
Olavia
Aku berjalan ke gedung utama restoran dengan langkah mantap. Tak kubiarkan debaran jantung ini menggoyahkan gerakanku sedikit pun. Dengan support dan cinta yang tulus dari Angga, Bang Oli serta Mama dan Papa, aku meyakinkan hati bahwa semua akan baik-baik saja. Owen tidak akan mengambil Oleander dariku.
Saat aku membuka pintu belakang restoran, ternyata Bang Oli sudah menunggu di baliknya. "Kamu siap, La?" Dia berbisik saat menunduk. Matanya menatapku lurus, menilai jawaban yang diberikan oleh mata dan anggukanku. Puas dengan apa yang dia lihat, Bang Oli mendorong tubuhku agar melanjutkan langkah lagi ke meja yang sudah di tempati oleh Owen. "Let's do this."
****
Owen
Gue tidak mengerti kenapa mereka berlagak seperti sedang membintangi film action. Dengan latar sebuah restoran yang sengaja dikosongkan, dua orang algojo yang berada dalam posisi standby, si Buldoser dan setelan resminya, serta si Cantik yang muncul dari pintu belakang dan segera dikawal oleh sang kakak laki-laki.
But I dig it though. Karena itu juga membuat gue jadi merasa lebih ... I don't know, more. More cool. Yeah, that sounds about right.
Sedari dia muncul di bingkai pintu itu, gue tidak bisa melepaskan mata gue dari sosok yang sedanb berjalan kenarah gue itu. Sudah gue bilang sebelumnya kalau si Cantik yang sekarang terlihat lebih menawan, akan tetapi gue tidak menyangka kalau penglihatan gue waktu itu masih agak sedikit meleset. Dia bukannya menawan, akan tetapi menawan banget.
Man!
Body-nya ... aduhai, membuat air liur gue tergenang di dalam mulut. Gerakannya sehalus yang dulu. Pembawaannya ... lebih tenang, jauh lebih tenang. Namun, sayang, dia sudah dipinang orang.
Eh, eh, eh, tunggu dulu. Gue baru ingat. Ada pepatah yang bilang kalau sebelum janur kuning mengembang, doi masih sah-sah saja untuk ditikung. Well. This one sounds more interesting.
__ADS_1
Bisa tidak, ya, gue menikung cewek ini dari si Bxrengsek itu? Kalau disuruh memilih, mungkin dia akan lebih berpihak kepada gue, kan? Secara kan gue adalah ayah kandung dari anak kami, si Oleander. Jadi, kalau kami bertiga berkumpul pasti akan terlihat seperti keluarga yang bahagia. Dan ... aha! Itu akan memperbaiki imej jelek gue selama ini. Apalagi yang lebih disukai rakyat negara ini selain playboy yang sadar dan menyesali dosanya lalu memilih untuk hijrah ke jalan yang benar dengan membangun sebuah keluarga yang ternyata sudah dia miliki sejak lama?
Come the fxck on! Gue sangat suka cara kerja otak kreatif gue. Dalam sekejap dia sudah bisa meracik sebuah skenario yang gue jamin akan berbuah sangat, sangat, sangat manis. Iya apa iya?
Holy fxcking shxt. Bram pasti akan langsung on board dengan ide gue ini. Apalagi dengan adanya ide ini berarti dia tidak perlu berpikir banyak hal lagi. Dia hanya harus memikirkan tanggal press conference yang akan digelar untuk mengumumkan tanggal pernikahan kami.
Shxxxxxt. I love my brain. I love me!
Sekarang gue tinggal memikirkan bagaimana teknis pelaksanaannya. Hm. Dari mana gue bisa memulai mengeksekusi rencana gue ini, hm?
Namun, belum selesai gue mempertimbangkan dan merancang apa tindakan yang harus gue ambil untuk melancarkan ide yang baru saja gue godok sendiri, sebuah suara berat yang pasti berasal dari si Buldoser—siapa lagi?—terdengar. Sekonyong-konyongnya menghentikan cakram-cakram yang sedang berputar dengan serempak dan bekerja sama dengan baik di dalam kepala gue. Dan kalian tahu suara apa yang dibuat oleh si Buldoser sialan itu, ha? Dia cuma berdeham. Berdeham! Benar-benar sialan dia!
Meskipun hati gue sungguh dongkol, akan tetapi gue tidak dapat menafikan bahwa tindakan menyebalkan itu ada gunanya juga. Gangguan yang disebabkannya membuat perhatian gue terfokus kepada apa yang ada di depan. Si Cantik yang baru saja memarkirkan tubuh eloknya di kursi seberang gue.
Dengan seringai lebar layaknya seekor kucing Chesire, gue mengulurkan tangan ke arah si Cantik untuk menyapanya. "Hey, Cantik."
****
Olavia
Aku sungguh-sungguh tidak menyukai senyum yang terpampang di wajah Owen sekarang ini. Aku benar-benar tidak menyukai apa yang aku lihat. Rekahan yang bisa membelah muka laki-laki yang ada di seberangku itu terkesan sangat palsu, sangat arogan, nakal, dan menjijikkan. Aku betul-betul tidak menyangka aku bisa jatuh dan rela tersungkur demi orang seperti dia ini.
__ADS_1
"Hey, Cantik."
And ... this. Sapaan ini yang menjadi red flag paling besar, akan tetapi entah kenapa yang juga sering luput dari perhatianku.
Owen selalu memanggilku dengan Cantik. Beautiful. Berbagai versi lain yang pada hakikatnya bermakna sama. Dia tidak pernah memanggilku dengan namaku sendiri.
Cinta itu buta.
No, no, no, no. Bukan cinta yang membutakan. Bukan salah cinta aku tidak bisa melihat tanda-tanda peringatan tersebut. Bukan salah cinta hatiku dirobek-robek oleh sakitnya ditelantarkan. Namun ....
Oh, my God. Benar-benar sialan. Aku merasa sangat malu ketika mengingat kebodohan dan ketololanku di masa lalu. Tubuhku bergidik saat mengenang hal-hal yang aku lakukan waktu itu. Kesalahan-kesalahan yang aku buat. Masalah-masalah yang aku timbulkan.
Perhatian, ya, Ladies. Ketika seorang pria memanggilmu dengan panggilan seperti di atas, panggilan itu hanya terdengar cute di awal. Ingat itu, ya. Kalau sudah tiga bulan, empat bulan kalian bersama dan dia tidak pernah memanggil nama aslimu, ingat, ya, itu red flag. Red flag! Hati-hati. Mending kalian kabur duluan daripada kalian nanti ditinggalkan seperti aku.
Walaupun begitu, tetap saja pada akhirnya pertemuan aku dan Owen memberiku Oleander. Sosok bocah yang tidak pernah kusangka akan kubutuhkan kehadirannya.
So, yeah. Mungkin ini yang disebut dengan jalan kehidupan. Mungkin ini yang orang-orang bilang dengan takdir yang tak pernah salah. Mungkin saja inilah yang dimaksud dengan selalu ada kebaikan dalam setiap rencana Tuhan. Mungkin sakit hati dari Angga dan Owen yang aku butuhkan untuk sampai di titik tempatku berdiri saat ini.
Ikhlas, Ola. Ikhlas. Kamu harus ikhlas. Kalau kamu tidak menghadapi cowok di depan kamu ini dengan lapang dada, masalah kalian mungkin akan semakin berlarut-larut. Sekarang kamu hanya tinggal menjelaskan cerita versi kamu dan dengarkan bagaimana versi dia. Kamu ingin situasi ini cepat selesai, kan? Kamu ingin segera kembali ke dalam pelukan Angga, kan? Kamu mau segera kembali berkumpul bersama anak kamu, kan? Maka dari itu, silakan bicara dengan kepala dingin.
Okay, then. Kuhirup napas dalam sebelum menjawab jabatan tangan yang terulur daei seberang meja. "Hey." Aku sunggingkan senyum sekilas. "Sorry banget. Nama gue bukan Cantik, tapi Olavia. Lo bisa panggil gue pakai nama gue sendiri. Please panggil gue pakai nama gue mulai dari sekarang."
__ADS_1
Bersambung ....