
Olavia
"Ini rumah siapa, Bang?" Aku bertanya kepada Bang Oli dengan terheran-heran. Padahal tadi dia berjanji pada Oleander dan aku bahwa dia akan membawa kami ke tempat Angga, akan tetapi kenyataannya malah begini. Aku tidak percaya dia bisa mengajak kami mampir dulu ke rumah orang lain. Untung saja Oleander sudah tertidur saat baru beberapa saat berada di atas mobil, kalau tidak ... telinga Om Oli itu pasti sudah puas mendengar rengekan Oleander.
Ketika Bang Oli tidak menjawab, aku kembali meluncurkan serangan pertanyaan-pertanyaanku. "Bang! Ini rumah siapa, sih? Kenapa Abang bawa kami ke sini dulu? Kenapa pake acara mampir segala? Mending kita langsung ke tempatnya Angga aja, deh, Bang. Aku gak mau Oleander sampai ngamuk-ngamuk lagi kalau dia bangun nanti dan masih belum bisa ketemu sama papanya. Kasian dia nangis terus dari tadi pagi. Abang gak kasian apa sama keponakan sendiri? Ha?"
"Udah, kamu diam aja," jawab Bang Oli sambil memarkir mobil.
What? Kamu diam aja? Kamu diam aja?! Bang Oli baru saja benar-benar bilang kamu diam aja ke aku? IYA? The nerves of this man!
"Bang!" Aku berseru dengan setengah berbisik. Walaupun sudah terlanjur emosi, aku masih ingat dengan keberadaan anakku yang sedang terlelap di atas car seat-nya di kursi belakang. Aku tidak mau anak laki-lakiku yang lucu dan pintar itu terbangun karena mendengar suara teriakan mamanya.
Bang Oli hanya menoleh padaku dengan tampangnya yang tidak berdosa. Kedua alisnya terangkat, tinggi di dahi, seakan-akan bertanya, "Apaan, hm?"
Kupukul lengan Bang Oli yang sebesar cabang pohon itu. "Get out!" Lagi-lagi aku melakukan setengah berbisik setengah berteriak itu. "Get the hell out of the car. Aku mau ngomong sama Abang."
Jadilah, dengan perlahan aku buka pintu kursi penumpang di sebelah pengemudi dan kututup juga dengan sama pelannya. Setelah itu aku hampiri Bang Oli yang masih saja berlambat-lambat dalam bergerak. Ketika aku melihat kelakuannya, emosiku langsung naik ke ubun-ubun dan meledak dalam sekejap.
__ADS_1
"Abang, apa-apaan, sih, Bang!" Pada titik ini sebagian besar dari kalimatku akan diakhiri oleh tanda seru. "Abang gak lihat Oleander dari tadi udah nangis-nangis pengen ketemu papanya? Dan Abang udah janji sama dia mau bawa dia ke tempat papanya. Tapi, bisa-bisanya Abang bawa kami mampir ke sana-sini dulu sebelum beneran berangkat ke tempat Angga! Abang kenapa, sih? Abang gak kasian apa sama anak aku? Abang gak kasian apa lihat dia nangis-nangis dari tadi sampai baru beberapa menit aja naik mobil udah ketiduran? Abang gak kasian apa sama aku, Bang? Gak cuma Oleander aja yang kangen sama papanya, Bang! Aku juga kangen banget sama Angga. Aku mau menyelesaikan apa yang udah aku sebabkan di antara kami ini secepatnya jadi kita bisa move on ke urusan yang lain! Aku gak ngerti jalan pikiran Abang gimana. Aku gak ngerti lagi. Di mana perasaan Abang? Di mana, ha? aku ini adik kandung Abang lho, Bang! Yang di dalam mobil itu keponakan Abang! Tapi ... tapi, kenapa–"
Meskipun sudah sebanyak itu yang ke luar, akan tetapi aku masih belum selesai. Agaknya Bang Oli tahu akan kenyataan ini. Oleh karena itu dia memotong kalimatku dengan cara memutar badanku secara tiba-tiba. Belum sempat lagi aku menyemprotnya untuk tindakan kurang ajar yang baru saja dia lakukan, pandangan mataku jatuh pada sesuatu di depan sana yang membuatku kehilangan kata-kata.
What?!
****
Angga
Entah apa yang membuat gue akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran yang disampaikan oleh Oliver secara berbelit-belit tadi. Yang jelas, gue telah selesai mandi dan berganti pakaian ketika mendengar suara orang yang sedang ribut-ribut di depan rumah gue.
Pikiran-pikiran yang berkelebat di kepala gue itu membuat langkah gue semakin terburu. Dengan cepat gue menuruni anak tangga—gue sampai melompati dua anak tangga sekaligus karena saking anxious-nya, dan tak lama kemudian gue menelan anak tangga terakhir. Di lantai dasar, gue juga mengambil langkah yang besar-besar.
Semakin dekat gue ke pintu depan, semakin jelas suara yang terdengar sedang meracau itu. Semakin gue dengar, lengkingannya semakin terdengar familier. Siapa, sih, sebenarnya yang berlagak seperti sedang berunjuk rasa di luar sana?
Alangkah terkejutnya gue ketika gue membuka pintu dan menemukan apa, atau siapa, yang sedang marah-marah di halaman rumah gue.
__ADS_1
Oh, my fxcking God. Gue tidak tengah bermimpi, kan?
****
Olavia
"Angga?" Aku terkesiap ketika otak ini akhirnya selesai memproses informasi apa yang dilihat oleh mata. Angga, yang menggunakan sweatpants abu-abu dan baju kaus putih polos dan sedang menggosok-gosok rambutnya dengan handuk, sedang berdiri di depan pintu yang baru saja terbuka.
Laki-laki itu kini berjalan ke arahku, ke arah kami. Ekspresi tercengang yang ada di wajahnya mungkin sama seperti yang aku pakai sekarang di mukaku jika tidak lebih. "Sayang?" ungkapnya dengan lirih. Rasa tidak percaya mewarnai nada suaranya.
Tanpa berpikir panjang, karena otakku sudah korslet sebab tiga hari ini tidak bertemu atau berkomunikasi dengan calon suamiku itu, langsung saja aku berjalan untuk menyongsong dia karena menunggunya sampai di tempaku berdirinya barang sedetik dua detik lagi rasanya sedetik dua detik terlalu lama dan sekonyong-konyongnya aku menghambur ke dalam pelukan pria itu. Sebuah "omph" terlepas dari dadanya ketika tubuhku menghantam tubuh Angga dengan keras.
Aku tak peduli. Yang kupedulikan hanyalah bahwa kini aku sudah kembali ke tempat di mana seharusnya aku berada selama ini. Bukan di rumahku dengan rasa rindu yang menyayat hati, bukan dengan Oleander yang ikut tersiksa karena ikut serta merasakan kekosongan yang ditinggalkan oleh Angga tanpa kehadirannya. Namun, di sini. Di sela antara dada dan lengannya, di antara bahu dan lehernya.
Kuhirup aroma fresh dari sabun dan sampo yang dia gunakan dalam-dalam, sampai aku yakin tidak ada satu sudut pun di dalam paru-paruku yang tidak diisi oleh wangi Angga.
Yang membuat hatiku bernyanyi dengan riang adalah pelukan Angga di sekeliling tubuhku yang terasa sama eratnya. Disembunyikannya wajah yang bersih dari rambut-rambut halus itu di lekuk leherku, lalu dihelanya napas panjang. Berkali-kali. Bukti bahwa dia juga merindukan aku dengan cara yang sama.
__ADS_1
Tidak ada yang lebih indah dari ini.
Bersambung ....