Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
25. Kelu dan Beku


__ADS_3

Olavia


Aku tidak punya kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan betapa leganya perasaanku ketika Angga sampai. Aku tidak bisa mengutarakan betapa lapangnya dada ini ketika berada di dalam pelukannya. Untuk sementara semua terasa aman, semua terasa baik-baik saja. Semua masalah seketika sirna.


Tidak ada Owen yang akan merebut Oleander dariku.


Dari mana dia tahu bahwa aku ada di sini? Dari mana dia tahu alamatku? Yang paling penting, bagaimana dia tahu bahwa ada sesuatu yang pantas untuk dicarinya di dalam rumah ini?


Bagaimana dia tahu soal keberadaan Oleander?


"Ole mana?" tanya Angga di dekat telingaku.


"Dia ada di kamarnya. Tadi, setelah aku bawa dia ke sini, kami langsung siapin dia buat tidur. Thank God for that god damn bouncy monstrosity outside. Dia jadi gampang banget buat tidur."


Angga jadi ikutan terkekeh. "Akhirnya ada juga gunanya itu barang."


"He-eh."


Diam.


Diam yang terasa sangat janggal.


"Ngga?" Aku akhirnya menegakkan kepala dan melihat wajahnya. Wajah yang biasanya santai dan semringah, kini penuh dengan ketegangan. "Ada apa? Kamu kenapa?"


Angga menatapku dalam. Tatapan yang untuk pertama kalinya menggetarkan hati karena alasan yang tidak aku sukai. Aku tidak menyukai apa yang aku lihat di mata cokelat gelap yang tidak pernah gagal membuatku merasa dicintai. Namun, kali ini ....


"Ngga?"


Aku tidak menyukai sedikit pun apa yang aku lihat di sana.


****


Angga


Panggilan Olavia membuat dada gue semakin berat oleh rasa bersalah. Namun, tetap saja. Rasa takut akan konsekuensinya membuat bibir gue membeku, lidah gue kelu.


"Ya, udah. Mama ke luar dulu, ya."

__ADS_1


Gue tidak sadar kalau masih ada Mama di dalam kamar bersama kami.


"Duh, oke, Ma. Eh, sorry. Aku gak–"


"Udah, gak apa-apa." Mama berhenti sejenak untuk menepuk-nepuk lengan gue dengan lembut dan tersenyum. "Kalian ngomong dulu, gih, sana."


Diri ini semakin enggan kehilangan orang-orang yang sungguh luar biasa baiknya seperti calon mama mertua gue yang baru saja berlalu.


Bunyi klik yang lunak terdengar saat Mama menutup pintu di belakang kami.


Diam.


Diam yang sangat tidak mengenakkan.


"Ngga?" Olavia memanggil untuk yang ketiga kalinya.


Gue menatap mata wanita yang paling gue cintai di dunia ini itu dalam-dalam, menikmati indahnya manik-manik yang mungkin setelah ini tidak dapat gue lihat secara langsung lagi. Menyadari bahwa kemungkinan besar ini adalah kali terakhir gue melihat dia, gue benar-benar menggunakan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.


"Kamu bikin aku takut," akunya di kalakian dengan suara bergetar.


Gue sisipkan rambut Olavia yang lepas dari gulungan di puncak kepalanya ke belakang telinga. Mungkin ini juga merupakan kesempatan terakhir bagi gue melakukannya.


Cinta gue menutup matanya saat ujung jari gue menyentuh kulit pipinya.


Ini yang terakhir kali.


Tidak ada kesempatan lain selain ini.


Gue bisa merasakan mata gue mulai memanas. Panas yang akhirnya mencairkan kebekuan mulut dan lidah gue. Gue pasrah. Gue ikhlas. Jika tindakan gue ini pada akhirnya malah membuat gue kehilangan dia, gue ikhlas. Gue akui gue salah. Ini adalah akibat dari kesalahan gue sendiri. "Maafin aku, Sayang. I fxcked up."


Keningnya mulai berkumpul di antara alis yang terawat itu. "Apa maksud kamu, Yang?" Disentuhnya dagungue yang mulai bergetar juga. "Kok kamu nangis?"


Gue tertunduk seiring dengan air mata yang berjatuhan. Olavia segera menangkup wajah gue dan mengangkatnya kembali. "Sayang, kamu kenapa? Kamu kenapa nangis? Aku takut, Ngga. Kok kamu nangis gini?"


"Maafin aku, Yang." Gue menggenggam tangan yang masih berada di sekitar wajah gue itu. Gue Aku ... aku yang udah bikin Owen sampai ke rumah kamu."


"What?" Olavia berseru. Dari balik air mata yang menutupi, gue bisa melihat mata wanita pujaan gue itu membesar. "Apa maksud kamu, Ngga? Kenapa kamu yang udah bikin Owen sampai ke sini?"

__ADS_1


Gue menggeleng-gelengkan kepala dan berharap bayangan-bayangan soal apa yang gue lakukan sebelum ini bisa dihapus dari ingatan dan kenyataan.


"Ngga, apa maksud kamu? Kamu kenapa?" Dia terus mendesak gue. Kini kecemasan yang tadi sudah gue hapus dengan kehadiran gue malah kembali lagi. Dan gue rasa kekuatannya menjadi sepuluh kali lebih besar.


Kaki gue seketika terasa lemah. Sekonyong-konyongnya gue jatuh dan berlutut di depan dia. Gue peluk pinggang wanita gue itu. Gue benamkan muka gue ke perutnya. "Maafin aku, Yang. Aku gak bermaksud membuat semuanya menjadi seperti ini. Maafin aku, Yang. Aku minta maaf. Maafin aku. I am so fxcking sorry, Sayang. I'm so fxcking sorry I fxcked up."


Olavia menyisir rambut gue dengan jari-jari yang akhirnya berhenti di kepala gue bagian belakang. "Angga, please. You're freaking me out. Sayang, talk to me. Jelasin sama aku. Kamu ngomongnya gak jelas. Aku makin gak ngerti. Aku jadinya makin takut, Ngga."


Fxck. Gue semakin membuat dia semakin tersiksa. Gue tidak mau membuat dia semakin menderita. Gue tidak mau membuat dia menderita sedikit pun. Gue sungguh-sungguh mencintai dia.


Talk to her right the fxck now, Anggarasyah Emilio Addams!


"Aku ... aku ...."


Jelasin dari awal, Tolol!


"Aku ... aku udah bohong sama kamu."


Gerakan tangannya lantas terhenti setelah mendengar kalimat gue itu. "Bohong apa, Ngga?" Meski gue tahu dia sangat terkejut dengan pengakuan gue barusan, gue sangat bersyukur dia bisa mengendalikan diri dan mau mendengarkan kelanjutan cerita gue sebelum lari dan menjauh dari gue.


"Aku ... kemarin aku enggak bertemu dengan kolega aku. Aku ... aku pergi untuk menemui Owen."


Olavia tersentak. Dengan otomatis dia mendorong tubuh bahu gue agar bisa melepaskan pagutan gue dari sekeliling tubuhnya.


Oh, no. Akhirnya yang gue takutkan terjadi juga.


"Apa?" Dia bertanya lirih. Bahkan suaranya lebih halus lagi dari desir angin. Rasa tidak percaya telah membuat pita suaranya gagal mengeluarkan bunyi.


Gue berlutut di depan Olavia dengan kepala tertunduk dan rasa bersalah yang menggunung. Gue tidak percaya bahwa gue telah merusak kepercayaan orang yang sudah gue perjuangkan selama belasan tahun ini lagi.


Gue bisa merasakan penghujung hubungan kami seperti gue bisa merasakan angin yang berembus di kulit gue. Begitu dekat. Begitu nyata.


"Aku sengaja menemui Owen untuk meminta dia menandatangani surat pernyataan persetujuan pengangkatan anak yang sedang aku urus."


"Apa?!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2