aku tidak pernah menyembunyikan keberadaan anak kami dari ayah kandungnya. Beberapa hari setelah melakukan pemeriksaan, aku memutuskan untuk menghubungi Owen karena aku merasa dia berhak tahu soal anak ini. Pada akhirnya, di dalam diri anak ini telah mengalir darah darinya.


Kutelepon dia. Berkali-kali. Panggilan tersambung untuk beberapa kali pertama. Karena masih tidak mendapatkan jawaban, aku memutuskan untuk menunggu. Dia oasti akan meneleponku kembali ketika dia melihat notifikasi panggilan ini. Walaupun dia tidak akan melakukannya dengan senang hati, walaupun dia menghubungiku hanya untuk mengatakan jangan menghubunginya lagi, yang jelas tetap saja aku yakin dia akan menghubungiku kembali.


Dan benar saja. Tak lama kemudian panggilan dari nomor Owen masuk ke ponselku. Dengan napas bergetar aku menjawab panggilan tersebut. Namun, tak disangka tak dinyana, yang menelepon ternyata adalah manajer Owen.


Well, berbicara dengan manajernya hampir sama dengan berbicara dengan sang Superstar, bukan? Setidaknya begitulah yang kupikirkan waktu itu. Jadi, kubeberkan semua kepada si manajer yang sudah tidak kuingat lagi namanya. Kuceritakan bagaimana aku adalah seorang wanita yang menjadi tempat persinggahan bagi Owen, akan tetapi sangat disayangkan ketika aku pada akhirnya mengetahui tentang keberadaan oleh-oleh yang ditinggalkan oleh artis pop yang sedang naik daun itu. Si Manajer mendengarkan dengan saksama. Dia berjanji akan segera menghubungiku kembali di dalam waktu dekat.


Yeah, memang itu yang dia lakukan. Namun, bukan dalam bentuk panggilan telepon dan kesempatan berbicara langsung dengan Owen. Dia menghubungiku dengan mengirimkan surat-surat dari tim pengacara label kepada aku, wanita yang dianggap sedang berusaha memoroti uang dan meraup keuntungan untuk menjadi terkenal dengan mengklaim bahwa aku sedang mengandung anak dari seorang Owen Miller. Mereka secara tidak langsung menuduhku seperti itu dengan mengirimkan Non-Disclosure Agreement dan berkas-berkas yang menyatakan kalau aku setuju untuk melakukan tes DNA terhadap bayi yang aku kandung.


Hatiku menjadi jijik sejijik-jijiknya terhadap sosok yang aku kira aku cintai dulu itu. Hal itulah yang menjadi jalan bagiku untuk menghapus perasaan yang tertinggal dengan mudah.


Kutandatangani surat pernyataan bungkam yang mereka kirimkan dan segera kukirimkan balik. Namun, kubakar surat-surat yang lain. Aku tidak sudi melakukan hal itu terhadap anakku. Aku tahu siapa bapaknya. Itu saja yang perlu. Aku terlalu tersinggung untuk melihat situasi itu dari sudut pandang yang lain.


Kulanjutkan hidup dengan tenang.


Kumaafkan diriku sendiri. Kucoba maafkan kesalahan-kesalahan yang orang lain perbuat.


Kupersilakan Angga masuk kembali ke dalam kehidupan yanh nyatanya sudah bukan milikku sendiri lagi.


Angga, yang dari dulu kusadari tidak pernah pergi dari hati ini.


Angga, yang dari saat iru sampai sekarang sudah menjadi pasangan yang terbaik. Dia menjadi temanku, menjadi rivalku. Dia bahkan menjadi ayah yang jauh lebih ayah dari ayah kandungnya bagi anakku.


Aku sangat mencintai Ole. Aku mencintai dia seperti anak kandungku sendiri. Kurang lebih begitu katanya tadi.


Dia pergi menemui Owen untuk meminta persetujuan agar dia bisa menjadikan Oleander sebagai anaknya yang sah di mata hukum negara. Dia rela melakukan itu agar kolom nama ayah di akta kelahiran Oleander tidak kosong seperti sekarang.


Oh, my God. Aku .... Aku ....

__ADS_1


"Sweetheart?" Suara pintu diketuk dan panggilan dari baliknya memecahkan jalan pikiran.


Aku segera menyeka air mata yang ternyata sudah meninggalkan jejak kesat di pipi. "Ya, Pa." Aku menyahut. Kubersihkan tenggorokan dengan berdeham.


Papa melihat ke dalam kamarku dengan mengeluarkan kepalanya dari balik daun pintu. "You up?"


"Yeah," jawabku lirih.


"Papa masuk, ya." Papa di kalakian melangkah masuk karena sudah tahu tanggapan dari pernyataannya sendiri.


Orang tua laki-lakiku itu lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, tak jauh dariku. "You okay?"


Aku hanya mengedikkan bahu. Oke atau tidak okenya diriku bukan yang menjadi pokok masalahnya sekarang.


Papa kemudian berdeham. "So."


Yeah, Pa. So.


Aku hanya memandang jari-jemariku yang sibuk memilin satu sama lain di atas paha.


"Apakah benar pria yang tadi datang itu adalah ayah kandungnya Ole?"


Aku mengangguk.


"Yeah, Papa juga berpikiran begitu. Mereka ... terlihat agak mirip." Papa beralasan.


"Bukan agak, Pa. Memang mirip. Oleander is the spitting image of his father," jelasku lagi.


"Hm," gumam Papa. Pria paruh baya yang sudah membesarkan aku dan memberikan semua usaha terbaiknya untuk kami itu mendesah. "Apa kamu pikir sekarang adalah saat yang tepat untuk menceritakan semuanya secara lengkap kepada kami, orang tuamu ini? Atau, kamu masih mau menyimpannya sendiri?"


Well, jelas aku sudah tidak punya rahasia apa-apa lagi sekarang. Tidak ada gunanya lagi untuk menahan-nahan informasi.


Jadilah. Semalaman suntuk aku mengungkapkan semuanya kepada Papa. Dari A sampai dengan Z, dengan tidak terlalu menjelaskan hal-hal yang tidak patut dibicarakan kepada orang tua.


Dan satu kata yang muncul setelah semuanya keluar adalah ... lega.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2