Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
48. Cepat-Cepat


__ADS_3

Owen


Seorang petugas keamanan yang gue rasa lebih cocok untuk menjadi seorang tukang menagih utang menyambut kami di balik pintu. Gue lupa-lupa ingat dengan wajah ini, akan tetapi gue pastikan kalau gue benar-benar lupa nama pria itu.


I guess old habits are the ones that's really hard to change, eh?


Setwlah melepaskan pengamatan dari si aBang-Abang Debt Kolektor, muncul orang yang mirip dengan dia di ujung sana. Uh-oh. Gue harap mereka semua menganggap serius peringatan yang gue sampaikan kemarin malam. Kalau sampai hal ini atau hanya keberadaan gue saja sampai ke media, gue benar-benar tidak akan tinggal diam.


"Maksud lo, lo gak akan tinggal diam adalah dengan kabur dan bersembunyi di balik punggung manajer lo itu, ha? Nice. A loser and a pathetic cxnt." Si Buldoser berbicara, atau lebih tepatnya mengata-ngatai gue, untuk pertama kalinya setelah dari kos-kosan gue di Bogor.


Gue agak terperanjat dibuatnya. Apakah gue baru saja mengucapkan apa yang gue pikirkan di dalam kepala gue dengan lantang?


"Iya, Tolol!"


Oh, shxt. Segera gue segel mulut gue. Semoga saja hanya itu yang gue sebutkan. Kalau tidak bisa berabe urusannya.


Ketika si Buldoser tidak lagi memberi tahu gue apa pendapatnya, gue mengembuskan napas lega dengan sembunyi-sembunyi.


Kami berjalan di jalur yang sudah disediakan di depan counter bar Beniqno. Melihat tempat yang biasanya ramai dengan pengunjung ini begitu kosong membuat gue merasa aneh. Gue tidak pernah ada di sini saat restoran kenamaan di kawasan Jakarta Selatan ini sekosong ini sebelumnya. Saat masih belum buka pun, tetap masih ada staf yang berlalu-lalang untuk mempersiapkan kebutuhan restoran.


Sekarang hanya ada si Buldoser, gue, dan dua orang yang sedang cosplay jadi debt kolektor di sudut ruangan, bersembunyi di dalam bayang-bayang.

__ADS_1


Oh, wait. Kalimat yang terakhir kayaknya bagus, tuh, kalau gue jadikan lirik lagu. Semoga saja setelah ini gue masih ingat kata-katanya.


****


Angga


"Mereka udah sampai."


Olavia yang tadinya menyandarkan tubuhnya ke tubuh gue langsung menegakkan badan dan menengok ke sekumpulan monitor yang ada di dinding seberang ruangan. Gue sengaja tidak memberi tahu dia semenjak awal, ketika gue melihat Audi R8 Coupe V10 milik Oliver yang baru dibelinya beberapa bulan yang lalu masuk ke kawasan parkir, karena gue tidak ingin merusak gelembung kedamaian yang melingkupi kami dengan terlalu cepat.


Setelah memeluk calon istri gue tadi, gue menggandeng tangannya ke arah meja kerja gue. Setelah gue duduk di kursi yang ada di belakang meja itu, gue tarik Olavia dengan lembut hingga akhirnya dia duduk di atas pangkuan gue. Tidak lama setelah itu dia menggelungkan badannya dan meletakkan kepalanya di dada gue.


Dan semua terasa begitu damai. Dan semua terasa akan baik-baik saja.


Oliver terlihat sedang mempersilakan si Bxjingan Bxrengsek itu untuk duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan. Kami sengaja memilih sudut itu karena tempatnya yang tersembunyi dari pintu dan jendela, akan tetapi masih tetap ter-cover oleh CCTV dari setiap angle. Kalaupun ada yang mengintip dari luar, mereka tidak akan menemukan apa-apa selain ruangan yang kosong dan beberapa bayangan yang bergerak-gerak di beberapa sudut.


"Let's go and get this over with," desah Olavia sembari bangkit dengan malas.


Gue tidak suka bagaimana rasanya kehilangan berat tubuh yang tadinya ada di atas pangkuan gue itu. Meskipun begitu, gue ikut bangkit bersama dia. "Aku rasa sebaiknya aku nunggu di sini aja, deh, Yang."


Olavia kembali melancarkan aksi memutar badan dengan sangat cepat. Dia lalu menatap gue dengar pandangan yang penuh rasa tidak mengerti. "Why?" tanyanya. Setengah dari suaranya hanya udara. "Kenapa, Ngga? Kamu gak mau temenin aku?"

__ADS_1


Cepat-cepat gue menolak. "Bukan, bukan gitu, Sayang. Bukannya aku gak mau temenin kamu ketemu sama dia, tapi ...."


"Tapi, apa?" Dia terus mendesak. Matanya kini menatap mata gue dengan liar.


Gue mencoba menenangkan dia dengan menangkup wajah yang akan selalu menghiasi mimpi dan nyata gue itu. "Hey, hey, hey. Calm down. Sayang, tenang. Tenang, okay?" bisik gue. Rasa sesal merebak di dalam dada. Kenapa gue tiba-tiba harus mengatakan hal itu, sih? Kenapa gue tidak langsung mengikuti Olavia saja dari belakang?


Namun, sebagai laki-laki, gue tidak bisa mengikuti Olavia saja dari belakang. Gue merasa gue harus menyadari posisi gue di sini. Gue tidak boleh berasumsi sembarangan. Gue tidak mau dicap sebagai cowok yang suka ikut campur urusan pasangannya.


You see my point yet?


Owen itu adalah mantannya Olavia, or kind of. Gue adalah pasangan Olavia yang sekarang. Gue pikir mereka harus menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa campur tangan dari gue.


"Aku pikir lebih baik jika kamu mengurus masalah di antara kalian berdua dulu, Sayang. Aku pikir rasanya kurang tepat bila aku harus duduk bersama dengan kamu dan mantan kamu sementara kalian clear the air soal apa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. I love you too much to just sit there and not punch that dxck in the face for all the things he did to you, Sayang. Meskipun karena kebodohan si Bxjingan itu aku jadi mendapatkan kamu kembali dan bonus Ole, akan tetapi aku tetap tidak bisa tinggal diam. Keberadaan aku hanya akan mengganggu kelancaran komunikasi kalian nantinya. Kamu jangan cemas, ya. Kamu fokusnya aja perhatian kamu sama apa yang perlu kamu lakukan. Oliver akan ada di samping kamu. Dia akan ada di sana sebagai lawyer. Tim keamanan juga akan standby di sana. Aku juga bakal tetap mengawasi semuanya dari sini. Percaya sama aku, Sayang, percaya sama aku kalau sebenarnya aku tidak ingin kamu dekat-dekat lagi sama that lowlife, piece of shxt kind of a man, tapi harus bagaimana lagi? Semua ini harus dilakukan biar ke depannya kita bisa hidup dengan tenang tanpa gangguan dari dia. Aku ... aku ingin situasi ini cepat-cepat selesai, Sayang. Biar aku bisa cepat-cepat mempersunting kamu."


****


Olavia


Aku tidak bisa berkata-kata setelah mendengarkan alasan dari Angga. Yang bisa kulakukan hanya menempelkan bibir kami dan membiarkan sentuhan-sentuhan itu yang menyampaikan apa yang tidak bisa kusampaikan. Biar tarian dan gumulan indra perasa kami yang menjelaskan semuanya. Betapa aku menghargai kedewasaannya. Betapa aku bersyukur atas keberadaannya. Betapa aku begitu mencintainya.


"Oke." Aku berucap dengan bibir yang masih basah. Aku masih bisa merasakan sisa-sisa rasa kopi hitam yang diminumnya saat di perjalanan ke sini tadi. "Dan kamu harus ingat kalau aku melakukan ini karena aku juga ingin cepat-cepat menjadi istri kamu."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2