
Olavia
Owen terlihat agak ... kaget? Sejenak tadi aku seperti melihat matanya sedikit membesar sebelum dia bisa menguasai diri dan mengontrol ekspresinya lagi. Seringai khasnya keluar lagi. "Okay, okay. Sorry. Aku rasa kebiasaan emang susah diubah. Ya, kan?" Cowok di depanku itu kini tertawa.
Kulepaskan jabatan tangan kami, sengaja tidak menanggapi ucapannya. Yeah, aku yakin dia benar. Kalau kebiasaanmu adalah memanggil cewek-cewek yang kau "pakai" dengan nama panggilan yang sama, aku rasa pasti akan sulit untuk mengubah kebiasaanmu itu. Apalagi kalau kau benar-benar tidak tahu nama mereka sebenarnya.
Dan, apa dia masih akan terus menggunakan aku dan kamu sementara akuaudah menukar kata gantinya dengan gue dan lo? Eew. Apa yang ada di dalam otaknya? Apakah dia pikir aku akan bisa dimasukkan ke dalam jeratannya lagi?
No freaking way. Not a chance in hell.
Okay, Ola. Calm down. Calm. Down.
Fiuh.
Demi memberikan pikiran dan hatiku kesempatan untuk bernapas, aku mengalihkan perhatianku kepada Bang Oli. Dia masih setia berdiri di samping kiriku, mengamati interaksi kami. Mungkin sambil mempertimbangkan cara-cara yang bisa dia lakukan agar bisa meluapkan emosinya terhadap Owen tanpa mempertaruhkan karir dan nama baik dia dan keluarga Arifin. Setidaknya itulah yang kubayangkan jika dinilai dari sorot mata tajamnya yang diarahkan kepada ayah biologis dari Oleander itu.
Poor Bang Oli. But really I don't think he will find any of it. And honestly I don't want him to do anything to Owen. Bukan karena aku tidak ingin Bang Oli membahayakan nyawa cowok yang pernah bersamaku selama beberapa bulan yang singkat namun "berkesan" itu, akan tetapi lebih kepada karena aku tidak ingin Bang Oli merugi. Rugi waktu, rugi tenaga. Lebih baik dia mengurusi hal lain saja, yang lebih bermanfaat. Seperti mendapatkan calon istri, misalnya.
__ADS_1
Ah, ya. Setelah ini akan kukatakan padanya. Namun, first thing first.
"Bang," panggilku dengan nada rendah pada Bang Oli yang langsung menoleh padaku. "Aku rasa aku bisa urus semua ini sendiri."
Tatapan tajam yang diberikannya pada Owen telah hilang, kini berganti dengan satu yang oenuh dengan tanda tanya. Rasa tidak mengerti juga telah menciptakan lipatan di keningnya. Namun, Bang Oli tidak berkata apa pun. Dia hanya mengamatiku, aku yakin sedang mencoba untuk menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menghiasi kepalanya.
Dan, setelah beberapa waktu, seperti sorang kakak yang benar-benar mengerti, dia mengangguk. Meski kerutan-kerutan di dahinya masih ada, dia mengabulkan permintaanku. "Oke. Aku bakal berdiri di dekat pintu belakang, ya. Jadi aku bisa mengawasi kamu tanpa mendengar apa yang kalian bicarakan."
"Oke. Thanks, Bang." Aku memeluknya sekilas.
Benar-benar sialan cowok ini!
Mulutnya sendiri yang membuat aku susah untuk mengendalikan diri.
Kembali lagi kuucapkan kata-kata tadi, yang sepertinya akan perlu kujadikan mantra for the time being. Selama aku masih harus menghadapi Owen, aku akan membutuhkan kesabaran dan kemampuan untuk mengendalikan kondisi emosiku dengan ekstra. Atau pertemuan ini betul-betul akan berubah menjadi pertempuran yang bersimbah darah.
Well, buah pikiranku yang baru saja melintas terlihat sangat, sangat, sangat horor, ya?
__ADS_1
Okay. Kembali ke Owen.
Setelah mengembuskan napas panjang dengan perlahan dan secara sembunyi-sembunyi agar dia tidak tahu apa yang telah disebabkan oleh kehadirannya terhadap diriku, aku melukis sebuah senyum di wajah. Meskipun demikian, aku yakin hasilnya tetap saja sumbang, tidak seperti yang diinginkan. Namun, siapa yang peduli akan hasilnya, bukan? Setidaknya aku sudah mencoba yang terbaik. "Silakan duduk." Aku mempersilakan Owen dengan menggerakkan tanganku sekilas ke arah kursinya. Setelah mengucapkan itu, aku menarik kursiku sendiri.
Aku menunggu Owen sampai dia mendapatkan posisi duduk yang nyaman sebelum memulai. Jika yang dimaksudkanya dengan nyaman adalah dengan bersandar sepenuhnya ke sandaran kursi dan bokong yang sedikit melorot di bantalan kursi. "Terima kasih banyak sudah mau datang ke pertemuan ini."
Bukannya menanggapi ucapanku dengan sama seriusnya, bisa-bisanya dia malah tertawa. "Shxt, Cantik. Eh, sorry, Ola ... hm, Olavia, barusan kamu terdengar kaku banget, kayak petugas apa, ya, gitu, yang mengunjungi rumah-rumah." Dikibarkannya tangan di udara. "Udah lah. Jangan terlalu formal-formal banget lah. Santai aja. Lagian kita juga udah kenal lama, luar dalam lagi. So." Owen mengedikkan bahunya dengan cuek. "Rasanya gak pantas banget sok resmi begitu."
Kalau bukan karena ini kenyataannya adalah pertemuan yang penting, setidaknya bagiku, dan kalau bukan karena mengingat masalah yang diperingatkan oleh Papa ke Bang Oli bisa juga terjadi padaku, sudah kugampar wajahnya yang songong itu. Sudah kurobek bibirnya yang tisak sopan itu. Namun, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Yang aku bisa kerjakan hanyalah menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara sembunyi-sembunyi lagi.
Mantra. Ingat mantra dan teknik pernapasan itu, Ola. Kontrol emosi, kontrol emosi, kontrol emosi. Kamu tidak ingin Oleander berpisah dengan ibunya karena kamu harus masuk penjara, bukan?
Oh, no. My baby. I cannot do that to my baby.
Walaupun tidak bisa menghajarnya dengan tangan ini, aku masih boleh membuatnya babak belur dengan kata-kataku, kan? "Sorry kalau gue terdengar terlalu formal di telinga lo. Gue melakukan itu karena gue rasa ini adalah percakapan yang serius, yang menyangkut sesuatu yang jelas bukan mainan. Jadi, gue harap lo juga bisa menganggap ini sama seriusnya dengan urusan-urusan serius lo yang lain. Dan gue juga berharap kalau lo bisa menjaga perkataan lo. Sekali lagi lo menyinggung harga diri gue dengan menggunakan kata-kata yang kurang sopan atau mengimplikasikan makna yang di luar batas, gue gak akan segan-segan melaporkan lo ke pihak yang berwajib. Gue tahu lo sekarang sedang berada di posisi yang tidak nyaman, Owen. Gue rasa semua orang sudah tahu. Karir lo ada di ujung tanduk. Oleh karena itu, lo harus tahu bahwa tidak sulit untuk membuat lo benar-benar berakhir sekarang. Sekali lagi gue tekankan, tolong bersikap lebih sopan. Ke gue, ke saudara gue, ke calon suami gue, apalagi ke orang tua gue. Gue gak main-main, Owen. Keluarga gue bisa mengatasi sedikit skandal yang muncul di keluarga kami dengan beberapa telepon dan kunjungan. Tapi, gue rasa hal yang sama tidak berlaku untuk elo dan nama lo. So, if I were you, I will start taking this conversation more serious than anything I have ever had before."
Bersambung ....
__ADS_1