Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
43. Berbahaya Namun Seksi


__ADS_3

Olavia


Kami pulang dan bertemu dengan Papa yang sedang mondar-mandir sendiri di ruang tengah. Bang Oli langsung menmberikan kode kepadaku untuk menghampiri orang tua laki-laki kami itu sementara dia memberikan isyarat kepada Angga untuk terus mengantarkan Oleander yang tertidur ke kamarnya.


Angga mengangguk dan segera menaiki tangga.


Kami mendekat ke arah Papa. "Mama mana, Pa?" selidik Bang Oli saat dia tidak menemukan perempuan yang paling disayanginya itu di dekat sang suami.


"Mama kalian udah tidur. Tadi Papa kebangun terus langsung ke sini karena gak mau ganggu." Setelah menjawab pertanyaan anak sulungnya, Papa menghentikan langkah hilir-mudiknya. Pria yang sudah berkepala lima itu pun kemudian mengembuskan napas panjang. "Baca ini." Papa memberikan ponsel miliknya kepada Bang Oli dan mulai berdiri dengan berkacak pinggang.


Aku tidak tahu bagaimana cara mengartikan sikap Papa ini. Biasanya Papa terlihat gelisah seperti ini ketika dia mendapatkan sebuah kasus yang besar. Biasanya Papa terlihat sangat tidak sabar seperti ini ketika dia akan melangkah ke ruang sidang esok harinya untuk pembacaan hasil dan tahu dia berhasil memenangkan kasus kliennya.


Namun, sekarang ini berbeda. Papa sudah tidak aktif lagi menangani kasus. Beliau malah tidak menyentuh hal-hal yang menyangkut dengan dunia hukum semenjak memutuskan untuk berhenti. Mungkin sesekali aku melihat Papa berdiskusi dengan Bang Oli, atau mencuri dengar pembicaraan di telepon dengan orang-orang yang aku kira adalah kolega atau juniornya dulu.


Apa yang bisa mengganggu Papa seperti ini?


"Son of a bitxh!" Tiba-tiba saja Bang Oli berseru.

__ADS_1


Aku sendiri yang berdiri di belakangnya berhasil dibuat terkejut oleh geraman yang memantul di dinding-dinding rumah itu. Otomatis aku melihat ke sekeliling, mencari Mama dan mengawasi ekspresi Papa. Namun, tidak ada yang oerlu dicemaskan. Aku baru ingat kalau tadi Papa sudah memberi tahu bahwa Mama sedang tidur di kamar mereka di bagian sayap barat rumah kami. Jadi, Papa pun tidak akan balik memarahi Bang Oli karena ucapannya tadi.


Sekarang aku benar-benar penasaran dengan apa yang mampu menyebabkan kedua orang anggota laki-laki keluarga Arifin yang terkenal tenang di tengah ruang sidang menjadi ganas dan buas di tengah rumah mereka sendiri pada malam ini.


"Dasar bxjingan sialan! Dia pikir dia siapa, ha? Bisa-bisanya dia mengirimkan pesan dengan nada pongah dan tidak sopan seperti ini kepada Papa. Kalau saja aku gak ingat dosa dan masalah yang akan muncul nanti, akan aku habisi dia malam ini juga!"


What the heck? Apa yang sedang mereka bicarakan?


Sentuhan lembut di punggungku seketika membuatku terperanjat.


Aku hanya bisa mengedikkan bahu dan mengembalikan tatapanku kepada dua orang yang berdiri beberapa langkah di depan kami. "Aku gak tahu. Tadi Papa ngasih ponselnya ke Bang Oli, terus Bang Oli juga jadi ketularan murka."


Setelah mengamati mereka sejumlah waktu kemudian, aku benar-benar menjadi terlalu ingin tahu sehingga tidak dapat mengendalikan apa yang aku lakukan. Kakiku mulai melangkah ke arah Papa dan Bang Oli. Namun, tampaknya Angga juga menyadari hal itu secara bersamaan dengan gerakanku sehingga dia dapat mencegahnya. "Sayang, tunggu dulu. Kamu gak usah ganggu mereka. Sebaiknya kita lihat saja di sini. Aku yakin kita akan mendapatkan penjelasan sebentar lagi."


Siapa pun di keluarga Arifin tahu bahwa kesabaran bukanlah salah satu yang termasuk dalam daftar keahlianku, akan tetapi Angga sudah menjadi master dalam hal tersebut. Dia akhirnya dapat meyakinkan aku bahwa menunggu adalah keputusan yang terbaik.


Jadilah. Aku dan Angga berdiri di sana, menunggu selesainya pertunjukan yang kami tonton bersama-sama. Tangan calon suamiku itu merangkulku di sekitar bahu dan menggosok-gosok lengan atasku ke atas dan ke bawah dengan lembut sebagai usaha untuk menenangkan ketegangan yang aku rasakan hanya dengan menjadi pengamat. Ketegangan yang aku rasa sebagai akumulasi dari rasa ingin tahu yang tinggi dan lamanya waktu yang kuhabiskan untuk menanti.

__ADS_1


Akhirnya, akhirnya Bang Oli berbalik ke arah kami dan menghela napas berat. Sadar atau tidak, dia juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Papa sebelumnya; berkacak pinggang. Namun, Bang Oli menambahkan memijit pelipis ke dalam urutan selanjutnya.


"What is going on?" Aku sudah tidak dapat lagi menahan diri. Rasanya diriku mau meledak karena saking banyaknya rasa ingin tahu yang menumpuk di dalam darah. I am tearing at the seams, that's what waiting anxiously makes me feel and I hate that feeling.


Bang Oli menengok kepada Papa. Saat kepala keluarga Arifin itu mengangguk sekilas, barulah Bang Oli mau bersuara lagi. "Owen nge-chat Papa in a very pretentious and xsshole-ish way. Dia bilang kalau gak bisa menemukan venue buat ketemuan. Oleh karena itu dia minta kita yang tentukan tempatnya di mana. Dia, dengan terang-terangan, juga membuat suggestion agar kita menggunakan Beniqno karena bisa dikatakan bahwa Anggalah yang menjadi dalang dari semua situasi yang ada sekarang."


Aku merasakan tubuh Angga seketika menegang setelah mengetahui bahwa Owen menyinggung namanya dalam pesan pribadi dia dan Papa. Kini gantian, giliranku yang mencoba meredam emosinya dengan mengambil tangannya yang semula diparkirkan di bahu kananku, menautkan jari-jemari kami, dan mengalihkan letak lengannya menjadi di sekeliling pinggangku. Genggaman tangan kami kini berada di atas perutku.


"Tapi, bukan itu aja." Bang Oli mengimbuhkan. "Dia juga minta diberikan sopir untuk transportasinya dari dan ke tempat pertemuan kita. And the icing on the cake is dengan beraninya dia mengancam Papa kalau-kalau keberadaan dia dan masalah ini tercium oleh media. Mantap gak, tuh?"


What. in. The. Actual. Hell? Serius dia mengatakan semua itu kepada Papa? Apa dia tidak tahu siapa Papa? Apa dia tidak tahu siapa keluarga kami? Apa dia tidak mengerjakan "pe-er"nya saat mencari alamat rumah ini? Aku tidak bisa memutuskan apa aku harus marah karena kelancangannya, atau tertawa karena kebodohannya, atau menangis karena aku sudah bisa memastikan bahwa semua itu tidak akan menjadikan keadaan lebih baik untuk dia dan bokong penuh skandalnya itu.


"Well, tunggu apa lagi?" Angga sekonyong-konyongnya membuka mulut dan berkomentar untuk pertama kalinya setelah beberan informasi yang diberikan oleh Bang Oli. "Gue udah gak sabar untuk mengembalikan bacotan songong artis baru ini ke dalam kerongkongannya sendiri. Atur pertemuannya besok. Jam berapa pun, terserah. Gue akan sterilkan Beniqno dari orang-orang gak berkepentingan selain kita. Dan untuk sopir, biar gue sendiri yang bakal jemput dan antar dia. Ke mana pun dia mau pergi."


Welp. Kalimat itu terdengar sangat berbahaya dan ... seksi ke luar dari mulut Angga.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2